Kalacitra: Gambar Beber Soegeng Toekio

0
357
Boyong Kedaton, acrylic on canvas, 62 x 122 cm, 2012, Karya Soegeng Tokio M. Repro: A. Sartono
Boyong Kedaton, acrylic on canvas, 62 x 122 cm, 2012, Karya Soegeng Tokio M. Repro: A. Sartono

Soegeng Toekio M mencoba menyigi obyek dengan pendekatan mitos, legenda, cerita rakyat, dan juga sumber lain termasuk sejarah serta kegiatan ritual. Sebelum tahun 1979 Toekio lebih berorientasi pada estetika seni rupa Eropa. Namun sejak tahun itu pula ia berubah total kepada seni rupa yang bersandar pada budaya lokal yang bersifat etnik.

Komitmen Soegeng Toekio M terhadap konsep estetika seni rupa tradisi membuatnya seakan bersikap mbalela terhadap nilai-nilai yang dia pelajari di bangku kuliah. “Mbalela” yang dijalani Toekio mungkin salah satunya oleh karena tawaran dari Gendon SD Humardani yang begitu kuat menggoda Soegeng Toekio M agar dia menggali lebih dalam kekuatan seni rupa lokal.

Soegeng berhasil diyakinkan oleh Gendon bahwa seni rupa yang lahir dan hidup di tengah budaya Nusantara memiliki kekuatan yang mengandung nilai-nilai kontekstual. Lebih dari sebatas genuine, seni rupa lokal senantiasa mengandung falsafah kehidupan yang hidup di masyarakat karena lahir dari sistem lingkungan dan kosmologi yang aktual. Hal itulah nilai lebih dalam konsep estetika Nusantara.

Gladi Grebeg, acrylic on canvas, 61 x 122 cm, 2016, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono
Gladi Grebeg, acrylic on canvas, 61 x 122 cm, 2016, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono

Diakui oleh Soegeng bahwa kekayaan nilai yang terkandung dalam seni rupa tradisi memberikan inspirasi yang tak pernah habis. Sekalipun ia menyadari bahwa tak banyak seni rupawan yang saat ini yang memiliki komitmen serupa dirinya. Pada realitasnya ia juga menyadari bahwa sebagai seni rupawan masa kini tak bisa menghindari berbagai pertimbangan keindahan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai kekinian. Ia menyadari sebagai perupa modern, ia mengambil posisi sebagai seniman yang ingin mengambil nilai-nilai atau spirit seni rupa tradisi namun melalui pola kerja serta pandangan hidup kekinian. Pada sisi ini Soegeng Toekio M menghadapi paradox antara konsep estetika tradisi dan modern.

Konten Terkait:  Beksan Srimpi Peperangan Tiada Henti
Kampung Nelayan, acrylic on canvas, 120 x 70 cm, 2010, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono
Kampung Nelayan, acrylic on canvas, 120 x 70 cm, 2010, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono

Pada sisi lain nilai-nilai genuine yang bersifat spiritual dan ia sebuat sebagai taksu dan terkandung pada seni rupa tradisi adalah spirit sekaligus kekayaan yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut dia, keyakinan menghidupkan kembali taksu itu selayaknya “diimani” oleh perupa tanah air yang mengaku terilhami oleh nilai-nilai tradisi (lama). Paradoks seperti termaksud di atas seakan memghadapkan antara hakikat seni rupa modern (berkiblat ke Barat) yang cenderung menonjolkan individualitas dengan seni rupa tradisi yang lahir dan hidup dari nilai-nilai kolektivitas alias kebersamaan. Demikian antara lain hal yang dikemukakan oleh Ardus M Sawega selaku curator dalam pameran dengan tema Kalacitra, Gambar Beber Soegeng Toekio di Galery Tahunmas Artroom, Kasongan, 27-1 September 2017.

Pitutur, acrylic on canvas, 90 x 70 cm, 2014, karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono
Pitutur, acrylic on canvas, 90 x 70 cm, 2014, karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono

Tema karya Soegeng memang bertolak dari khasanah budaya Nusantara baik perupaan dari sumber-sumber verbal maupun nonverbal, seperti kesejarahan, mitos, legenda, wayang, cerita rakyat, dan berbagai perupaan peninggalan kuno. Karya Soegeng seolah membeber gambaran kehidupan tradisi masa lalu. Bahasa wayang beber yang digunakan Soegeng sesungguhnya telah muncul sejak zaman Kediri dan Jenggala, bahkan berkembang di zaman Majapahit.

Melalui seni gambar beber Toekio ini kita seperti diajak kembali menatap pemandangan “Jawa” beserta mantra spiritualitas kehidupannya. Tak pelak hampir sebagian besar tema gambar karya Toekio lekat dengan memori, pengalaman, kehidupan sosial, kultur dan spiritualitas sehari-hari. Toekio cenderung memilih dan berputar merawat kenangan, Jawa, atau masih dibaca sebagai sesuatu yang nostalgik dan seterusnya. (*)

Piwejang, acrylic on canvas, 120 x 70 cm, 2012, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono
Piwejang, acrylic on canvas, 120 x 70 cm, 2012, Karya Soegeng Toekio M. Repro: A. Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here