Puisi, Cerpen dan Geguritan untuk Mengenang Yang Tiada

0
259

Sastra Bulan Purnama edisi ke-71, yang mengambil tajuk “Mengenang Yang Tiada Membaca Karyanya’ menyajikan karya-karya tiga penyair Bakdi Sumanto, Teguh Ranusaatro Asmara dan Slamet Riyadi Sabrawi. Ketiganya telah tiada. Karya-karya itu berupa puisi, geguritan (puisi yang ditulis menggunakan bahasa Jawa) dan cerpen, Selasa 8 Agustus 2017 di Amphyrheater Tembi Rumah Budaya.

Para penampil membacakan karya-karya mereka yang dikenang, misalnya Maria Widy Aryani membacakan geguritan karya Bakdi Sumanto, Syam Chandra dan Bambang Darto membacakan puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi, Krishna Miharja dan Sashmyta Wulandari membacakan puisi karya Teguh Ranusastro Asmara dan Krisna serta Landung Simatupang membacakan cerpen karya Bakdi Sumanto.

Syam Candra, seperti biasanya kalau dia tampil membaca puisi, selalu menyertakan ‘perlengkapan’ atau sering secara guyon disebut sebagai udik-udik. Pada pembacaan kali ini, perlengkapan yang dihadirkan kain putih yang ditaburi kembang, dan dilengkapi sejumlah amplop, yang tentunya ada uangnya, serta menyalakan hio untuk menghadirkan bau harum.

Pada akhir membaca puisi, atau setidaknya detik-detik sebelum menyelesaikan membaca puisi, Syam Candra menaburkan kembang kepada para penonton, dan sekaligus menyebarkan amplopnya, sehingga hadirin yang duduk di depan, atau yang duduk di tengah terkena lemparan kembang dan amplop mendapat uang, ada yang isinya Rp 50.000.

Pembacaan puisi diawali Bayu Aji, mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan, membacakan dua puisi karya Teguh Ranusastro Asmara, dan diteruskan Maria Widy Aryani membaca geguritan karya Bakdi Sumanto. Sengaja ditempatkan selang seling antara puisi dan geguritan, karena untuk menunjukan bahwa salah satu dari ketiga yang dikenang ini, selain menulis puisi juga menulis geguritan, bahkan cerpen dan kritik sastra.

Syan Candra. Foto: Indra
Syan Candra. Foto: Indra

Setelah keduanya membaca, Krishna Miharja tampil membacakan satu puisi karya Teguh Ranusastro Asmara, jadi kembali meneruskan pembaca yang pertama. Baru sesudahnya, Syam Candra tampil membacakan dua puisi karya Slamet Riaydi Sabrawi, dan diteruskan Sashmyta Wulandari membaca puisi karya Teguh Ranusastro Asmara, yang kemudian dilanjutkan Bambang Darto membaca dua puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi.

Selingan musik oleh Untung Basuki dan Ujug-Ujug Musik, yang dilakukan secara bergantian, dengan membacakan puisi dari karya penyair yang berbeda, dan sudah meninggal. Untung Basuki melagukan puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi, Linus Suryadi dan Rendra. Ujug-Ujug musik melagukan puisi, salah satunya karya Budhi Wiryawan, penyair muda yang meninggal belum lama dalam usia 53 tahun.

Krishna Miharja. Foto: Indra
Krishna Miharja. Foto: Indra

Pada sesi terakhir, merupakan sesinya Bakdi Sumanto, dengan menampilkan ‘keluarga Bakdi’ dan seorang aktor handal, Landung Simatupang. Nin Bakdi Sumanto membacakan 5 puisi karya suaminya. Sebelum membaca setiap puisi selalu diawali dengan cerita mengenai puisi yang akan dibacakan.

Rupanya, meski sudah lama tidak membaca puisi, Nin Bakdi Sumanto masih ‘elok’ membaca puisi di hadapan publik. Setelah Nin membaca puisi, dua anaknya, kakak beradik, Woody dan Krisna membacakan cerpen karya Bakdi Sumanto. Krisna membaca dan Woody memetik gitar mengiringi penampilan Krisna.

Pada bagian akhir, sekaligus untuk closing, Landung Simatupang membaca cerpen karya Bakdi Sumanto yang berjudul ’Ia Masih Bocah’. (*)

Bambang Darto. Foto: Indra
Bambang Darto. Foto: Indra

TINGGALKAN KOMENTAR