Mengenang Jasa Kyai dan Nyai Wirasuta dalam Upacara Adat Bekakak

0
67
Sepasang Bekakak siap dikirab dan disembelih di Gunung Gamping Sleman. Foto: A. Sartono
Sepasang Bekakak siap dikirab dan disembelih di Gunung Gamping Sleman. Foto: A. Sartono

Upacara Saparan Bekakak Gamping telah menjadi agenda budaya tahunan yang dinanti-nantikan banyak orang. Tidak mengherankan jika acara ini pada sisi lain juga menimbulkan kemacetan luar biasa pada ruas-ruas jalan ring road Gamping-Pasar Gamping-Patukan-perempatan Demakijo-UMY-dan Jalan Wates di seputaran lokasi Lapangan Ambarketawang dan simpang menuju Gunung Gamping.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Saparan Bekakak Gamping ini juga dimeriahkan dengan kirab ogoh-ogoh, di antaranya berupa Ogoh-ogoh Gendruwo dan Wewe. Selain itu, ada cukup banyak komunitas yang ikut terlibat dalam kirab Bekakak ini. Peserta kirab atau pawai Bekakak tahun 2017 ini oleh panitia bahkan dibagi menjadi dua kelompok, yakni peserta inti dan peserta penggembira.

Bregada prajurit tradisional lain yang juga ikut kirab dalam Upacara Bekakak Gamping Sleman. Foto: A. Sartono
Bregada prajurit tradisional lain yang juga ikut kirab dalam Upacara Bekakak Gamping Sleman. Foto: A. Sartono

Peserta inti terdiri dari Voorijder Polsek Gamping, Rombongan Andong (dinaiki camat/perangkat desa/BPD, PKK), Bregada Prajurit (BP) Mangkubumi, BP Wirosuto Putra, BP Ambarsari Putri, Rombongan Kasepuhan & Kepala Desa, Bekakak I, BP Songsong Wirosuto, BP Wiromanggolo, BP Wirotani, BP Bayu Maruto, Rombongan Edan-edanan, Bekakak II, BP Ambarketawang, BP Kalimajing Puspo Murti, BP Manunggal Roso Tamtomo, BP Tamu (Mlati), BP Tamu (Bugis), BP Tamu (Sanggrahan), Gendruwo & Setan-setanan.

Prosesi penyembelihan Bekakak di Gamping Sleman. Foto: A. Sartono
Prosesi penyembelihan Bekakak di Gamping Sleman. Foto: A. Sartono

Sedangkan kelompok penggembira terdiri dari Tagana Kabupaten Sleman, Paskibraka SMK YPKK, Reog Singo Barong, Gapoktan Ambarketawang, KWT Depok, KWT Mejing Lor, KWT Mejing Wetan, Gunungan Pedagang Pasar Gamping, Kuda-Andong Hias-Gunungan-Drum Band Pasar Buah Gemah Ripah, Reog Gamping Kidul, Ogoh-ogoh Tikus Berdasi, Sanggar Abimanyu Basopati “Tari Gedruk”, Ogoh-ogoh Delingsari, Ogoh-ogoh Kademangan Modinan, Gedruk Kreasi Trah Patrajaya, Ogoh-ogoh Bodeh, Ogoh-ogoh Watu Langkah, Jathilan Tresno Budoyo dan Ogoh-ogoh Kanigoro, Ogoh-ogoh Kembang Tamantirto, Uwuk-uwuk Offroad Team, dan Ambulance.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, HY Aji Wulantara sebelum hari H penyelenggaraan Kirab Bekakak menyampaikan bahwa penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan bukti nyata apresisasi yang tinggi dari masyarakat Desa Ambarketawang Kecamatan Gamping dalam menginternalisasi sejarah perjuangan yang mengajarkan patriotisme di masa lampau. Upacara Adat Saparan Bekakak itu digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kesejahteraan bagi warga Kecamatan Gamping dan sekitarnya.

Ogoh-ogoh berwujud Wewe Gombel ikut memeriahkan Upacara Saparan Bekakak. Foto: A. Sartono
Ogoh-ogoh berwujud Wewe Gombel ikut memeriahkan Upacara Saparan Bekakak. Foto: A. Sartono

Upacara Adat Saparan Bekakak selalu jatuh pada hari Jumat kedua di bulan Sapar. Bekakak dalam acara ini adalah boneka sepasang pengantin yang terbuat dari tepung ketan yang di dalamnya diisi kincau (juruh). Sepasang Bekakak ini disembelih di dekat sisa Gunung Gamping. Penyembelihan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang perjuangan abdi Sultan Hamengku Buwana I yang bernama Kyai dan Nyai Wirasuta yang dulu ditugaskan menambang batu gamping namun kemudian meninggal karena tertimpa reruntuhan gunung gamping. Jasad keduanya tidak ditemukan.

Kepala Bekakak setelah dipotong siap diperebutkan. Foto: A. Sartono
Kepala Bekakak setelah dipotong siap diperebutkan. Foto: A. Sartono

Untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Wirasuta maka dibuatlah sepasang Bekakak untuk dikurbankan di Gunung Gamping. Sepasang boneka Bekakak dulu dimaksudkan sebagai pengganti dari sepasang pengantin yang diminta oleh penunggu Gunung Gamping untuk dikurbankan di Gunung Gamping sebelum orang melakukan penambangan gamping (kapur) di gunung tersebut. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR