Dari Edward Hutabarat untuk Lurik Indonesia

0
283
Edward Hutabarat Bersama Triawan Munaf. Foto Lucy Nuranto
Edward Hutabarat Bersama Triawan Munaf. Foto Lucy Nuranto

Setelah berhasil dengan upaya-upayanya mengangkat wastra Indonesia, perancang Edward Hutabarat yang akrab disapa Bang Edo, kali ini mengajak masyarakat Indonesia mengenal lebih jauh kain lurik. Sebuah pameran mulai dari fotografi, video, instalasi hingga pagelaran busana bertajuk ‘Tangan-tangan Renta Lurik Indonesia’ digelar mulai 23 – 28 Agustus 2017 di Pelataran Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Ditemui saat pembukaan pameran, Rabu, 23 Agustus 2017 di NOMZ Kitchen and Pastry, Grand Indonesia, Bang Edo menceritakan pengalamannya selama 7 tahun riset tentang lurik, semua cerita dan pengalaman yang ia dapat, disajikan dalam pamerannya kali ini.

Perancang kelahiran 31 Agustus 1958 ini senang menyebut kain-kain khas dari berbagai daerah di Indonesia sebagai wastra peradaban Nusantara. Istilah itu muncul dari interaksinya yang intensif dengan proses panjang pembuatan kain-kain tradisi di banyak tempat dan pengalaman yang mempertemukan banyak ritual budaya yang melibatkan kain-kain tersebut sebagai bagian dari ritual-ritual itu.

Edward HUtabarat Bersama Pendukung Tangan-Tangan Renta. Foto Lucy Nuranto
Edward HUtabarat Bersama Pendukung Tangan-Tangan Renta. Foto Lucy Nuranto

“Kita bisa melihat, betapa di Indonesia ini, wastra peradaban ini hadir dalam setiap fase penting kehidupan seorang manusia. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Selalu ada kain tradisi yang menyertai. Selain itu, proses pembuatannya pun umumnya melibatkan banyak perajin yang penuh cinta dan dedikasi. Itu sebabnya saya senang menyebut kain-kain tradisi itu sebagai wastra peradaban, karena pada lembarannya terdapat banyak cerita,” kata Edo.

Koleksi Fashion Lurik. Foto Lucy Nuranto
Koleksi Fashion Lurik. Foto Lucy Nuranto

Juga masih jelas dalam ingatan Edo, saat ia berkunjung ke daerah Indonesia Timur, ada sebuah kain menggantung di depan pintu, saat itu hari dimana seorang anak baru lahir melihat matahari untuk pertama kalinya, kain tersebut digunakan untuk ritual tersebut. “Bayangkan betapa beradabnya masyarakat Indonesia, untuk melihat matahari saja melakukan ritual dengan segala persiapannya, itu kenapa saya lebih senang mengatakan kain beradaban bukan kain tradisional,” paparnya.

Konten Terkait:  Bale Kambang, Jejak Keraton Mataram Plered

Begitu juga dengan lurik yang ia sedang ia angkat pamornya ini, tahun 2002, ia dipercaya oleh keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mendandani Gusti Pembayun, saat berada di Istana tersebut ia melihat Raja lewat diikuti oleh ratusan abdi dalem yang mengenakan lurik. “Di situ saya melihat lurik tersebut sangat indah sekali,” tambahnya.

Koleksi Home Living Lurik. Foto Lucy Nuranto
Koleksi Home Living Lurik. Foto Lucy Nuranto

Dalam pameran kali ini, saya bukan mau menjual baju, selain ingin mengangkat taraf hidup para pengrajinnya dan mengajak masyarakat untuk beli lurik dari pengrajinnya juga mengeksplorasi lurik menjadi ornament home living. “Saya akan membuktikan bahwa lurik dengan harga 50 ribu per meter siap bersanding dengan brand apapun bahkan sekelas brand internasional,” paparnya.

Djarum Bakti Foundation yang mendukung gerakan yang dilakukan Bang Edo juga merasa perlu membantu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Jawa Tengah, khususnya Klaten dan Yogyakarta, terlebih Djarum berasal dari Kudus.

“Intinya yang kami lakukan ini adalah social movement, kami ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk datang ke Klaten, belanja langsung ke pengrajin di sana, karena di sana masih banyak pengrajin yang masih menggunakan mesin tradisional, apalagi kain lurik tak kalah cantik dari kain-kain lain, semoga bisa menginspirasi generasi muda yang banyak memiliki bisnis di Instagram,” imbuh Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation. (*)

Koleksi Home Living Lurik. Foto Lucy Nuranto
Koleksi Home Living Lurik. Foto Lucy Nuranto

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here