Monolog Puisi dari Butong di Tembi

0
101
Butong memonologkan puisi karya Resmiyati, foto Indra
Butong memonologkan puisi karya Resmiyati, foto Indra

Panggilannya Butong, kependekan dari Budi Tongkat. Ia sehari-hari memang menggunakan tongkat. Tanpa tongkat, jalannya akan terganggu. Butong salah satu dari sejumlah anggota Diffcom, atau diffabel Community. Butong memang sering datang ke Tembi, sekadar main, atau mengajak teman-temannya diffabel untuk membuat kegiatan di Tembi Rumah Budaya, pameran misalnya, atau pentas seni.

Kali ini ini, Butong tampil di Sastra Bulan Purnama edisi ke-74, dengan mengolah puisi berjudul ‘Hati’ karya Resmiyati, yang diluncurkan dalam acara ini menjadi satu pertunjukan monolog, Jumat, 3 November 2017 di Tembi Rumah Budaya. Puisi Resmiyati memang bersifat prosais, jadi lebih pas diolah dalam pertunjukan drama atau monolog seperti pilihan Butong.

Kenapa Butong?

Sederhana saja alasannya, pada Sastra Bulan Purnama edisi pertama, yang diselenggakan bulan Oktober 2011, Butong bersama komunitas diffabel tampil dengan mengolah puisi Rendra menjadi satu pertunjukan teater, dengan demikian Butong bukan sekadar coba-coba mengolah puisi sebagai satu pertunjukan teater, dan ketika dia diminta untuk mengolah puisi Resmiyati, dengan segera dia menerimanya.

Tentu, Butong tidak sendirian. Ada Ana Ratri, yang mendampinginya, sekaligus menyiapkan nasakah puisi menjadi satu bentuk pertunjukan. Ana Ratri seorang pemain teater di Yogya, dan yang mendampingi Diffcom. Maka, pertunjukan monolog Butong di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, memang dipersiapkan.

Naik ke panggung, mengenakan kemeja putih dengan mengalugnkan tas warna hitam sambil membawa tongkat, Butong terjatuh. Antara tidak sengaja jatuh dan akting telah menjadi satu, dan Butong segera berdiri berjalan sambil menerima telepon. Lalu dia duduk dan melepas kemeja putih yang dikenakan serta meletakkan tas hitam. Kaos warna putih menggantikan baju yang dilepas.

Butong sedang melukis wajah Resmiyati diiringi gesekan biola Doni Onfire, foto Indra
Butong sedang melukis wajah Resmiyati diiringi gesekan biola Doni Onfire, foto Indra

Sambil terus berbicara, Butong melepas sepatu yang dikenakan, termasuk kaus kaki yang dikenakan, meletakkannya di lantai. Butong meneguk segelas kopi yang sudah tersedia di meja, sambil sesekali berbicara, dan diselingi dengan menyulut sebatang rokok. Menghisapnya, tentu, di sela-sela itu dia terus berbicara, seolah sedang berdialog.

Butong menjalaninya dengan penuh kesadaran, meskipun awalnya terasa agak gugup, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat. Itu semua, agaknya, cara Butong mengenali suasana, dan ketika suasana sudah masuk dalam dirinya, dan dia merasa nyaman di tengah penonton yang menyaksikan. Terlihat, Butong mulai mantap memainkan monolog dari puisi berjudul ‘Hati’ karya Resmiyati.
Gesekan biola dari Doni Onfire, kiranya menambah pertunjukan Butong menjadi hidup, dan ketika Butong melukis, dia sedang memvisualkan kisah dalam satu cerita, yang sedang dimainkan, dan gambar lukisan itu adalah wajah Resmiyati, penyair yang puisinya digarap menjadi monolog oleh Butong.

Tentu, Resmiyati surprise, lebih-lebih lukisan itu kemudian diserahkan Resmiyati, menambah rasa haru semakin membucah. Selain puisi karyanya ‘dihidupkan’ dalam pertunjukan, rupanya rangkaian dari pertunjukan ada lukisan wajah Resmiyati.

Butong, memiliki bakat keaktoran. Rasanya, pilihan untuk mengolah puisi menjadi pertunjukan bagi Butong perlu diteruskan. Yang lain silakan ambil pembacaan puisi, tetapi bagi Butong pertunjukan puisi dalam bentuk monolog adalah jalan yang tidak perlu ditinggalkan, malah sebaliknya terus ditekuni. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR