Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Tayang di Bioskop Indonesia Setelah Keliling Dunia

0
311
Bincang-bincang Bersama Pemain dan Sutradara-Foto Cinesurya Publikasi
Bincang-bincang Bersama Pemain dan Sutradara-Foto Cinesurya Publikasi

Satu lagi sineas Indonesia yang mengharumkan nama bangsa lewat film. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi satu-satunya film panjang dari Asia Tenggara yang terseleksi dalam Festival Cannes 2017 dan sudah ditonton ribuan orang selama diputar di Cannes.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak sebelumnya sudah masuk seleksi Festival Film Cannes pada Mei lalu, New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival pada Agustus lalu, serta Toronto International Film Festival pada September ini. Selain itu film ini telah lolos seleksi dalam Vancouver International Film Festival (September-Oktober 2017), Sitges International Fantastic Film Festival (Oktober 2017), dan Busan International Film Festival (Oktober 2017).

Film berdurasi 90 menit karya sutradara wanita, Mouly Surya, ini bercerita tentang seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) yang didatangi sekawanan perampok. Mereka mengancam nyawa dan mengambil kehormatan Marlina di hadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus kembali. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Film ini disebut-sebut telah mencetuskan genre baru, yaitu Satay Western, penyebabnya menurut Mouly, Marlina dianggap telah menjadi perintis film koboi dari Indonesia. Setting film kering dan tandus di daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur, juga peran Marlina yang selalu menaiki kuda dalam perjalanannya membuat film ini dikatakan mirip film koboi Amerika.

Poster film Marlina-Foto Cinesurya Publikasi
Poster film Marlina-Foto Cinesurya Publikasi

“Kalau orang Italia yang membuat film koboi, disebutnya spaghetti western, sesuai makanan paling terkenal, makanya di Indonesia dibilang Satay Western diambil dari makanan khas Indonesia, Sate, “ papar Mouly dalam konfrensi pers di CGV Blitz, Gran Indonesia, Jakarta, baru-baru ini.

Konten Terkait:  Festival Musik Tembi 2017 (2): Ruang Kreatif untuk Berproses Bersama

Rama Adi, salah satu produser film Marlina merasa terharu, senang sekaligus bangga, film Marlina pulang dan tayang di Indonesia pada 16 November 2017 mendatang. “Semoga film ini menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu, seperti ‘Marlina’ yang menunggu-nunggu ditonton oleh jutaan penonton film Indonesia,” ujarnya.

Foto Bersama Seluruh Pendukung Film-Foto Cinesurya Publikasi
Foto Bersama Seluruh Pendukung Film-Foto Cinesurya Publikasi

Film Marlina juga sudah mendapatkan jalur distribusi sebanyak 18 negara termasuk Amerika Serikat dan Kanada. Masih ada beberapa distributor dari negara lain dalam tahap negosiasi. Marlina menjadi film Indonesia pertama yang menerima subsidi bergengsi dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kebudayaan Prancis, Cinema du Monde.

Tak sabar ingin menonton film ini, nantikan di bioskop kesayangan, akan disiapkan 50 sampai 70 layar yang distribusinya dipusatkan di Jawa, pada 16 November 2017. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here