Catur Sagotra, Ngumpulke Balung Pisah

1
370
Beksan Serimpi Renyep gubahan Sri Paku Alam VIII foto herjaka
Beksan Serimpi Renyep gubahan Sri Paku Alam VIII foto herjaka

Gelar Budaya Yogyakarta 2017 Catur Sagatra di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlangsung 12 dan 13 Oktober 2017 menyajikan beksan klasik dari empat keraton, yaitu Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai tuan rumah, Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kadipaten Mangkunegaran Surakarta dan Kadipaten Paku Alaman Yogyakarta.

Berawal dari sebuah kesadaraan bahwa, keempat keraton tersebut merupakan satu keluarga besar Dinasti Mataram yang didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati di bumi Mentaok, Kota Gede Yogyakarta, maka gagasan pun muncul. Keempat raja yang berkuasa saat itu ialah: Sinuhun Pakubuwono XII, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sri Paku Alam VIII dan Sri Mangku Nagoro VIII menyepakati gagasan bersama yang dinamakan Catur Sagatra, catur = empat, dan sagatra = sekeluarga. Tujuan adalah untuk memersatukan keempat keluarga keraton ‘Ngumpulke Balung Pisah’ dalam ikatan kesamaan falsafah budaya yang berinduk dari sejarah berdirinya Dinasti Mataram.

Beksan Serimpi Sukarsih gubahan Pakoe Boewana VIII ditarikan oleh Yohana, Agustina, Oky, Ayun. foto herjaka
Beksan Serimpi Sukarsih gubahan Pakoe Boewana VIII ditarikan oleh Yohana, Agustina, Oky, Ayun. foto herjaka

Gelar budaya Yogya VII, yang berlangsung dua hari tersebut merupakan upaya Catur Sagatra untuk mengenalkan khasanah budaya Yogyakarta dan Surakarta secara luas pada masyarakat, khususnya dalam bidang seni tari atau beksan. Pada event ini, masing-masing dari keempat keraton itu sepakat untuk menampilkan dua tarian. Satu tarian Serimpi dan satu tarian Wireng.

Hari pertama 12 Oktober 2017 Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menyuguhkan beksan alus Serimpi Merak Kasimpir, Yasan Dalem (ciptaan) Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurachman Sayidin Panata Gama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa (HB X) serta beksan wireng Kiswamuka Mengsah Sugriwa, Yasan Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Beksan Serimpi Merak Kesimpir ciptaan Hamengku Buwono X sebagai penampil pertama pada gelar Budaya Catur Sagotra di Pagelaran Kraton Jogjakarta. foto herjaka
Beksan Serimpi Merak Kesimpir ciptaan Hamengku Buwono X sebagai penampil pertama pada gelar Budaya Catur Sagotra di Pagelaran Kraton Jogjakarta. foto herjaka

Sedangkan Kasunanan Surakarta Hadiningrat menampilkan beksan Serimpi Sukarsih, hasil gubahan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping VIII serta beksan Wireng Gagah Bugis Kembar yang dicipta oleh para kereografer istana Kasunanan Surakarta.

Hari kedua 13 Oktober 2017, diawali oleh sajian beksan alus Serimpi Renyep dari Pura Pakualam Jogjakarta yang merupakan ungkapan kememimpinan Sri Paduka Paku Alam VIII dalam memayungi seluruh trah Pakualaman dan warga wilayah Kadipaten Pakualaman. Disusul tarian kedua, beksan wireng Banjaransari Rayungwulan, gubahan abdi dalem Matayapraja, puro Pakualaman Jogjakarta.

Penonton yang memadati Pagelaran sedang memperhatikan beksan Serimpi Muncar dari Pura Mangkunagaran foto herjaka
Penonton yang memadati Pagelaran sedang memperhatikan beksan Serimpi Muncar dari Pura Mangkunagaran foto herjaka

Selanjutnya ditampilkan beksan Serimpi Muncar dari Pura Mangkunegaran Kartasura ciptaan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegara VII, dan beksan Wireng Bandoboyo yang lahir pada masa pemerintahan Mangkunagara IV.

Pentas Catur Sagatra ini sangat penting dan strategis untuk pelestarian serta pengembangan warisan budaya. Mengingat bahwa tugas empat keraton Dinasti Mataram di Yogyakarta dan Surakarta sebagai penjaga gawang budaya untuk bersama-sama masyarakat terus melestarikan serta menghidupi budaya khususnya beksan yang diwariskan leluhur.

Sebelum membuka acara gelar budaya Catur Sagatra 2017, Kabid Adat dan Seni Tradisi Dinas Kebudayaan DIY Setiawan Sahli mengatakan bahwa kegiatan pada tahun ketujuh ini mengangkat tema Beksan Srimpi dan Beksan Wireng. Mengingat bahwa kedua jenis beksan tersebut cukup berkembang dengan ciri khasnya masing-masing di Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman.

Pentas dua malam berurutan di kagungan dalem Pagelaran Kraton Jogjakarta tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan disaksikan oleh ratusan penonton yang sebagian besar adalah penari-penari muda. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here