Empat Antologi Puisi dari 16 Penyair di Sastra Bulan Purnama

0
148
Eddy Pranata, foto Totok
Eddy Pranata, foto Totok

Tiga antologi puisi tunggal, masing-masing berjudul ‘Pagar Kenabian’ karya Sofjan RH.Said, ‘Alarm Sunyi’ karya Emy Suy, ‘Abadi Dalam Puisi’ karya Eddy Pranata dan antologi bersama 13 penyair ‘Pemali’, Jumat, 6 Oktober 2017 dibacakan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.

Sebut saja, 16 penyair dari empat antologi puisi berasal dari daerah yang berbeda, setidaknya tinggal di kota berbeda. Sofjan RH.Zaid kini tinggal di Bekasi, Emmy Suy tinggal di Tangerang dan Eddy Pranata tinggal di Cilacap. 13 penyair lainnya masuk dalam Bumiayu Creative City Forum, salah satu di antaranya Mahbub Junaidi tinggal di Bekasi.

Para penyair tersebut membacakan puisi karyanya di Amphytheater Tembi Rumah Budaya. Eddy Pranata misalnya membaca puisi berjudul “Negeri Kadal’ dengan penuh ekspresif dan teaterikal. Eddy, dalam membaca, seperti sepenuhnya menghadirkan puisinya dalam satu pertunjukan.

Penyair dari Bumiayu, salah satunya Dimas Indiana Senja, membacakan puisi karyanya yang ditulis dalam bahasa lokal, yang dikenal dengan sebutan ‘ngapak-ngapak’. Dalam suasana khas lokal, dan bahasa yang sepenuhnya tidak dimengerti oleh orang bukan dari Bumiayu, atau area ‘ngapak-ngapak’, justtru puisi tersebut terasa eksotis dan enak untuk didengar.

“Ah, aku tak mengerti apa artinya puisi tersebut, tapi enak untuk didengarkan,” kata Ana Ratri yang duduk di depan.

Emy Suy membaca puisi setelah tiga penyair dari Bumiayu tampil. Ia mengenakan topi, membacakan satu puisi karyanya, demikian juga Sofjan RH.Zaid membacakan satu puisi. Tetapi, sebelum acara berakhir, keduanya tampil bersama dan masing-masing membacakan puisi karyanya secara bergantian.

Kelompok Musik Benang Merah
Kelompok Musik Benang Merah

Kelompok musik ‘Benang Merah’, empat personilnya dari Solo, dan satu di antaranya dari Bantul, Yogya. Mereka menyajikan dua lagu puisi pada awal tampil, dan sebelum closing, kembali ‘Benang Merah’ menampilkan dua lagu, dengan penuh ekspresif kelompok musik ini menghangatkan Sastra Bulan Purnama.

Doni Suwung, seorang penyanyi Balada, yang diminta mengiringi petikan gitar untuk pembaca puisi yang tampil. Lalu spontan dia mengalunkan satu lagu puisi karyanya, dan pada closing, lagi-lagi dia diminta tampil menyanyikan dua lagu karyanya.

“Dalam waktu dekat saya juga akan pentas, informasi selanjutnya bisa dilihat melalui media sosial,” kata Doni Suwung promosi.

Para penyair dari Bumiayu Creative City Forum, secara bergantian tampil membaca puisi. Pada sesi pertama tiga penyair membacakan puisi karyanya dan selanjutnya, secara bergantian mereka membacakan puisi karyanya, termasuk Mahbub Junaidi, yang beberapa kali akan tampil di Sastra Bulan Purnanama, tetapi selalu gagal.

Emy Suy, foto Totok
Emy Suy, foto Totok

“Baru kali ini saya bisa datang di Sastra Bulan Purnama, setelah beberapa kali diminta selalu batal untuk datang,” kata Mahbub.

Pada awal acara, Dimas Indiana Senja menjelaskan judul antologi puisinya ‘Pemali’, yang bukan ‘Pamali’. Dua kata yang hanya berbeda pada huruf ‘e’ dan ‘a’, tetapi memiliki artinya yang berlainan. Pamali, seperti kita kenal adalah sejenis larangan.

“Pemali, yang dipakai sebagai judul antologi puisi ini sebenarnya adalah nama sungai di daerah Bumiayu,” kata Dimas Indiana Senja. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR