Gelaran 24 Jam Tabuh Gamelan

0
289
Penampilan UKM karawitan Universitas Negeri Yogyakarta. Foto: Indra
Penampilan UKM karawitan Universitas Negeri Yogyakarta. Foto: Indra

Gamelan merupakan salah satu seni tradisi yang hingga saat ini selalu melekat dan hangat didengar. Bagaikan sebuah narasi kehidupan, mengalun membawa ketenangan. Tak dipungkiri, perkembangan gamelan sangat pesat, dari yang dianggap ketinggalan jaman hingga mampu berkolaborasi dengan modernisasi. Bahkan tak jarang semua telah tersedia dalam sebuah aplikasi. Namun apapun itu alasannya, dengan memainkan dan memberi sentuhan pada gamelan itu sendiri, nilai-nilai estetika itu akan terbangun.

Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar ajang 24 jam menabuh gamelan bertajuk “24 Jam Menabuh: Sound of The Universe”, Selasa-Rabu, 5-6 September 2017. Tanggal ini dipilih untuk memperingati peluncuran pesawat tanpa awak Voyager oleh NASA yang dilengkapi alat pemutar data rekaman audio, serta sebagai upaya napak tilas 40 tahun gending Puswawarna terpilih sebagai salah satu musik yang diangkut dalam misi tersebut. Gending ini merupakan gending kebesaran Keraton Mangkunegaran yang diciptakan oleh Mangkunegara IV.

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan bahwa tanggal 5 September 1977 pesawat tanpa awak Voyager diluncurkan oleh NASA Amerika Serikat. Pesawat ini digunakan sebagai media untuk menjelajahi sistem tata surya dan menjalin kontak dengan makhluk yang kemungkinan hidup di luar bumi.

“Dewasa ini seni karawitan telah dipelajari oleh bangsa-bangsa di dunia, bahkan sarjana di negara barat telah banyak melakukan penelitian baik kajian dari sisi musik maupun karawitan. Dengan demikian karawitan bukan hanya milik bangsa Indonesia, bukan hanya milik masyarakat Jawa, tetapi karawitan sudah menjadi milik bangsa di dunia,” kata Drs Siswadi M Sn selaku ketua panitia.

Senantiasa melestarikan warisan seni nan adiluhung. Foto: Indra
Senantiasa melestarikan warisan seni nan adiluhung. Foto: Indra

Momentum “24 Jam Menabuh” ini sekaligus menjadi gerakan menyuburkan karawitan di bumi kelahirannya. Hal ini tentu harus menjadi pengingat kita semua untuk senantiasa melestarikan seni karawitan yang menjadi seni adiluhung warisan nenek moyang kita. Eksistensi karawitan pun tak hanya dilihat dari banyaknya acara saja, tetapi dari penyebaran gamelan di berbagai negara, pentas lintas budaya, dll.

UKM karawitan Universitas Gadjah Mada. Foto: Indra
UKM karawitan Universitas Gadjah Mada. Foto: Indra

Ajang ini melibatkan tak kurang dari 29 kelompok karawitan yang berasal dari Jawa dan Bali dengan menampilkan ratusan personel. Para penampil terdiri dari lima grup karawitan profesional, tiga kelompok karawitan anak-anak, lima kelompok karawitan wanita, tiga kelompok karawitan SMTA, 13 UKM karawitan perguruan tinggi dan satu kelompok hadroh dari Kulonprogo. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here