Penyair, Dokter, Pensiunan dan Musisi Menandai 6 Tahun Sastra Bulan Purnama

0
327
Halida Wibawaty, dokter mata. Foto: Indra
Halida Wibawaty, dokter mata. Foto: Indra

Peringatan 6 tahun Sastra Bulan Purnama, yang jatuh pada 6 September 2017 ditandai dengan penampilan berbagai profesi membacakan puisi karya Yudhistira ANM Massardi. Selain tiga orang penyair berbeda generasi Sutirman Eka Ardhana, seorang penyair Yogya yang aktif sejak ikut Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, dan Rudi Yesus, seorang penyair muda yang mulai aktif menulis puisi sejak tahun 1990-an semasa masih menjadi mahasiswa di jurusan Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Aly D Musyrifa, penyair dan penerjemah.

Pembaca lainnya, seorang dokter mata, Halida Wibawaty, tingal di Solo, dan sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama. Kali ini dia membacakan 2 puisi karya Yudhistira, 1 puisi terbaru dan satu yang lain puisi lama.

“Saya selalu menikmakti setiap kali membaca puisi di Tembi, dan hal ini membuat saya bahagia. Setiap hari yang selalu bertemu dengan banyak pasien, dalam kondisi saya letih harus tetap melayani pasien, yang semua mengeluh sakit. Di Sastra Bulan Purnama, yang sudah genap 6 tahun, saya merasa fresh,” kata Halida Wibawaty sebelum membaca dua puisi karya Yudhis.

Memet Chairul Slamet, musisi. Foto: Indra
Memet Chairul Slamet, musisi. Foto: Indra

Memet Chairul Slamet, seorang musisi, kelompok musiknya ‘Gangsadewa’ sudah melakukan pentas di banyak kota, termasuk di negeri-negeri lain, dan juga beberapa kali pentas di Tembi Rumah Budaya, kali ini dia tampil membaca puisi. Karena seorang musisi, dalam membaca puisi sekaligus dia membawa alat musik untuk mengiringinya dalam membaca.

“Ini merupakan sejarah baru bagi saya, karena saya memberanikan diri membaca puisi karya seorang penyair yang hebat. Selama ini saya lebih banyak bermain musik, termasuk mengolah puisi dengan musik. Malam ini, memperingati 6 tahun Sastra Bulan Purnama, saya membuat sejarah baru: membaca puisi,” ujar Memet Chairul Slamet.

Konten Terkait:  Tebah-Tebah Tradisi Yang Dilupakan
Margono Wedyopranasworo, pensiunan. Foto: Indra
Margono Wedyopranasworo, pensiunan. Foto: Indra

Seorang pensiunan penyiar radio RRI Yogya, yang banyak bergiat di bidang sastra Jawa, dan piawai sebagai MC bahasa Jawa, karena itu sering ditanggap kemana-mana untuk bertindak sebagai MC, yang menggunakan bahasa Jawa, Margono Wedyopranasworo namanya, kali ini dia membacakan dua puisi karya Yudhis yang diambil dari kumpulan puisi ‘Sajak Sikat Gigi’.

“Rasanya, ini kali kedua saya membaca puisi diajak mas Ons Untoro. Pertama membaca puisi di Bentara Budaya Solo, dan yang kedua, malam ini membaca puisi karya penyair terkenal mas Yudhistira,” kata Margono.

Sutirman Eka Ardhana, penyair. Foto: Indra
Sutirman Eka Ardhana, penyair. Foto: Indra

Dua pembaca yang lain, seorang calon pegawai negeri sipil Dita Yulia Paramita, dan seorang perempuan yang memiliki aktivitas di bidang kesenian, Nunuk Nirawati. Keduanya membacakan dua puisi karya Yudhis yang terkumpul dalam buku ’63 Cinta.’
Sutirman Eka Ardhana, seorang penyair dan sahabat Yudhis sejak tahun 1970-an semasa di Persada Studi Klun asuhan Umbu Landu Paranggi, membacakan dua puisi karya Yudhis yang berjudul ‘Biarin’ dan ‘Sajak Sikat Gigi’. Keduanya merupakan puisi lama, yang ditulis tahun 1970-an dan diterbitkan dalam antologi puisi berjudul ‘Sajak Sikat Gigi’.

“Puisi-puisi Yudhis ketika masih muda, terasa sekali kenakalannya, terutama bisa dilihat, salah satunya, pada puisi berjudul Biarin,” kata Eka Ardhana.

Seperti kata Yudhis para pembaca menafsirkan puisi karyanya dengan cara yang berbeda-beda, dan itu menunjukkan bahwa puisi memang bebas untuk ditafsirkan oleh para pembacanya.

“Saya senang sekali, puisi-puisi saya dibacakan oleh kawan-kawan yang sebagian besar baru saya kenal malam ini,” ujar Yudhistira Massardi (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here