Sudarmaji Empu Keris dari Banyusumurup Imogiri

0
31

Tradisi kerajinan keris di Dusun Banyusumurup, Kelurahan Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul hingga kini masih lestari. Salah satu pelestari kerajinan keris adalah Sudarmaji (43). Ia merupakan sulung dari tujuh orang bersaudara putra-putri Empu Jiwo Diharjo. Keseluruhan anak laki-laki dari Empu Jiwa Diharjo, yakni Sudarmaji, Daru Wintolo, dan Sutomo, mewarisi ilmu perkerisan dari ayahnya. Sedangkan empat orang putri Empu Jiwo Diharjo berprofesi sebagai pedagang.

Empu Jiwo Diharjo merupakan putra Empu Sosro Menggolo, yang juga merupakan salah satu abdi dalem makam Pajimatan Imogiri. Ayah Sosro Menggolo bernama Mbah Mangu adalah orang yang ahli membuat warangka (sarung keris). Jika ditarik gari ke atas mereka semua adalah keturunan dari Empu Supo di Majapahit.

Proses regenerasi empu keris umumnya berjalan secara alamiah. Anak-anak putra dari empu umumnya biasa melihat, mengamati, dan membantu dalam proses pembuatan keris yang dilakukan oeh ayah, eyang, paman, dan kerabat yang lain. Dengan demikian transfer ilmu terjadi. Demikian pula dengan yang dialami Sudarmaji. Sekalipun Sudarmaji belum dikaruniai putra, namun keponakan-keponakannya sudah mulai tertarik untuk melanjutkan profesi sebagai empu keris.

Sudarmaji (43) empu keris dari Banyusumurup-foto-a.sartono
Sudarmaji (43) empu keris dari Banyusumurup-foto-a.sartono

Sudarmaji merasa senang dan bangga menjadi empu keris karena ia merasa ikut terlibat langsung dalam melestarikan budaya. Sudarmaji mengaku bahwa sejak kelas IV SD sebetulnya ia telah diwarisi ilmu perkerisan oleh ayahnya. Namun ia baru boleh membuat keris yang sesungguhnya setelah duduk di bangku SMA. Hal itu terjadi karena dalam dunia perkerisan orang yang dipandang pantas untuk membuat keris adalah orang yang sudah dewasa (akil baliq).

Sudarmaji saat ini memiliki 25 pekerja yang mendukung usaha produksi kerisnya. Dari 25 karyawan itu rata-rata berkecimpung untuk membuat warangka, pendhok, tangkai, dan asesori keris lainnya. Menurut Sudarmaji pula antusiasme generasi muda untuk terlibat dalam pembuatan keris di Banyusumurup cukup bagus.

Pohon timoho di depan rumah Sudarmaji kayunya untuk bahan warangka keris-foto-a.sartono
Pohon timoho di depan rumah Sudarmaji kayunya untuk bahan warangka keris-foto-a.sartono

Untuk jenis-jenis keris itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yakni kelas kasar yang berharga murah, kelas sedang, dan kelas halus (tinggi). Untuk keris kelas kasar harganya di bawah sejuta rupiah. Kelas sedang harganya sekitar 1,5 juta rupiah. Sedangkan untuk kelas yang halus harganya minimal 10 juta rupiah. Pada intinya harga keris merupakan harga relatif. Tidak ada harga baku. Namun kualitas garapan, usia keris, kelengkapan keris menjadi salah satu tolok ukurnya.

Untuk membuat keris halus, apalagi pesanan khusus, Sudarmaji tidak bisa membuat dengan sembarangan. Semuanya harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya termasuk ia harus menyiapkan batin dengan berpuasa agar ia bisa lebih tenang, fokus, dan dengan demikian bisa menghasilkan keris yang spesial. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR