Jathilan pada mangayubagyo di Pakualaman

0
224
Gerak manis jathilan - Foto Barata
Gerak manis jathilan - Foto Barata

Di Yogyakarta seni jathilan kerap dipentaskan. Namun terasa istimewa ketika dipilih untuk membuka acara mangayubagyo pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Pakualaman. Mengapa? Karena di satu sisi jathilan respresentasi kesenian rakyat, sedangkan di sisi lain Gubernur Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Wagub Gusti Kanjeng Pangeran Adipati Aryo Pakualam X adalah bangsawan istana. Dan istana di Yogya, baik Keraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman, mempunyai seni tari sendiri. Beberapa di antaranya malah hanya bisa dipentaskan di istana.

Jathilan merupakan kesenian rakyat yang diciptakan oleh rakyat di luar tembok istana, dan akrab dengan masyarakat. Mungkin bisa digolongkan sebagai counter culture kesenian istana. Seperti dikutip pakar jathilan Kuswarsantyo dalam penelitiannya, Budi Setiono menyebutkan perlawanan yang muncul dari visualisasi pertunjukan jathilan adalah penggunaan asesoris busana, kacamata hitam yang tidak lazim digunakan untuk seni klasik di keraton. Demikian pula, menurut Budi, pola koreografinya tidak mengikuti pola pakem seni tradisi yang ada di dalam keraton.

Empat warna yang merepresentasikan nafsu - Foto Barata
Empat warna yang merepresentasikan nafsu – Foto Barata

Toh justru seni jathilan yang dipilih untuk memeriahkan manguyubagyo di Alun-alun Sewandanan Pakualaman Oktober lalu. Penampilan yang memikat dibawakan oleh kelompok jathilan Turangga Jati dari Nglipar, Gunung Kidul. Kelompok ini sebelumnya menyabet juara pertama pada Festival Jathilan sekabupaten Gunung Kidul. Prestasinya terbukti dengan kemampuannya menjerat perhatian penonton dalam durasi sekitar satu jam.

Keperkasaan prajurit turangga - Foto Barata
Keperkasaan prajurit turangga – Foto Barata

Kuswartantyo membagi jathilan dalam tiga bentuk berdasarkan fungsinya, yakni untuk ritual, hiburan dan festival. Bentuk sajian ritual monoton, hiburan variatif, dan festival dramatik. Adegan trance (ndadi) terjadi untuk fungsi ritual. Sedangkan untuk hiburan, bisa terjadi karena situasi, dibuat (di-stroom) atau akting. Sementara untuk festival, tidak ada adegan trance. Pementasan Turangga Jati tidak memasukkan adegan trance. Tidak terdengar pula bunyi cetar desing pecut. Mereka fokus pada kekayaan gerak yang menarik dan estetik. Iringan musiknya rancak, tidak monoton sebagaimana pada jathilan ritual.

Konten Terkait:  Yudhis, Halida dan Wekadigunawan dalam Puisi Rock
Memberi salam - Foto Barata
Memberi salam – Foto Barata

Penampilan mereka tetap berada pada koridor pakem jathilan. Seperti biasanya pemain jathilan dibagi dalam dua kelompok yang kemudian berperang. Kali ini ditambahkan empat pemain tunggal bertopeng sebagai representasi nafsu manusia, yang masing-masing mengenakan kostum berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Keempat warna ini pun saling bertarung, yang pada akhir pementasan dimenangkan oleh tokoh berkostum putih.

Pementasan jathilan ini pada akhirnya tidak sekadar hiburan. Namun membawakan misi nilai-nilai yang berkaitan erat dengan kepemimpinan. Metafora warna menjadi substantif. Merah melambangkan nafsu amarah, hitam (alawamah) iri dan dengki, kuning (supiyah) kesenangan duniawi, sedangkan putih (mutmainah) kepasrahan kepada Tuhan.

Dipilihnya jathilan pada mangayubagyo ini agaknya didasari alasan yang jelas. Tajuk ‘Gelar Budaya Rakyat’ menunjukkan keinginan Gubernur dan Wagub DIY untuk mengundang rakyat untuk berpartisipasi. Seperti dikatakan koordinator acara, Widihasto Wasana Putra, acara ini menjadi ajang untuk mempererat hubungan antara masyarakat, Kesultanan Yogya, dan Kadipaten Pakualaman.

Salah satu gerak yang mendapat aplaus penonton - Foto Barata
Salah satu gerak yang mendapat aplaus penonton – Foto Barata

Selain jathilan, juga tampil kesenian tradisional lokal dari empat kabupaten/kota lainnya, yakni angguk dari Kulonprogo; gejog lesung dari Bantul; reog dari Sleman dan ketoprak ongkek dari Kota Yogya.Ditutup dengan pementasan wayang kulit dengan dalang muda Ki Catur Benyek Kuncoro. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here