Indahnya Kebersamaan: Pameran 35 Tahun IKAISYO

0
494
Presiden Jokowi, oil on canvas, 90 x 70 cm, 2017 karya Soeharto Pr. Foto: A. Sartono
Presiden Jokowi, oil on canvas, 90 x 70 cm, 2017 karya Soeharto Pr. Foto: A. Sartono

Ikatan Istri Senirupawan Yogyakarta (IKAISYO) yang lahir pada 12 Agustus 1982 merayakan ulang tahunnya yang ke-35 dengan melakukan pameran seni rupa bersama. Pameran yang meliputi seni lukis, patung, dan sketsa tersebut dilakukan di Studio Kalahan milik Heri Dono, di Patukan, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pameran yang menampilkan sekitar 50 karya tersebut diselenggarakan mulai tanggal 14-27 Agustus 2017. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Arifin Panigoro dan dikuratori oleh Prof M Dwi Marianto MFA PhD dan M Cornelia.

IKAISYO bergerak secara sosio-kultural dengan langgam dan cara nyeniman. Tanpa basa-basi dan rekayasa berlebihan, tidak ada format dan struktur yang baku. Walaupun begitu, bermodalkan keuletan kultural, para istri seniman tetap mampu mengadakan pertemuan bulanan secara bergilir dari rumah ke rumah anggota paguyuban. Pertemuan IKAISYO dapat dikatakan sebagai pertemuan temu kangen. Umumnya kaum ibu akan bergerombol dengan kaum ibu, demikian pula kaum bapak.

Perhelatan ini diikuti pula oleh peserta dengan nama besar dan reputasi yang signifikan serta yang sedang menyiapkan diri menuju ke ranah keterkenalan dari sekitar 50 seniman yang karyanya diikutkan, yaitu Aming Prayitno, Subroto Sm, VA Sudiro, Djoko Pekik, Edi Sunaryo, Heri Dono, Hari Budiono, Tulus Warsito, Nasirun, Batara Loebis (alm), H. Widayat (alm), Lian Sahar (alm), Damas (alm), Godod Sutejo, Suwaji, Subroto Sm, Saptoto (alm), Sun Ardi (alm), Tino sidin (alm), Dyan Anggraeni, Hendro Purwoko, Yusman, Kasman Ks, Kartika Affandi, Soeharto Pr, Yunah, Nunuk Ribanu, Naima Farid, Bagong Kussudiardjo (alm), H Widayat (alm), Mahyar Suryaman, Sudargono, Sekarlangit Saptohoedjo, Tini Jameen, Mujita, Zakaria Z, Teguh Suwanto (alm), Momi, M.Dwi Marianto, Ni Made Asri, Bambang Pramudiyanto, Soetopo (alm), Hans G Handoko, Suminto, Laila Tifah, Titiana Irawani, dan Syahrul Koto.

Presiden, fiberglass, 95 x 70 x 60 cm, 2015 karya Yusman. Foto: A. Sartono
Presiden, fiberglass, 95 x 70 x 60 cm, 2015 karya Yusman. Foto: A. Sartono

Pameran adalah cara untuk mengedepankan potensi dari karya dan reputasi sang kreatornya. Melalui pameran para pemirsa masa kini dapat melihat bagaimana selera estetik dan cara pandang masyarakat saat karya itu dibuat. Pemirsa dapat melihat kekhasan dan jiwa zaman. Pameran tidak dapat dimaknai dengan cara masa lalu semata, melainkan harus dimaknai dengan apa yang menggejala di masa kini untuk diambil pelajarannya, guna merencanakan masa depan. Pendek kata suatu pameran bisa dilihat melalui cara pemaknaan yang bersifat projektif. Demikian antara lain Dwi Marianto menuliskan kuratorialnya.

Rasa, fiberglass model perunggu, 90 x 40 x 56 cm, 2014 karya Syahrizal Koto-foto. Foto: A. Sartono
Rasa, fiberglass model perunggu, 90 x 40 x 56 cm, 2014 karya Syahrizal Koto-foto. Foto: A. Sartono

Sementara itu, M Cornelia antara lain menuliskan dalam kuratorialnya bahwa menjadi seniman adalah pilihan dan bahkan mungkin takdir. Tidak semua orang bisa menjadi seniman. Tidak semua orang mempunyai kepekaan dan kepiawaian menjadi seniman yang andal. Mungkin hal ini bisa menjadi pisau bermata dua di setiap keluarga seniman, terutama jika harapan “menjadi seperti seniman yang diangankan” tersebut diberikan kepada pasangannya atau anak-anaknya. Masalah seperti itu bisa memunculkan ladang pertempuran baru yang macam-macam bentuknya. Salah satunya misalnya pemberontakan terhadap style dan genre seniman yang adalah orang tuanya, pencarian yang terus-menerus, atau yang paling ekstrem, tidak ingin menjadi seniman seperti orang tuanya.

Tiga Segi Tiga, acrylic on canvas, 150 x 110 cm, 2017 karya Mahyar Suryaman. Foto: A. Sartono
Tiga Segi Tiga, acrylic on canvas, 150 x 110 cm, 2017 karya Mahyar Suryaman. Foto: A. Sartono

Berkait dengan IKAISYO tidak ada salahnya seniman maupun awam menengok padanya. Di tengah hiruk-pikuk dunia dan pasar kekinian IKAISYO tetap memegang arti kebersamaan. Kebiasaan-kebiasaan yang sederhana dan santun bagaimanapun adalah harta bagi keluarga siapa saja yang membuka pintu kemungkinan untuk berkarya, mewujud dan menjadi apa saja. (*)

Wanita Menyunggi Kendi, oil on canvas, 150 x 60 cm, 1988, karya Djakaria Suria. Foto: A. Sartono
Wanita Menyunggi Kendi, oil on canvas, 150 x 60 cm, 1988, karya Djakaria Suria. Foto: A. Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here