Kirab Budaya Pantai Gua Cemara Demi Pelestarian Budaya dan Promosi Wisata

0
40
Para penari mengawali memasuki Pantai Gua Cemara dalam Kirab Budaya Gumreguting Kridha Murih Majuning Wisata. Foto: A. Sartono
Para penari mengawali memasuki Pantai Gua Cemara dalam Kirab Budaya Gumreguting Kridha Murih Majuning Wisata. Foto: A. Sartono

Sejak tahun 2012 warga Dusun Patihan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, enyelenggarakan kirab budaya dan larungan ke Pantai Gua Cemara. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Sura. Hal ini didasarkan pada kebiasaan masyarakat nelayan, pedagang, dan petani di kawasan Pantai Gua Cemara sebagai bentuk ucapan syukur atas segala berkah melimpah yang mereka terima sepanjang tahun.

Tanggal 1 Sura dipilih sebagai hari penyelenggaraan kirab budaya karena tanggal tersebut merupakan tanggal merah dimana semua orang libur dan untuk memeriahkan wisata di Pantai Gua Cemara. Fasilitas untuk penyelenggaraan kirab kelima ini diberikan oleh Dinas Kebudayaan Bantul. Sedangkan pendanaan untuk kirab pertama hingga keempat bersifat swadaya. Demikian keterngan Suranto (48) selaku Ketua Panitia Kirab dan Suratio (38) selaku Ketua Pokdarwis baru Dusun Patihan.

Peraga Ratu Kidul dikirab menuju Pantai Gua Cemara, Patihan, Gadingsari, Sanden, Bantul. Foto: A. Sartono
Peraga Ratu Kidul dikirab menuju Pantai Gua Cemara, Patihan, Gadingsari, Sanden, Bantul. Foto: A. Sartono

Ada pun tema yang diusung dalam kirab yang melibatkan seluruh warga dusun dan didukung oleh 12 komponen ini adalah Kirab Budaya Gumreguting Kridha Murih Majuning Wisata (Kirab Budaya Semangat Bekerja untuk Majunya Wisata). Selain dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kirab budaya ini juga dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian budaya di Dusun Patihan yang sejak dulu merupakan dusun seni. Kirab budaya ini juga dimaksudkan untuk menarik minat pengunjung (wisatawan) untuk berkunjung ke Pantai Gua Cemara yang menjadi salah satu andalan ekonomi masyarakat Patihan.

Gunungan hasil bumi siap diperebutkan dalam Kirab Budaya di Pantai Gua Cemara. Foto: A. Sartono
Gunungan hasil bumi siap diperebutkan dalam Kirab Budaya di Pantai Gua Cemara. Foto: A. Sartono

Dalam kirab ini ada sebuah gunungan besar yang terbuat dari hasil bumi setempat yang diperebutkan setelah didoakan. Selain itu juga ada dua gunungan relatif kecil yang juga diperebutkan. Ada pula berbagai macam ubarampe yang diperebutkan. Sebelum larungan (penghanyutan) kambing kendhit dan ubarampe ke laut, masyarakat yang hadir di Pendapa Gua Cemara juga dipersilakan menikmati nasi kuning yang telah disiapkan oleh panitia. Untuk keperluan itu panitia telah menyiapkan 1.000 bungkus nasi kuning yang siap dibagikan gratis.

Ubarampe berupa kambing kendhit adalah kambing dengan warna berbeda yang melingkar dari perut hingga punggung sehingga membentuk seperti kendhit (sabuk). Ubarampe khas di dalam kirab budaya Dusun Patihan ini merupakan simbol dan harapan agar cita-cita warga terkabul seperti bertemunya warna yang sama dari bulu kambing mulai dari perut hingga punggung.

Kambing kendhit dan ubarampe lain siap dilarung di Pantai Gua Cemara. Foto: A. Sartono
Kambing kendhit dan ubarampe lain siap dilarung di Pantai Gua Cemara. Foto: A. Sartono

Sumber setempat menyatakan bahwa semangat warga untuk menyelenggarakan acara itu dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini menjadi tanda bahwa antusiasme warga untuk terlibat dalam acara ini memang cukup kuat. Antusiasme yang demikian itu bisa dilihat dari semangat gotong royong dan semangat ikut iuran dari warga. Bahkan anak-anak dan remaja pun antusias untuk ikut terlibat dalam acara ini, entah dengan ikut menari, membawa ubarampe, atau sekadar ikut barisan dalam kirab.

Ketua Panitia Kirab Budaya dan Ketua Pokdarwis Dusun Patihan Gadingsari Sanden Bantul. Foto: A. Sartono
Ketua Panitia Kirab Budaya dan Ketua Pokdarwis Dusun Patihan Gadingsari Sanden Bantul. Foto: A. Sartono

Apa yang dilakukan oleh warga Dusun Patihan dengan adanya kirab ini ternyata juga menarik minat pengunjung untuk datang menyaksikan. Dengan demikian, kirab budaya ini menjadi tambahan daya pikat bagi wisatawan. Hal ini tentu saja berkorelasi secara siginifikan terhadap pendapatan kawasan wisata Pantai Gua Cemara yang akhirnya juga beradampak pada peningkatan ekonomi warga setempat, baik nelayan, petani, maupun pedagang. Di samping tentu saja peningkatan pendapatan pada retribusi parkir dan retribusi masuk obyek wisata. Pada sisi lain pula hal itu menjadi penyemangat bagi terus berlangsungnya kesenian/kebudayaan di wilayah itu dari generasi ke generasi berikutnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR