Fatamorgana Tulus Warsito di Albert Gallery Kota Tangerang

0
91
tulus warsito, seniman sekaligus profesor ilmu politik
tulus warsito, seniman sekaligus profesor ilmu politik

Ini kali ke-14 Tulus Warsito (64) menggelar pameran tunggal, yang digelar di Albert Gallery, Jalan Jalur Sutera Kav 16A No 7, Serpong, Kota Tangerang, Banten, pada 11 – 25 November 2017. Pameran tunggal bertajuk “Fatamorgana” ini akan dibuka oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Hilmar Farid.

Tulus Warsito berpameran tunggal pertama kali pada tahun 1974 di Rouge Gallery, Medford, Oregon, Amerika Serikat, kala berusia 21 tahun. Sedangkan pameran tunggal Tulus Warsito “terbaru” atau yang ke-13 terjadi pada tahun 2009. Antara pameran tunggal yang ke-13 dengan yang ke-14, sekarang ini, terentang waktu yang relatif lama; 8 tahun. Rentang waktu 8 tahun ini terkesan tidak biasa, dibandingkan dengan urutan pameran tunggal sebelumnya yang berjarak rata-rata hanya 3 tahun.

Mengapa ada “jeda” yang terkesan lama? Mas Tulus, begitu ia akrab disapa, tidak beristirahat di masa jeda itu. Ia justru terus bereksplorasi dalam dunia seni, sekaligus sebagai seorang akademisi. Dua dunia ia jalani sekaligus.

Blowing in the wind 90x 90 (cm) acrylic on canvas 2017
Blowing in the wind 90x 90 (cm) acrylic on canvas 2017

Puncak penyatuan dua dunianya itu ia tandai dengan pameran tunggalnya yang ke-13, yang digelar dalam rangka pengukuhannya sebagai guru besar (profesor) dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Gelar profesor merupakan pengakuan akademis tertinggi akan kepakaran seseorang dalam bidang tertentu. Pengakuan akademis tersebut ia dapat dalam bidang ilmu politik (hubungan internasional), dan diplomasi kebudayaan.

Lightning (halilintar) 150 x 200 (cm) acrylic on canvas 2017
Lightning (halilintar) 150 x 200 (cm) acrylic on canvas 2017

Seni adalah dunianya yang pertama, yang membawa Mas Tulus menjadi dosen tamu di bidang seni rupa oriental di sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat tahun 1977, setelah ia mengenyam sebentar bangku kuliah di jurusan seni patung STSRI-ASRI (kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ilmu politik menjadi dunianya yang kedua, yang ia jalani bersama dengan dunia pertama, dari strata 1 hingga S3 di Universitas Gadjah Mada sekaligus sebagai pengajar tetap di UMY.

Dua dunia yang menyatu pada diri Tulus Warsito, menurut istilah sang kurator pada pameran tunggalnya yang ke-14, yakni Prof M Dwi Marianto MFA, PhD (dosen ISI Yogyakarta), adalah dualitas seorang Tulus Warsito. Dualitas yang tercermin dalam karya Mas Tulus, berupa image dari obyek-obyek abstrak (garis-garis dan/atau titik-titik) berwarna terang dan gelap, adalah karya ciri khasnya.

rain over the hill (hujan di atas bukit) 190 x 190 (cm) acrylic on canvas 2017
rain over the hill (hujan di atas bukit) 190 x 190 (cm) acrylic on canvas 2017

“Kedua obyek terang-gelap itu dapat ditafsirkan sebagai benda dan bayangan; ini adalah dualitas yang selalu ada bersama-sama guna saling melengkapi. Dualitas inilah yang telah Tulus Warsito jalani sejauh ini; ia sejatinya seorang seniman yang selalu bergerak mencari hal-hal baru untuk dinyatakan. Pada saat yang sama ia seorang dosen yang berpredikat guru besar bidang diplomasi kebudayaan dan ilmu politik,” tulis Dwi Marianto dalam buku katalog pameran bertajuk “Fatamorgana.”

snail 60 x 60 (cm) acrylic on metal 2014
snail 60 x 60 (cm) acrylic on metal 2014

Seniman-ilmuwan Yogyakarta yang dilahiran di Sragen, Jawa Tengah, 10 Oktober 1953 itu memang benar-benar konsisten dengan dualitas tersebut. Gelap terang yang menciptakan kesan tiga dimensioanal. Konsistensi itu ia wujudkan dalam aneka rupa medium, mulai kali pertama melalui medium kain (batik), kanvas, hingga logam (besi, aluminium), yang disebut Dwi Marianto sebagai “ilusi optis,” sekaligus penanda: itulah karya khas Tulus Warsito. (*)

sun flower 60 x 100 (cm) acrylic on canvas 2017
sun flower 60 x 100 (cm) acrylic on canvas 2017

 

the spring time-1 130 x 130 (cm) acrylic on canvas, 2007
the spring time-1 130 x 130 (cm) acrylic on canvas, 2007

TINGGALKAN KOMENTAR