Rindu Bulan Purnama di Tembi

0
268
Ristia Herdiana, foto Indra
Ristia Herdiana, foto Indra

Ristia Herdiana, perempuan penyair yang tinggal di Jakarta, dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-74, yang diselenggarakan pada Jumat, 3 November 2017 di Tembi Rumah Budaya, meluncurkan antologi puisinya berjudul ‘Wajah Rembulan’. Ristia, demikian panggilannya, sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama

Ristia mengaku, merasa selalu rindu untuk kembali di Tembi menikmati bulan purnama sambil membaca puisi. Bahkan setiap kali membaca publikasi Sastra Bulan Purnama, hatinya seperti mengajak pergi ke Tembi.

“Saya selalu ingin kembali ke Tembi menikmati bulan purnama sambil membaca puisi,” kata Ristia Herdiana.

Yuliani, yang tinggal di Sidoarjo, seperti halnya Ristia, ingin sering hadir menikmati penyair membaca puisi, meskipun dirinya tidak harus membaca puisi, tetapi jarak yang terkadang menghalanginya.

“Saya senang puisi dan menikmati kapan puisi dibacakan, dan di Sastra Bulan Purnama saya menikmati itu,” ujar Yuliani.

Yuliani Kumudaswari, foto Indra
Yuliani Kumudaswari, foto Indra

Yuliani, yang telah memiliki dua antologi puisi tunggal karyanya, pertama berjudul 100 Puisi Yuliani Kumudaswari’, kedua ‘Perempuan Bertato Kura-Kura’, yang disebut terakhir itu di-launching bersama dengan karya empat perempuan penyair lainnya.

Resmiyati, perempuan penyair yang tinggal di Klaten, yang sehari-hari berprofesi sebagaiguru SMA, telah menerbitkan dua antologi puisi berjudul ‘Membelah Bulan’, dan yang diluncurkan di Sastra Bulan Purnama berjudul ‘Tetangga Surga’. Resmiyati, seperti halnya Ristia dan Yuliani, sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Bahkan tidak jarang, ia sering datang menikmati para penyair lainnya tampil di Sastra Bulan Purnama.

Resmiyati, foto Indra
Resmiyati, foto Indra

Resmiyati memang menarik kapan tampil membaca puisi. Ia seperti sering ingin berdialog dengan hadirin kapan membaca puisi, sehingga tidak jarang penonton ada yang menanggapi dengan celetukan, dan Resmiyati meresponnya dengan tersenyum.

Konten Terkait:  Bimasuci: Bakti Anak Kepada Orangtua

Umi Kulsum setiap bulan tampil di Sastra Bulan Purnama bertindak sebagai pembawa acara. Untuk kali ini, selain sebagai pembawa acara dia juga meluncurkan antologi puisinya berjudul ‘Akar Ketuban’. Antologi puisi pertamanya berjudul ‘Lukisan Anonim’.

Umi Kulsum, foto Indra
Umi Kulsum, foto Indra

Selain empat perempuan penyair tampil membacakan puisi karyanya, tampil juga beberapa pembaca puisi, di antaranya Kentik, Yuli Rukmini, Koniherawati. Suryawidati. Dharmadi. Pertunjukan musik dimainkan oleh kelompok musik ‘Boleh Masuk’ dengan menggarap puisi karya Ristia Herdiana, Yuliani Kumudaswari dan Umi Kulsum. Tidak ketinggalan, Butong menggarap puisi ‘Hati’ karya Resmiyati menjadi satu pertunjukan monolog.

Satu pertunjukan, yang menggabungkan sastra, musik dan tari, dimainkan oleh ‘Bengkel Sastra Taman Maluku’, Semarang. Mereka mengolah karya sastra menjadi satu pertunjukan yang menarik. Upaya yang dilakukan Bengkel Sastra Taman Maluku, tampaknya untuk ‘menghidupkan’ puisi di atas panggung.

“Pertumjukan dari Bengkel Sastra Taman Maluku ini mengolah sekaligus memadukan karya seni dalam satu kemasan, ada sulukan, geguritan, musikalisastra, tarian dan lainnya,” ujar Pia Cipta ketika menyampaikan pesannya untuk tampil di Sastra Bulan Purnama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here