Jemek Memayungi Fauzie Absal Pakai Daun Pisang

0
252
Fauzie Absal dan Jemek Supardi
Fauzie Absal dan Jemek Supardi

Seorang pantomimer Jemek Supardi bertemu Fauzie Absal seorang penyair Yogya di atas panggung dalam satu pertunjukan kolaboratif, yang diselenggarakan, Kamis, 28 September 2017 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya. Jemek yang mengenakan pakain putih, dan wajahnya serba putih membawa daun pisang untuk memayungi Fauzie Absal yang sedang membacakakan puisi karyanya.

Melangkah keluar dari panggung, dan menerobos kerumunan penoNton, Jemek menuju halaman di bawah dua pohon beringin yang berada di depan Pendhapa Tembi Rumah Budaya. Rupanya, Jemek sudah menyiapkan daun pisang. “Tak ambil daun pisang sebentar, untuk memayungi seorang penyair senior,” kata Jemek sambil berjalan.

Fauzie memandang Jemek dan ketika daun pisang berubah menjadi payung dan untuk memayungi dirinya, Fauzie tidak ambil peduli. Dia terus membacakan puisi karyanya, dan Jemek merespon dengan gerakan pantomim. Jemek dan Fauzie, sudah saling kenal lama, nanun dari segi karya seni keduanya baru saling dipertemukan dalam pertunjukan kolaboratif yang diberi tajuk ‘Sesobek Angin: Kolaborasi Puisi-Pantomin-Badut dan Kendang.’

Frans Arya, Nyoto Yoyok dan Ana Ratri
Frans Arya, Nyoto Yoyok dan Ana Ratri

Di antara Jemek dan fauzie saling berinteraksi, Tedjo Badut, seorang pembadut dari Yogya, dengan kostum khas badut, terkadang bergerak melingkari. Tedjo tidak langsung berinteraksi dengan keduanya, karena gerakan badut dan puisi tidak mudah untuk bertemu. Jemek, dengan khas gerakannya, yang sangat perlahan dan penuh perhatian seperti menghadirkan keheningan.

Di tengah Jemek melakukan gerak pantomin, Nyoto Yoyok dan Frans Arya terus memetik gitar untuk memberi ilustrasi permainan Jemek, sehingga nuanasa senyi yang coba dihadirkan Jemek tidak kosong, melainkan memiliki nuansa lain.

Selang Jemek dan Fauzie mengambil jeda saling berinteraksi, Tedjo Badut tampil dengan permainan badutnya. Mengenakan khas pakaian badut, dia mencoba meminta penonton dengan gerakan dan permainan, bahkan dia membagi permainan menyerupai sempritan dan meminta para penonton untuk meniup sempritan secara bersama, sehingga bunyi sempritan memberikan irama musik untuk pertunjukan badut.

Sujud Sutrisno dan Tedjo Badut
Sujud Sutrisno dan Tedjo Badut

“Sulapan pak Tedjo, sulapan..,” teriak penonton yang sudah mengenal permainan badut dari Tedjo.

Merespon permintaan penonton, Tedjo Badut melakukan satu sulapan yang disebut sebagai penggandaan uang. Tedjo pinjam uang salah satu penonton yang warnanya merah, dan ketika selembar uang kertas Rp100.000 sudah ditangan Tedjo, kemudian melakukan permainan sulap Tedjo mengubah uang itu menjadi Rp 2.000.
Sujud Sutrrisno, tampil setelah Tedjo Badut mengajaknya ke panggung. Di sela-sala Sujud memukul kendang sambil bernyanyi, Tedjo seringkali memberi respon yang lucu, termasuk meledek Sujud.

“Banyak orang menyebut diri sebagai pengamen, tetapi saya bukan seorang pengamen, melainkan petugas PPRT (Penarik Pajak Rumah Tangga,” kata Sujud.
Begitulah pertunjukan ‘Sesobek Angin’ yang mencoba mempertemukan beberapa kesenian dalan satu kolaborasi, sehingga orang bisa menikmati antara serius dan hening, sekaligus lucu dan menggelikan, setidaknya seperti penampilan Tedjo Badut dan Sujud Sutrisno. (*)
`

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here