Gambar Kecu oleh Sedhut Senut, Menyoroti Pemalsuan Lukisan

0
253
Dengan berbagai cara Yatmi mencoba memikat Jarno namun Jarno mengabaikannya-Foto-A.Sartono
Dengan berbagai cara Yatmi mencoba memikat Jarno namun Jarno mengabaikannya-Foto-A.Sartono

Festival Arsip IVAA yang dilakukan di PKKH UGM mulai 19 September-1 Oktober 2017 ditutup dengan pementasan teater Kelompo Sedhut Senut dengan mengangkat lakon Gambar Kecu. Lakon ini ditulis oleh Elyandra Widharta dan disutradarai Ibnu ‘Gundul’ Widodo. Pementasan lakon ini dilakukan di halaman depan PKKH UGM pada hari Minggu malam, 1 Oktober 2017.

Penulisan naskah itu terkait dengan salah satu tema yang diketengahkan dalam Pameran Arsip tentang seputar praktik komodifikasi seni yang banyak terjadi, utamanya praktik pemalsuan lukisan. Fenomena lukisan palsu sempat menjadi topik hangat dalam perbincangan seni rupa di Indonesia, terutama mengenai lukisan-lukisan karya yang dianggap old master.

Pementasan sandiwara berbahasa Jawa dengan lakon Gambar Kecu diawali dengan tampilan Mbah Gun dan istrinya yang selalu mengeluh karena ekonominya seret. Padahal Mbah Gun dikenal sebagai senirupawan dan sekaligus dalang senior yang menjadi guru para senirupawan yunior. Akan tetapi secara finansial ia tetap saja melarat, tidak terkenal dibandingkan yuniornya, misalnya Ngabdul. Ngabdul yang notabene murid Mbah Gun justru kaya karena karya lukisnya laku miliaran rupiah. Ngabdul memiliki artisan bernama Jarno dan pembantu bernama Yatmi.

Istri Mbah Gun merasa tidak terima karena Mbah Gun selaku senior atau guru justru hidupnya lebih miskin dibandingkan murid-muridnya-Foto-A.Sartono
Istri Mbah Gun merasa tidak terima karena Mbah Gun selaku senior atau guru justru hidupnya lebih miskin dibandingkan murid-muridnya-Foto-A.Sartono

Di Warung Bu Darmi yang berada di Pasar Kliwon menjadi muara dari berbagai rerasanan antartokoh. Di antaranya tentang siapa menaksir siapa, tentang aneka macam persoalan yang dihadapi para tokoh. Di warung ini pula strategi Jarno untuk memikat Retno yang telah menjadi pacar Sugeng itu muncul. Sugeng yang notabene telah keluar sebagai artisan Juragan Ngabdul justru memilih menjadi tukang parkir dengan segala idealismenya. Demikian pun niatan Yatmi untuk mendekati Jarno terlihat jelas.

Kehadiran Retno membongkar pengkhianatan yang dilakukan Yatmi pada Ngabdul-Foto-A.Sartono
Kehadiran Retno membongkar pengkhianatan yang dilakukan Yatmi pada Ngabdul-Foto-A.Sartono

Yatmi yang menyatakan cintanya pada Jarno ditolak oleh Jarno dan menyebabkannya sakit hati dan ingin balas dendam. Yatmi merencanakan pemalsuan lukisan Ngabdul tentang Ratu Kidul yang fenomenal dengan memotretnya dan mengirimkan hasil potretannya pada Sugeng untuk ditiru persis, lengkap dengan tanda tangan ala Ngabdul. Lukisan aspal ini siap dibeli oleh Makelar yang siap menjualnya kembali pada seseorang.

Ngabdul yang merencanakan pameran tunggal di luar negeri dengan menampilkan karya lukis Ratu Kidulnya gagal total karena kasus pemalsuan lukisan ini keburu ditangani pihak berwajib. Ia kecewa berat. Jarno menjadi tertuduh. Dalam sekarat karena sakit menahun yang diderita Ngabdul, Yatmi mengakui kesalahannya. Ngabdul yang tidak tahan akan sakit fisik dan sakit hatinya akibat pengkhianatan Yatmi, kemudian meninggal. Mbah Gun yang sedianya akan mendalang sebagai wujud performance dalam pembukaan pameran Ngabdul pun gagal menjalankan proyeknya. Ia menyatakan bahwa wayang yang urung dipentaskan tidak lebih dari sekadar gambar kecu.

Yatmi diam-diam memotret karya besar Ngabdul dan mengirimkan hasil potretnya kepada Sugeng untuk dipalsukan-Foto-A.Sartono
Yatmi diam-diam memotret karya besar Ngabdul dan mengirimkan hasil potretnya kepada Sugeng untuk dipalsukan-Foto-A.Sartono

Sementara persaingan dan perkelahian Jarno-Sugeng tidak menghasilkan apa-apa. Retno tetap mencintai Sugeng. Sementara Jarno tidak bisa menerima cinta Yatmi. Pengkhianatan, kepalsuan, keculasan, tipu muslihat yang digarap dalam gaya komedi ini secara substantif seperti menunjukkan satire yang getir dalam balutan kelucuan yang tak tertahankan dari awal hingga akhir pengadeganan. Kritik sosial yang tajam dalam gaya guyonan yang kental mungkin mirip dalam dunia karikatur yang memancing gelak tawa atau senyum, namun di balik itu sering ada ketajamanan menyembilu yang membedah kebobrokan, kepalsuan, korupsi, dan segala macam penyakit sosial.

Para relawan Festival Arsip IVAA 2017 berfoto bersama sebelum pementasan Kelompok Sedhut Senut-Foto-A.Sartono
Para relawan Festival Arsip IVAA 2017 berfoto bersama sebelum pementasan Kelompok Sedhut Senut-Foto-A.Sartono

Garapan Sedhut Senut yang tampil “natural” dengan kekuatan masing-masing individu untuk terus mengalir dalam setiap pengadeganan dan berbagai dialog yang ngocol sekaligus cerdas dan tajam menjadi daya pikat yang sungguh mengikat penonton. Pada sisi ini tanpa terasa penonton diajak untuk menertawakan fenomena yang terjadi di sekeliling dirinya atau bahkan untuk jujur dan berani menertawakan diri sendiri yang tanpa disadari mungkin menyimpan dendam, luka, keangkuhan dan kesombongan, ambisi, kepalsuan, cacat cela, iri hati, keculasan, keluh kesah, dan lain-lain. Mungkin demikianlah gambaran kecu di dalam kehidupan kita masing-masing. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR