Gairah Seni Grafis dalam Jiwa Bonaventura Gunawan

0
191
Bonaventura Gunawan berfoto di depa salah satu karya grafisnya. Foto: A. Sartono
`Bonaventura Gunawan berfoto di depa salah satu karya grafisnya. Foto: A. Sartono

Bonaventura Gunawan, pegrafis kelahiran Panggang, Gunung Kidul, 1964 ini merupakan salah satu senirupawan grafis handal dari Yogyakarta. Baru-baru ini ia memamerkan karya grafisnya baik dari teknik tinggi, teknik datar, maupun teknik dalam. Dari tiga teknik grafis ini ia lebih banyak memamerkan hasil karya dari teknik tinggi (woodcut/hardboardcut), teknik reduksi, dan teknik datar (silk screen). Ada sekitar 50 karya grafis yang ia pamerkan di Bentara Budaya, 12-20 Agustus 2017.

Menurut B Gunawan teknik woodcut/hardboardcut merupakan teknik grafis yang sulit. Pertama bahan materialnya memang sulit didapatkan. Kayu lebar tidak lagi mudah ditemukan. Hardboard yang sejatinya diproduksi bukan untuk urusan seni grafis juga semakin sulit didapatkan. B Gunawan menyatakan bahwa teknik reduksi ini merupakan salah satu teknik yang sulit dalam seni grafis. Penggunaan hardboard cukilnya dilakukan secara bertahap. Setiap warna yang dicetakkan adalah satu plat (yang sama). Semakin banyak warna yang hendak digunakan plat yang digunakan akan semakin rusak (tekikis oleh cukilan) hingga sampai pada bentuk yang paling akhir.

Dunia seni grafis juga berbeda dengan seni lainnya. Penggrafis harus bisa menggunakan logika terbalik dalam karyanya. Sebab jika ia ingin mencetak gambar tangan kanan dari anggota tubuh, ia justru harus membuat platnya pada sisi kiri. Jika tidak bisa menggunakan logika terbalik ini, maka gambar atau karya yang dicetakkan pada kanvas, kain, kertas, atau bahan lain justru akan terbalik-balik dan kelihatan aneh.

Selain paham menggunakan logika terbalik, pegrafis juga harus bisa menghitung dan mencermati segala ukuran dan akurasi cetaknya. Jika sedikit saja bergeser, maka hasil cetaknya sungguh menjadi karya yang sangat mengecewakan. Demikian juga ketika mencukil. Sekali saja cukilan keliru, hal itu tidak bisa diperbaiki. Perbaikan atasnya akan semakin merusakkan platnya. Pada sisi ini presisi dan akurasi harus benar-benar matang. Apa yang ada di plat ketika dicetakkan di atas kanvas dan lain-lain bisa jadi beda visualisasinya dari harapan perupanya. Pada sisi ini unsur gamblingnya cukup tinggi. Tidak mengherankan jika seni grafis semacam ini juga kerap ditinggalkan oleh perupanya dan mereka beralih profesi lain. Hal demikian tidak terjadi di dunia seni rupa lain, seperti seni lukis misalnya.

Bonaventura Gunawan berfoto di depan karyanya. Foto: A. Sartono
Bonaventura Gunawan berfoto di depan karyanya. Foto: A. Sartono

Sekalipun demikian, B Gunawan tetap sangat menikmati dunia grafis yang ditekuninya dan pernah berkibar di era tahun 1990-an ini. Ketekunannya di bidang grafis telah mengantarkannya pada puluhan pameran baik tunggal maupun bersama.

Sesungguhnya pula B Gunawan divonis oleh dokter bahwa ia mengalami fibromyalgia syndrome yakni kelelahan fisik dan psikis yang datang berbarengan sekaligus. Dokter menduga bahwa Gunawan memiliki hobi, kebiasaan, atau keinginan yang tumbuh dari bawah sadar, tetapi telah lama sekali dipendam, bahkan diabaikan. Hal demikian yang memicu insomnia dan sebagainya. Barangkali oleh karena ia telah demikian sibuk di dunia bisnis apa yang ter- atau dipendamnya itu seperti tidak menemukan kanalisasi. Pencapaian material yang cukup baik pada sisi lain seperti mengeringkan jiwanya yang sebelumnya demikian kental bergulat dengan dunia seni grafis. Untuk itu seni yang kemudian dijalaninya kembali merupakan jalan kemungkinan bagi Gunawan untuk mencapai katarsis, pembersihan diri. Ia kembali pada oase yang dapat memberikan hidup dan kehidupan yang lebih sinergis. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR