Parikan, Pantun Jawa yang Menghibur

0
138

Parikan (pantun berbahasa Jawa) adalah sejenis “puisi” yang sangat merakyat, mudah dibuat, dan diucapkan serta susunannya sangat bebas. Parikan terbagi dalam dua hal pokok yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah bagian pertama yang merupakan wadah (berisi ‘tantangan’ atau ‘pertanyaan’), sedangkan isi adalah bagian kedua yang menjadi pelengkap (jawaban atas ‘tantangan’ tersebut). Keduanya tidak dapat dipisahkan, jadi harus mutlak ada. Contoh:

abang-abang ora legi,
tiwas nantang ora wani
merah-merah tidak manis
telanjur menantang ternyata tidak berani

Tema parikan bermacam-macam meliputi apa yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Misalnya masalah ekonomi, sosial, perjuangan, pendidikan, penjajahan, kesengsaraan bahkan asmara. Bisa saja suatu parikan sangat terkenal dan disukai di masa tertentu atau masa lalu, tetapi di masa kini kurang disukai dan tidak terkenal. Walaupun isinya kadang-kadang hal yang menyedihkan, tetapi parikan mempunyai sifat menghibur.

Parikan tersebar di semua kalangan pemakai bahasa Jawa, sehingga tidak mengherankan apabila bahasanya diwarnai berbagai dialek bahasa Jawa. Parikan merupakan ekspresi kehidupan rakyat jelata di semua kalangan pemakai bahasa Jawa tersebut. Bahasanya sederhana, terus terang, lugas dan dapat dipercaya. Contoh:

kenthang karo kobis
Jepang menang wong Jawa ngemis
kentang dengan kobis
Jepang menang orang Jawa (jadi) pengemis

kunir kuning temu ireng
temu lawak jamu galian
lencir kuning dhasar gantheng
kapan awak jajar lenggahan
kunyit kuning (dan) temu hitam
temu lawak jamu galian
kuning semampai dasar tampan
kapan kubisa duduk berdampingan

Judul: Parikan Pantun Jawa Puisi Abadi
Penulis: Koesalah Ananta Toer
Penerbit: Feliz Book, 2011, Jakarta
Bahasa: Indonesia dan Jawa Jumlah halaman: 211

TINGGALKAN KOMENTAR