Beksan Srimpi Peperangan Tiada Henti

0
506
Beksan Srimpi Merak Kasimpir dari Kasultanan Jogyakarta. menggambarkan perang antara Dewi Sirtupelaeli dan Dewi Kadarwati masing-masing memakai pistol. Foto: Herjaka
Beksan Srimpi Merak Kasimpir dari Kasultanan Jogyakarta. menggambarkan perang antara Dewi Sirtupelaeli dan Dewi Kadarwati masing-masing memakai pistol. Foto: Herjaka

Pada gelar budaya tahun 2017, di Pagelaran Keraton Jogyakarta, paguyuban Catur Sagatra (empat keluarga) yang terdiri dari Keraton Kasultanan Jogjakarta, Keraton Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah menggelarkan dua jenis beksan atau tari yaitu Beksan Srimpi dan Beksan Wireng. Pentas bersama tersebut bertujuan untuk mengenalkan dua beksan warisan Kerajaan Mataram kepada masyarakat Yogyakarta khususnya.

Beksan Serimpi atau Srimpi, yang menurut beberapa sumber lahir pada zaman Sultan Agung, raja Mataram yang berkuasa tahun 1613 sampai dengan 1645, pada mulanya adalah tarian sakral yang ditarikan oleh empat putri terbaik untuk dipersembahkan khusus kepada raja. dan hanya ditarikan di dalam lingkungan keraton. Jauh sebelum zaman Sultan Agung, beksan sakral tersebut ditarikan oleh para pendeta wanita di pelataran candi, dan merupakan persembahan khusus kepada Sang Mahadewa. Persembahan dalam bentuk tarian ini dipercaya mempunyai derajat lebih tinggi dibandingkan dengan persembahan aneka jenis sesaji yang berupa makanan, bunga, dupa dan wewangian.

Beksan Srimpi Muncar dari Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, menggambarkan peperangan antara putri Jawa Kelasworo dan Putri China Adaninggar. Foto: Herjaka
Beksan Srimpi Muncar dari Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, menggambarkan peperangan antara putri Jawa Kelasworo dan Putri China Adaninggar. Foto: Herjaka

Pada kakawin Arjuna Wiwaha, karya Empu Kanwa pada abad ke-10, dituliskan, bahwa sebelum tujuh bidadari yang merupakan perwujudan dari Shakti Dewa tertinggi ditugaskan meruntuhkan tapa Arjuna berangkat, mereka terlebih dahulu diminta menari di hadapan para dewa. Dewa Brama terpana dengan penampilan para bidadari tersebut, dan meyakini bahwa Arjuna bakal runtuh tergoda oleh persembahan tarian jiwa para bidadari.

Jika bukan karena dewa tertinggi, mata Dewa Brama akan mengikuti ke mana saja para bidadari itu bergerak dan menari. Namun jika hal itu dilakukan akan turunlah derajatnya sebagai dewa tertingi. Maka kemudian, dengan kuasanya disabdalah dirinya sendiri mempunyai muka empat yang masing-masing menghadap ke arah mata angin. Dengan demikian tak perlulah Dewa Brahma kehilangan satu pun gerakan gemulai para bidadari tanpa harus menoleh ke kanan ke kiri, di muka mau pun di belakang. Selain dapat memandang 4 penjuru mata angin, empat muka melambangkan bahwa Dewa Brahma adalah penguasa alam semesta.

Beksan Srimpi Renyep dari Kadipaten Pakualaman Jogyakarta. Foto: Herjaka
Beksan Srimpi Renyep dari Kadipaten Pakualaman Jogyakarta. Foto: Herjaka

Tradisi mempersembahkan sebuah tarian sakral yang ditarikan oleh para penari wanita terbaik untuk dewa dan juga untuk raja berlangsung berabad-abad, mulai dari tarian di pelataran candi hingga tarian di dalam keraton, di depan raja yang bertahta. Tidaklah mengada-ada, jika tarian sakral yang dimaksud, dan masih dijumpai di Keraton Kasultanan Jogyakarta, di Keraton Kasunanan Surakarta, di Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dan di Kadipaten Mangunegaran Surakarta, adalah tari Serimpi dan tari Bedhaya.
Pada awal abad ke-19, kedua tarian sakral tersebut mulai diperkenalkan di luar tembok keraton, dengan tujuan agar masyarakat dapat melihat, mengenal, dan bahkan belajar tarian yang merupakan warisan kekayaan budaya klasik yang masih tersisa.

Dalam pentas di Pagelaran Keraton Jogyakarta tersebut, masing-masing dari empat keraton yang diwadahi dalam Catur Sagatra mempersembahkan beksan Srimpi dengan corak yang berbeda-beda. Walaupun tidak dalam upacara persembahan untuk raja, kesakralan dan keagungan dari tari Srimpi masih terasa. Mulai dari busananya, gerakannya dan juga gendhing yang mengiringinya.

Beksan Srimpi yang ditarikan oleh empat penari wanita pilihan apakah masih dikaitkan dengan empat muka Dewa Brahma yang menghadap ke empat penjuru mata angin, yang adalah merupakan simbol penguasa alam semesta. Atau mungkin dapat dimaknai bahwa jumlah empat melambangkan sedulur papat lima pancer. Pancernya adalah raja yang bertahta. Sedangkan empat penari adalah simbol dari empat kehendak, yaitu kehendak untuk menciptakan, kehendak untuk merasakan, kehendak untuk memilih dan kehendak untuk mengerjakan. Cipta, Rasa, Karsa dan Karya. Atau juga melambangkan empat nafsu yang mengelilingi sang pancer yaitu aluamah (makan), amarah (gejolak), supiyah (keindahan) dan Mutmaimah (keTuhan-nan).

Beksan Srimpi Sukarsih dari Kasunanan Surakarta gubahab Pakoe Boewana VIII. Foto: Herjaka
Beksan Srimpi Sukarsih dari Kasunanan Surakarta gubahab Pakoe Boewana VIII. Foto: Herjaka

Jika beksan Srimpi dimaknai sebagai gambaran empat nafsu yang ada dalam setiap pribadi, maka tari Srimpi adalah tarian peperangan yang tiada henti. Karena sesungguhnya keempat nafsu tersebut senantiasa saling berebut untuk menjadi yang terdepan dalam hidup dan kehidupan manusia.

Tafsir lain yang sering disebut, bahwa Srimpi adalah metafor dari kata ngimpi. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan durasi waktu yang relatif lama, dengan gerakan halus lemah gemulai diiringi oleh iringan yang mistis, yang dapat membawa para pemirsa ke alam mimpi.

Mengingat bahwa beksan tersebut sudah menjadi milik mmasyarakat, maka tidaklah heran jika kemudian para pencipta dan peƱata tari bermimpi perihal beksan Srimpi yang adalah tarian para dewi, sebagai pijakan, untuk menciptakan dan mengembangkan srimpi-srimpi baru yang lebih pas dan sesuai dengan zamannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here