YIAF 2017 Silaturahmi Seni Antarnegara di Yogyakarta

0
36
Indonesian Dancer, Acryllic on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Dana Ortelecan. Foto: A. Sartono
Indonesian Dancer, Acryllic on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Dana Ortelecan. Foto: A. Sartono

Mulai 22 Oktober-22 November 2017 dunia kesenian Yogyakarta kembali dihangatkan dengan perhelatan YIAF (Yogyakarta International Art Festival). YIAF 2017 memamerkan karya-karya 34 perupa dari 16 negara, termasuk Indonesia.

Gelaran tahun 2017 ini mengalami penurunan jumlah peserta dan jumlah karya dimana pada tahun sebelumnya diikuti oleh 54 perupa dari 22 negara. Hadi Soesanto yang akrab dipanggil Hasoe selaku penggagas acara ini menjelaskan bahwa penurunan jumlah peserta bukan karena adanya pembatasan, namun karena faktor-faktor teknis. Di antaranya ada yang mendadak mempunyai keperluan lain sehingga membatalkan keikutsertaannya. Selain itu, biaya transportasi dari negara masing-masing ke Indonesia juga tidak murah. Hal itu juga menjadi kendala.

Gelaran di tahun kedua ini melakukan aktivitas berkarya bersama di Omah Petruk, Karangkletak, Pakem, Sleman selama 5 hari mulai tanggal 22-26 Oktober 2017. Hasil karya mereka itulah yang kemudian dipamerkan di Jogja Gallery. Tidak ada tema tertentu yang disarankan oleh pihak penyelenggara. Semua seniman dibebaskan untuk memilih temanya sendiri.

Borobudur I, Mix Media on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Casey Chen. Foto: A. Sartono
Borobudur I, Mix Media on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Casey Chen. Foto: A. Sartono

Tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah mengajak para seniman untuk saling berinteraksi dan saling bertukar pikiran. Indro “Kimpling” Suseno selaku Direktur Jogja Gallery antara lain menyampaikan bahwa ia sangat mendukung acara ini. Indro juga menyarankan agar masing-masing seniman tidak hanya membuat satu buah karya, namun dua karya agar bisa memenuhi ruang di Jogja Gallery yang cukup luas. Dengan demikian, setidaknya aka nada 68 karya yang dipamerkan di Jogja Gallery.

Jay, Acryllic on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Nomar Bayog Miano. Foto: A. Sartono
Jay, Acryllic on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Nomar Bayog Miano. Foto: A. Sartono

Lebih lanjut Indro Kimpling juga menyatakan bahwa gelaran seperti itu dapat menjadi sarana untuk mempersatukan antarbangsa dan negara. Acara ini menjadi jembatan yang menyatukan seniman dari berbagai negara. Pameran ini juga menjadi salah satu bukti bahwa kesenian mampu mempersatukan segala macam bentuk perbedaan dari masing-masing bangsa dan negara.

Karya-karya yang dipamerkan ini merupakan hasil pertukaran pikiran dan buah-buah dialog serta persinggungan antarseniman dari 16 negara dimana mereka selama lima hari berkarya dan tinggal bersama di Omah Petruk. Ada pun 16 negara yang terlibat dalam perhelatan yang diwakili oleh masing-masing senimannya adalah Indonesia, Australia, China, Nepal, Bangladesh, India, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Romania, Taiwan, Jepang, Belanda, dan Irlandia Utara.

Solidaritas untuk Bali (Benoa), Stencil Art on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Digie Sigit. Foto: A. Sartono
Solidaritas untuk Bali (Benoa), Stencil Art on Canvas, 80 x 100 cm, 2017, Digie Sigit. Foto: A. Sartono

Sedangkan para seniman yang terlibat di dalamnya adalah Kim Glodsmith, Michelle Dawson, Golam Faruque Sakkar, Khadiza Tun Numani, Inza Yin Yan Liu, Marianne Venderbosch, Rita Van Vegchel, Binoy Varghese, Durgesh Birthare, Rajesh Kumar Yadav, Ritika Anand, Digie Sigit, Ugy Sugiarto, Kartini Basuki, Yukari Itoga, Ho Mei Kei, Lousie Low, Erina Tamrakar, Pramila Brajacharya, Tommy Barr, Ivy Marie Apa, Nomar Bayog Miano, Dana Ortelecan Ana Pantea, Casey Chen, Jenny Sim, Wei Lee Yinan Yao, Pongpan Chantanamatiha, Prajak Supantee, Nguyen Thi Hoang Minh, Nguyen Thi Mai, dan Pham Huy Thong.

Suasana pameran Yogyakarta International Art Festival di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono
Suasana pameran Yogyakarta International Art Festival di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono

Apa yang dirasakan, dialami, dihayati, dilihat, dan diamati para seniman dari berbagai negara yang melakukan semacam kemah seni di Omah Petruk selama lima hari kiranya menjadi salah satu inspirasi atau bahan bagi lahirnya karya-karya mereka. Hal demikian juga menjadi salah satu cara bagaimana masing-masing seniman saling mengapresiasi latar belakang, suasana masing-masing negara yang menjadi asal dari masing-masing seniman. Perhelatan dua tahunan ini diharapkan dapat berjalan rutin. Bahkan ada harapan bahwa acara ini dapat diikuti oleh 100 negara di masa mendatang. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR