Filosofi Alun-alun Lor Keraton Kasultanan Yogyakarta

0
41
Pohon beringin di Alun-alun Lor dengan latar belakang Pagelaran Keraton Yogyakarta. Foto: A.Sartono
Pohon beringin di Alun-alun Lor dengan latar belakang Pagelaran Keraton Yogyakarta. Foto: A.Sartono

Salah satu bagian dari kompleks Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang perlu dipahami adalah alun-alun. Keraton Yogyakarta memiliki dua buah alun-alun. Satu alun-alun di sebelah utara bangunan keraton dinamakan Alun-alun Lor (utara) dan satu alun-alun lainnya terletak di sebelah selatan bangunan keraton disebut Alun-alun Kidul (selatan).

Menurut Buku Profil Yogyakarta City of Philosophy terbitan Dinas Kebudayaan DIY, tahun 2015, istilah alun-alun berasal dari kata alun yang dalam bahasa Jawa diartikan sebagai gelombang (ombak). Hal tersebut dimaksudkan sebagai lambang dari gelombang yang mengayun-ayunkan hidup manusia di dalam samudera masyarakat. Gelombang ini digerakkan oleh angin (beringin) dari segala penjuru yang tumbuh di sekeliling alun-alun.

Angin diibaratkan seperti bermacam-macam aliran yang membawa usaha manusia untuk mendekatkan diri dan “bersatu” dengan Tuhan (jumbuhing kawula Gusti, Gusti lan kawula, pindha curiga manjing warangka, warangka manjing curiga) di tengah-tengah banyaknya godaan serta pengaruh kepada manusia.

Alun-alun Lor yang terletak di depan Pagelaran merupakan gambaran suasana yang ngelangut yakni suasana tanpa tepi, suasana hati manusia dalam samadi yang di dalamnya ada banyak godaan atau cobaan yang tercermin dari luasnya alun-alun sebagai gambaran luasnya masyaralat dengan berbagai dan sifat yang siap mempengaruhi iman seseorang untuk madhep (menghadap) Tuhan.

Dua buah pohon beringin yang terletak di tengah-tengah Alun-alun Lor menggambarkan kesatuan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Pohon beringin di tengah alun-alun ini dinamakan Janandaru dan Dewandaru. Kyai Janandaru melambangkan hubungan manusia dengan manusia lainnya sedangkan Kyai Dewandaru melambangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Apa yang disebut sebagai alun-alun pada hakikatnya adalah ruang terbuka luas, berbentuk segi empat. Tata kota seperti ini dipercayai sebagai warisan dari Walisongo, namun versi lain menyatakan bahwa sistem lapangan terbuka di depan istana raja telah dikenal sejak zaman Majapahit.

Alun-alun Utara sisi barat. Foto: A.Sartono
Alun-alun Utara sisi barat. Foto: A.Sartono

Konsep alun-alun ini dikelilingi empat unsur penting sebuah pemerintahan, yakni istana di bagian selatan dari alun-alun, masjid di sisi barat alun-alun, pasar di utara alun-alun, dan penjara di sisi timur alun-alun. Hal tersebut masih dapat dilihat di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pasar berada di timur-utara keraton, yakni Pasar Beringharjo yang letaknya dengan masjid dipisahkan oleh satu ruas jalan untuk menunjukkan pemisahan makna simbolik keduanya, dimana yang satu melambangkan keduniawian sedangkan yang lain melambangkan kesucian (kehidupan rohaniah). Empat lokasi penting tersebut melambangkan empat penjuru mata angin.

Akses jalan di tengah alun-alun yang seperti membelah alun-alun menjadi dua bagian sama persis dan keberadaannya diapit oleh dua pohon beringin merupakan lambang antara keraton, masjid, dan paseban (pagelaran) merupakan hal yang tidak terpisahkan. Jalan tengah ini merupakan simbol kerukunan antarumat dan keharmonisan antara raja dengan umat.

Alun-alun Utara sisi timur. Foto: A.Sartono
Alun-alun Utara sisi timur. Foto: A.Sartono

Pada masa lalu alun-alun menjadi tempat latihan perang-perangan prajurit, tempat mengadu macan dengan binatang atau manusia (rampogan), tempat mengumpulkan kawula/prajurit, dan juga tempat untuk melakukan tapa pepe bagi kawula (warga kerajaan) yang hendak mengajukan berbagai keberatan kepada raja. Alun-alun juga digunakan untuk tempat penyelenggaraan pasar malam menjelang Upacara Garebeg Sekaten. Bahkan juga sering digunakan untuk berbagai keperluan (olah raga, rapat akbar, perayaan hari besar agama maupun hari besar nasional lainnya), untuk mengumpulkan orang dalam keperluan tertentu dan darurat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR