Macapatan Malam Rabo Pon ke-160, Tradisi Minum Teh Pada Serat Centhini

0
289
Kuat Iman, pecinta macapat sedang nembang diiringi gamelan. Foto: Herjaka
Kuat Iman, pecinta macapat sedang nembang diiringi gamelan. Foto: Herjaka

Tepat pada pukul 20.00, setelah beberapa gending selesai dikumandangkan oleh karawitan Sidolaras, Angger Sukisno membuka gelar macapat dan karawitan di Tembi Rumah Budaya putaran ke-160, pada 24 Oktober 2017. Acara rutin diadakan setiap 35 hari sekali ini menembangkan karya sastra macapat pada serat Centhini. Serat ini ditulis pada abad ke-18 dan telah dilatinkan oleh Yayasan Centhini menjadi 12 jilid. Empat jilid telah selesai dibaca pada setiap acara macapatan malam Rabo Pon secara berurutan. Pada putaran kali ini telah sampai buku kelima, pupuh 350, pada 146 sampai dengan pada 191 dengan tembang Sinom.

Dalam episode ini mengisahkan pertemuan antara kakak dan adik yang telah lama berpisah yaitu Jayengraga dan Jayengwesthi. Pertemuan tersebut diwarnai dengan suasana gembira. Jayengraga sebagai tuan rumah menjamu kakaknya dengan minuman teh. Namun yang menarik bagi Jayengwesthi bukan pada rasa dan aroma teh yang disuguhkan, melainkan pada teko tempat teh disedu, seperti dialog keduanya yang ditulis pada teks berikut ini:

…. Jayèngwèsthi ngandika, sarwi angunjuk wedang teh, sêka ngêndi tekomu têka prayoga.
147. Kang rayi matur punika, saking sadhèrèk pasisir, ki juragan Pak Jumilah, ing Tandhên kang komuk sugih, nggènnipun mêlarangi, Cina prasanakanipun, Tik Yan Kowan wastanya, kengingipun dènlambangi kapal kore lan lapak prabot salaka

148. Dene wontênipun kula, saking pak Rajiyah nguni, nuju mring Tandhên rêrasan, pak Jumilah arsa panggih, dhumatêng njêng kiyai, agêmêt pitakènipun, milawang mring kawula, sumêrêp yèn kula asring, rêmên têko mila tekone punika

Ketika Angger Sukisno mengalunkan suara merdunya, segelas teh Tembi tersaji di depannya. Foto: Herjaka
Ketika Angger Sukisno mengalunkan suara merdunya, segelas teh Tembi tersaji di depannya. Foto: Herjaka

149. Kinintunkên pak Rajiyah, supados katur ing mami, sarêng kawula uninga, ing teko bungah tan sipi, kula dèrèng udani, kang darbe kadi punika, teko kaliwat langka, lêkane kêbak acuri, kalihdene raosing tèh mindhak eca

150. Kang raka mèsêm ngandika, layak bênêr turmu yayi, mara cobanên sadhela, gupuh kang rayi ngladosi, wedang panas miranti, cèh cowan amung sasuru, Rarasati anyandhak, cèrèt cinurkên aririh, apan munthuk mêthuthuk kukus angambar

151. Wus sinuci cangkirira, pêthak tutupan sarakit, kang teko nulya ingasta, amung amot rong
cangkir thil, gumujêng Jayèngwèsthi, dene sathithik motipun, majad pat cangkir ana, teko dèn-iling-ilingi, têka nyandhi akêbak nyuri narancang

152. Angunjuk wedang tèh cowan, satêngah cangkir ngling aris, iya bênêr tuturira, ngong durung pati paham tih, beda lawan sirèki, rasane tèh tan kaliru, Jayèngraga turira, inggih kasinggihan ugi, lamun ical myang pêcah teko kawula.
153. Têmtu mêdhot tan wedangan, …….

Budi Sutowiyoso (dari kanan) Agung BP, Raharja, sedang menikmati teh Tembi pada acara mcapatan. Foto: Herjaka
Budi Sutowiyoso (dari kanan) Agung BP, Raharja, sedang menikmati teh Tembi pada acara mcapatan. Foto: Herjaka

Terjemahan:

Jayengwesthi berkata: sembari minum teh, ”Dari mana tekomu ini? sungguh sangat bagus” Adiknya menjawab, ”Teko ini dari Pak Jumilah orang yang terkenal kaya dari Tandhen daerah pantai. Kata Pak Jumilah bahwa teko itu dibeli mahal dari Tik Yan Kowan orang Cina yang menjadi temannya, dengan menukar Kuda Kore beserta lapaknya dari logam putih.

Konten Terkait:  Arwana Jadi Inspirasi Lukman dalam Kriya Logam Tembaga

Lalu bagaimana teko tersebut bisa sampai kepada saya, pak Rajiyah lah yang membawanya. Waktu itu Pak Rajiyah datang di Tandhen, Pak Jumilah berencana ingin bertemu dengan njeng kyai (yang dimaksud Jayengraga) untuk itu iya menanyakan banyak hal mengenai kebiasaan dan kegemaran njeng kyai. Pak Rajiyah berkata dengan terus terang bahwa kyai Jayengraga gemar minum teh yang bermerek cowan. Oleh karenanya ia membutuhkan teko untuk menyedu tehnya. Mengetahui hal itu, Pak Jumilah berkeinginan mengirim teko yang mahal kepada njeng kyai melalui Pak Rajiyah. Gembira tak terkira mendapat teko itu. Aku belum pernah melihat sebelumnya teko seperti ini, teko yang sangat langka. Kulitnya bergelombang seperti padas curi, pasti menambah enak rasanya teh.”

Kakaknya tersenyum dan berkata: “Benar katamu Adik. Coba aku ingin mencicipi tehnya.” Dengan tergopoh-gopoh sang adik melayani. Air panas sudah siap, lalu diambilnya satu sendok teh cowan. Rarasati mengambil ceret lalu dituang pelan, asap pun mengepul membawa aroma teh.

Sudah tersedia sepasang cangkir putih serta tutupnya. Teh dalam teko dituang hanya pas untuk dua cangkir, tidak lebih. Jayengwesthi tertawa, “Kok hanya sedikit muatnya, seharusnya dapat untuk empat cangkir.” Jayengwesthi penasaran, teko dilihat dengan seksama, dinding sebelah dalam tidak rata, berkerak lobang-lobang seperti dinding batu cadas.

Setelah meminum teh cowan setengah cangkir, Jayengwesthi berkata pelan, “Iya benar katamu. Saya belum paham tentang teh, lain dengan dirimu, merasakan teh tidak bakal keliru” jawab Jayengraga, ”Iya benar Kakak, jika hilang atau pecah teko ini, pasti kebiasaanku minum teh akan berhenti.”

Paguyuban karawitan Sidolaras dari Sidomulyo, Bambanglipuro Bantul. Foto: Herjaka
Paguyuban karawitan Sidolaras dari Sidomulyo, Bambanglipuro Bantul. Foto: Herjaka

Dari dialog tersebut diketahui bahwa Jayengraga adalah peminum teh tingkat tinggi, yang nggathok. Selain teh cap cowan yang menjadi kegemarannya, rupanya teko yang dipakai untuk ‘ndekok’ pun menduduki peranan penting. Karena teko khusus, yang sudah bertahun-tahun dipakai menyedu teh akan berkerak kecoklatan. Semakin tebal kerak yang ada pada dinding teko, akan semakin nikmatlah tehnya. Maka tidaklah heran jika kemudian kapasitas teko itu semakin sedikit. Seharusnya bisa menampung empat cangkir hanya bisa menampung dua cangkir teh. Dan lagi, teko yang sudah berkerak tebal, jika tehnya dituang, keluarnya pun kecil ‘ithir-ithir’, tidak lancar. Jayengwesthi tersenyum ketika adiknya berkata: “Jika teko itu sampai hilang atau pecah, kebiasaanku minum teh akan terhenti.”

Tidak hanya Jayengwesthi yang ditulari kebiasaan minum teh oleh Jayengraga, tetapi juga pecinta macapatan dan kelompok karawitan Sidolaras Sidomulyo Bantul yang hadir pada acara malam itu. Dengan hati damai dan perasaan senang mereka nembang macapat yang diselingi gendhing-gendhing Jawa sembari sesekali menyeruput teh yang dihidangkan bersama dengan pacitannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here