Perpaduan Sejarah, Tradisi dan Teknologi

0
193

Ini pementasan seni nan kental nuansa trans-kultural yang menunjukkan kekuatan tradisi sastra Jawa dengan tembang macapat. Pertunjukan yang berlangsung pada tanggal 14 September 2017 ini menampilkan Paksi Raras Alit sebagai penulis naskah sekaligus sebagai penampil dari Kelompok Seni Mantradisi yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Kinanti Sekar. Penyajian seni musik macapat bertema Goro – Goro Diponegoro digelar di amphiteater Tembi Rumah Budaya yang sekaligus menjadi program Forum Musik Tembi bulan September.

Goro Goro Diponegoro merupakan kreasi Puisi Jawa macapat sebagai media utama, yang menceritakan babak sejarah Perang Jawa (1825 – 1830) dengan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh utama dalam peristiwa perebutan kekuasaan Belanda melawan rakyat Jawa. Dalam pertunjukan ini menampilkan Andi Wicaksono (dalang), Kinanti Sekar Rahina (penari), Gardika Gigih, Alit Jabangbayi, Gundhissos, serta punggawa kelompok seni Mantradisi Paksi Raras Alit (vokal), Dibya Imam Prasetya (bass) , Rizki Septiandi (gitar), Nikko YAS (drum/perkusi), dan Jaeko (instrumen tradisi). Dalam konsepnya, kelompok yang sempat tergabung dalam album kompilasi Musik Tradisi Baru 2016 ini melibatkan animasi visual dan musik digital sebagai penanda keluwesan harmonisasi tradisi serta modernitas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR