Sesotya Alengka (Megananda Jurit), Kejahatan Pasti Terkalahkan

0
68
Dewi Sinta (kemben hijau) yang dikawal Trijata sedang digandrung oleh Rahwana. Foto: A. Sartono
Dewi Sinta (kemben hijau) yang dikawal Trijata sedang digandrung oleh Rahwana. Foto: A. Sartono

Pasukan Kerajaan Alengka sudah terdesak oleh pasukan Ayodya-Pancawati. Banyak senapati dan prajurit gugur. Senapati andalan Alengka sudah habis. Rahwana akan maju sendiri ke medan laga. Di tengah kegelisahan dan kemarahan yang memuncak itu, tiba-tiba Indrajit Megananda menghadap. Putra mahkota Alengka ini menawarkan diri untuk menjadi senapati agung Alengka. Rahwana menyangsikan kemampuan Indrajit. Indrajit tersinggung dan merah. Ia melepaskan anak panahnya, Nagapasa. Seketika Alengka terancam oleh munculnya naga sebesar pohon kelapa yang sakti luar biasa. Rahwana pun takut. Apalagi rakyat biasa. Rahwana mengakui kemampuan Indrajit dan kemudian mengangkatnya sebagai senapati agung Alengka.

Dengan panah Napasa itulah Indrajit maju ke medan perang. Pasukan Ayodya-Pancawati dengan senapati agung Raden Lesmana dibuat kocar-kacir. Panah Nagapasa tidak tertandingi sementara Indrajit yang dikerubut Anoman dan Lesmana tetap mampu menandingi kesaktian keduanya. Korban prajurit di pihak Ayodya-Pancawati kian banyak. Indrajit kian mengamuk tak terkendali. Melihat keadaan demikian, Gunawan Wibisana yang sesungguhnya adalah adik Rahwana mendekati medan perang. Wibisana menyambangi Indrajit. Indrajit yang didatangi pamannya menghentikan kemarahannya. Keduanya berdialog. Pada titik inilah Wibisana bercerita panjang lebar mengenai jati diri dan asal-usul Indrajit.

Indrajit mengakui kekeliruan dan minta dikembalikan ke asal-usul pada Gunawan Wibisana. Foto: A. Sartono
Indrajit mengakui kekeliruan dan minta dikembalikan ke asal-usul pada Gunawan Wibisana. Foto: A. Sartono

Indrajit adalah awan yang dipuja (didoakan) oleh Wibisana sehingga menjadi seorang jabang bayi pria. Ia diletakkan di atas pangkuan Dewi Tari dimana Dewi Tari baru saja melahirkan bayi perempuan yang akan diambil sebagai istri Rahwana karena bayi tersebut adalah titisan bidadari, Dewi Widowati. Untuk menyelamatkan keadaan itu, Wibisana memuja awan yang kemudian menjadi bayi yang dinamakan Indrajit Megananda. Bayi Indrajit akan dimusnahkan oleh Rahwana, namun usaha itu justru menjadikan Indrajit tumbuh dewasa dan sakti.

Raden Lesmana, Sugriwa, dan Prabu Ramawijaya. Foto: A. Sartono
Raden Lesmana, Sugriwa, dan Prabu Ramawijaya. Foto: A. Sartono

Mengetahui akan jati diri dan asal-usulnya yang demikian, Indrajit merasa malu dan bersalah telah membela Rahwana yang penuh angkara murka. Ia juga menjadi tahu bahwa ayahnya adalah Wibisana. Untuk itu ia meminta kepada ayahnya untuk dikembalikan ke asal-usulnya. Ia menjadi tidak rela dan malu karena harus membela angkara murka. Wibisana menyanggupinya. Indrajit kembali ke asal-usulnya, awan. Itulah sebabnya Indrajit diberi nama tambahan Megananda yang artinya adalah awan. Demikianlah kisah dari lakon Sesotya Alengka (Megananda Jurit) yang dipentaskan oleh Paguyuban Wayang Wong Panca Budaya di Pendapa Wiyatapraja, Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta, Rabu malam, 8 November 2017.

Trijata (merah) dan Dewi Sinta (hijau). Foto: A. Sartono
Trijata (merah) dan Dewi Sinta (hijau). Foto: A. Sartono

Pementasan itu sebagai bagian dari kegiatan Jogjakarta International Heritage Festival 2017 yang dalam rangkaian acara itu dirayakan pula penetapan wayang sebagai warisan dunia. Perayaan itu dilaksanakan tanggal 5 November 2017 dengan mengambil tempat di Plasa Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Pementasan wayang orang Panca Budaya juga merupakan bagian dari perayaan akan penetapan wayang sebagai warisan dunia tersebut. Hari Wayang Internasional jatuh pada tanggal 7 November. Oleh karena itu pula JIHF diselenggarakan mulai tanggal 5-11 November 2017. Sedangkan mata acara dalam kegiatan itu di antaranya adalah pementasan wayang kulit, wayang hip hop, wayang wong, wayang preman, workshop wayang sodo, seminar, pameran, gelar sanding dalang 1000 bocah, dan lain-lain.

Sebagian penari (pelaku) Wayang Orang Panca Budaya berfoto bersama di Pendapa Wiyatapraja Kepatihan Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Sebagian penari (pelaku) Wayang Orang Panca Budaya berfoto bersama di Pendapa Wiyatapraja Kepatihan Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Kegiatan JIHF itu bertujuan untuk melestarikan pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional wayang, mengenal dan mempublikasikan nilai penting dan keragaman wayang serta meningkatkan dan memperkuat upaya pelestarian dan pengelolaan wayang yang melibatkan pemerintah dan masyarakat. Demikian antara lain pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono. (*)

Peperangan prajurit Alengka dan Ayodya-Pancawati. Foto: A. Sartono
Peperangan prajurit Alengka dan Ayodya-Pancawati. Foto: A. Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR