Ramai-Ramai di Panggung Puisi

1
159

Penyair dari berbagai daerah, selama dua hari 1-2 Oktober 2017 mengisi aneka ekspresi puisi di panggung puisi, yang disediakan panita Hari Puisi 2017 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini 73, Jakarta. Panggung terbuka, yang pada awal acara pada 1 Oktober 2017 diguyur hujan, dan malam ketika langit cerah kembali puisi mengisi panggung Hari Puisi.

Secara bergantian, penyair dari berbagai daerah tampil membacakan puisi, selain membacakan puisi karyanya, ada yang tampil membacakan puisi Rendra misalnya, atau puisi Sutardji Colsum Bachri. Mereka tidak hanya tampil membacakan puisi, tetapi juga memetik gitar sambil melagukan puisi, atau membaca puisi diiringi petikan gitar, tabuhan kendang atau gesekan biola.

Para penyair, dari Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bandung, Cirebon, Bekasi dan kota-kota lain di Indonesia, betapa antusiasnya mengisi panggung terbuka dengan membacakan puisi.

Mereka yang hadir, di daerahnya telah menyelenggarakan acara sastra, baik pembacaan puisi, diskusi dan kegiatan sejenis. Kehadiran mereka di Taman Ismail Marzuki (TIM) selain bertemu dengan para penyair dari berbagai daerah, masing-masing memang siap untuk tampil mengisi pertunjukan sastra.

Agustina Thamrin misalnya, dari Banjarmasin, dan sudah dua kali membaca puisi di Sastra Bulan Purnama (SBP) Tembi Rumah Budaya, tidak ketinggalan tampil membaca puisi di pangung terbuka HPI 2017. Dimas Indiana Senja, yang juga sudah beberapa kali tampil membaca puisi di SBP, tampil membacakan puisi yang ditulis menggunakan bahasa ibunya, yang dikenal dengan istilah ‘ngapak-ngapak’.

“Saya sekarang mulai menekuini sastra yang saya tulis menggunakan bahasa lokal,” kata Dimas Indiana Senja sebelum memulai membaca puisi.

Herman Mutiara dari Singapura, foto facebook Eddy Premaduce
Herman Mutiara dari Singapura, foto facebook Eddy Premaduce

Eddy Pranata, penyair yang tinggal di Cilacap, tidak ketinggalan tampil membacakan puisi karyanya. Ada juga penampil dari Singapura Herman Mutiara namanya memetik gitar sambil mengalunkan lagu puisi.

Panggung puisi HPI 2017 seperti tidak dibiarkan kosong, penyair mengisinya dengan berbagai macam ekspresi budaya, dan pembacaan puisi merupakan bentuk ekspersi yang paling dominan. Pertunjukan musik dan lagu puisi, tidak ketinggalan ikut memeriahkan panggung HPI 2017.

Gairah mengolah puisi menjadi satu pertunjukan rupanya telah menjadi pilihan bagi para penyair dari berbagai daerah, dan para pegiat sastra di daerah-daerah. Puisi tidak hanya berhenti ditulis, bagi penyair selain ditulis puisi perlu ‘dihidupkan; di hadapan publik, membaca puisi adalah salah satu bentuk bagaimana puisi ‘dihidupkan’.

Berbagai macam ekspresi untuk menghidupkan puisi, oleh para penyair, agaknya bisa untuk dimengerti, bahwa penyair selalu merasa belum selesai setelah puisinya ditulis, masih perlu cara lain, agar bagaimana puisi lebih dekat dengan publik, dan cara ‘menghidupkan’ puisi. Setiap penyair memiliki variasi yang berbeda-beda.

Agustina Thamrin dari Banjarmasin misalnya, merasa perlu menggunakan hio untuk menghadirkan bau harum. Hio ini, kita tahu, sering digunakan dalam upacara-upacara agama atau budaya tertentu. Agustina menyalakan hio, dan dalam suana bau harum hio dia lantang membaca puisi di atas panggung.

Penyair dari berbagai daerah, seperti tidak ingin panggung HPI 2017 kosong di malam hari, mereka mengisinya dengan pertunjukan sastra. (*)

Wanto Tirto dari Purwokerto, foto facebook Wanto Tirta
Wanto Tirto dari Purwokerto, foto facebook Wanto Tirta

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR