Dongbang dari Taiwan di Mes 56

0
100
Banner Dongbang - Foto Barata
Banner Dongbang - Foto Barata

Sebuah peristiwa seni bisa berlalu begitu saja, bisa pula ditangkap sebagai pameran dokumentasi sehingga jejaknya bisa lebih lama tertinggal. Begitulah yang dilakukan Mes 56, komunitas fotografi eksperimental yang dikenal lintas seni dan media. Di galerinya diadakan pameran bertajuk ‘Dongbang Sound System’ pada 20-27 September 2017.

Yang unik dari pameran ini lebih pada kisah di baliknya. Direktur Mes 56 Wok the Rock menjelaskan kepada Tembi bahwa pameran ini menggambarkan proyek yang digalang Mes 56 bersama Arts Commons Tainan, asal Tainan, Taiwan. Selama sekitar satu bulan mereka menggarap musik bersama. Dalam proyek ini, Mes 56 menggaet Mo’ong Santoso Pribadi, seniman musik tradisi yang biasa melakukan penjelajahan eksperimenal.

Kekhasan Arts Common Tainan adalah pertunjukan keliling dari satu tempat ke tempat yang lain, yang ternyata merupakan praktis berkesenian yang biasa di Tainan. Mereka menanyakan apakah ada tradisi serupa di sini. Wok menginformasikan tradisi pentas keliling itu di Jawa dilakukan oleh ketoprak tobong. Mereka tertarik dengan kemiripan tersebut, dan ingin menamakan pentas mereka kali ini dengan istilah Tobong. Namun lidah mandarin mereka menyebutnya Dongbang. Jadilah pentas mereka ini diberi tajuk Dongbang.

Foto pentas musik Dongbang - Foto Barata
Foto pentas musik Dongbang – Foto Barata

Dalam proses kolaborasi ini, kata Wok, mereka menghasilkan lima komposisi baru, yang kemudian dipentaskan di Lapangan McD Sudirman Yogyakarta pada 15 September 2017. Seperti juga di Tainan, mereka menggunakan bak mobil pick up sebagai panggung. Satu hari sebelumnya, mobil ini berjalan keliling Yogyakarta sambil memperdengarkan musik ciptaan mereka lewat toa yang dikemas artistik.

Saat berkeliling kota - Foto Barata
Saat berkeliling kota – Foto Barata

Mobil yang mereka beli di Yogyakarta ini lalu ditinggal di Mes 56 untuk keperluan kegiatan kesenian. Dana mereka cukup lumayan mungkin juga karena didukung oleh Pemerintah Taiwan. Dengan dukungan pemerintah ini, menurut Wok, awalnya mereka mengajukan proposal kerjasama, yang kemudian ditindaklanjuti. Kelompok mereka terdiri dari delapan orang, mencakup musisi, etnomusikolog, arsitek dan pembuat film dokumenter. Ke depannya kemungkinan Arts Common Tainan kembali lagi untuk menjalin kerja sama baru.

Wok sendiri dikenal sebagai seniman multimedia. Selain aktif di musik underground, dia melansir Yes No Wave Music, label musik berbasis internet yang didistribusikan secara gratis. Wok juga pernah menjadi kurator pada Biennale Yogya tahun 2015.

Sound system yang dikemas estetis - Foto Barata
Sound system yang dikemas estetis – Foto Barata

Pameran Dongbang di galeri ini, selain memajang foto-foto kegiatan kolaborasi musik mereka, juga menampilkan film dokumenter pendek proyek ini. Sayangnya dalam pameran ini tidak diperdengarkan musik yang dipentaskan. Jika diputarkan rekaman musiknya bisa menguatkan imajinasi pengunjung untuk lebih merasakan suasana proyek ini.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR