Half-Light, Urip dan Kemuraman dalam Karya Pupuk DP

0
46
Aborsi, Acryllic on Canvas, 150 x 110 cm, 1999, karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono
Aborsi, Acryllic on Canvas, 150 x 110 cm, 1999, karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono

Memahami karya-karya rupa Pupuk Daru Purnomo layaknya memahami urip. Kata atau istilah urip dalam bahasa Jawa tidak hanya berarti tidak mati atau hidup belaka. Jika orang Jawa menyatakan kata urip itu artinya sama saja ia mengatakan seribu kata yang sama sekali belum bisa mengungkapkan kekayaan yang terkandung dalam kata itu. Urip atau hidup itu nyata namun nyatanya urip itu juga rahasia tersembunyi yang tidak pernah bisa ditangkap hanya sebagai nyata.

Urip itu sendiri tidak pernah bisa kita pahami hanya dengan kepala. Apa yang dipikirkan kepala sebagai yang benar belum tentu baik bagi hati manusia. Sebaliknya, apa yang dirasa sebagai baik oleh hati manusia belum tentu benar bagi pikirannya. Baik dan benar itu sudah jelas dengan sendirinya, tetapi dalam hidup baik dan benar itu tidak pernah jelas. Orang akan sulit mengambil langkah ketika dua nilai itu berbenturan, yang baik belum tentu benar dan yang benar belum tentu baik. Hal semacam itulah yang digarap Pupuk DP dalam karya-karyanya.

Gereja di Viena, Acryllic on Canvas, 200 x 150 cm, 2017 (private collection) karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono
Gereja di Viena, Acryllic on Canvas, 200 x 150 cm, 2017 (private collection) karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono

Karya-karya Pupuk DP menggoda orang untuk menggunakan akal dan pikiran, namun pada saat yang sama juga memojokkan kita untuk menggunakan hati dan perasaan. Keduanya beraduk. Pada sisi ini Pupuk DP sepertinya memang suka mengajak orang untuk mengkritisi pikiran. Bila orang banyak memakai pikiran hidup menjadi banyak berbeban dan kaki pun tidak kuat menahan. Bila kita banyak mamakai hati, hidup kita mungkin ringan, namun sekaligus kurang jelas dan suram. Repotnya pula pertentangan-pertentangan itu harus kita alami sekaligus. Di dalam karya Pupuk DP kita bisa membaca betapa kita seringkali menjadi makhluk yang tidak jelas, setengah hati, setengah akal, lalu akhirnya bentuk tubuh dan wajah kita menjadi tidak karu-karuan. Itulah realitas urip yang harus ditanggung.

Pupuk Daru Purnomo dan Rm GP Sindhunata SJ dalam pembukaan pameran senirupa Half Light di BBY-Foto-A.Sartono
Pupuk Daru Purnomo dan Rm GP Sindhunata SJ dalam pembukaan pameran senirupa Half Light di BBY-Foto-A.Sartono

Pupuk DP mengajak kita untuk melihat sesuatu bukan hanya sebagai benda. Kita diajak untuk melihat sesuatu itu dengan lebih kaya. Lihatlah boneka itu (atau benda/makhluk lain), siapa tahu di situ tersimpan sagala kenangan yang pernah kita alami sebagai manusia. Pada sisi lain Pupuk DP juga pandai menyeramkan apa yang dianggap biasa. Hal ini bisa dilihat pada karyanya yang berjudul Aborsi. Karya tersebut tidak hanya menampilkan peristiwa aborsi, namun ekspresi wajah perempuan dan warna-warna yang meliputinya mengajak orang untuk membayangkan betapa wanita itu harus bergulat dengan dendam, sakit hati, perasaan dosa dan bersalah, kemarahan, kekerasan, serta keputusasaan.

Last Man Standing, Bronze, 185 x 70 x 65 cm, 2017, karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono
Last Man Standing, Bronze, 185 x 70 x 65 cm, 2017, karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono

Karya seni memang tidak perlu membuat pertanggungjawaban terhadap hidup. Oleh karena itu Pupuk DP hanyalah memaparkan betapa ngerinya ketika kita harus memberi pertanggungjawaban terhadap hidup, ketika hidup yang tak bersalah itu harus kita aborsikan dan kita buang.

Dalam karya Pupuk DP tubuh perempuan tidak hanya ditangkap sebagai indah, sensual, dan merangsang gairah. Tubuh itu juga menyimpan derita dan duka yang sering dialami wanita. Maka tubuh itu terasa muram. Oleh karena itu kita terpaksa (lagi) harus menerima kemuraman, duka, dan derita itu, justru ketika kita menikmati keindahan dan sesualitasnya, ketika kita terangsang oleh gairahnya. Pupuk DP mengajak kita merasakan hidup ini dalam keambiguannya. Demikian pengantar Romo GP Sindhutana SJ dalam pembukaan pameran lukisan karya Pupuk Daru Purnomo di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu malam, 4 November 2017.

Pucat Pasi, Acryllic on Canvas, 130 x 90 cm, 2017 karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono
Pucat Pasi, Acryllic on Canvas, 130 x 90 cm, 2017 karya Pupuk DP-Foto-A.Sartono

Pameran bertema Half Light karya Pupuk DP ini berlangsung 4-11 November 2017. Dalam penutup pengantarnya Romo Sindhunata juga menyampaikan puisinya dimana mungkin penggal puisi terakhir semakin menandaskan dunia yang digambarkan Pupuk DP dalam karyanya. Penggal kalimat terakhir dalam puisi itu sebagai berikut.

… anakku berkata lagi dan lagi
dunia ini ternyata tak hanya berisi
ice cream dan pelangi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR