Wangsit dari Paguyuban Sidji

0
132
Matahari di Khatulistiwa # 1, 140 x 100 cm, pensil di atas kanvas, 2017, Karya Herini St. Foto: A. Sartono
Matahari di Khatulistiwa # 1, 140 x 100 cm, pensil di atas kanvas, 2017, Karya Herini St. Foto: A. Sartono

Belasan tahun yang lampau dengan sengaja dan bersama-sama beberapa tokoh budaya dan para pelaku seni rupa di wilayah Imogiri, Yogyakarta, dan sekitarnya sepakat membentuk kelompok seni bernama Paguyuban Seniman Imogiri, Dlingo, Jetis yang kemudian lebih dikenal dengan nama Paguyuban Sidji. Paguyuban Sidji bersifat lebih terbuka dan majemuk karena tidak semua anggotanya memiliki latar belakang atau jalur berkesenian yang yang sama.

Ada anggota yang berprofesi sebagai guru, ibu rumah tangga, PNS, desain grafis/interior, pengrajin, pengrawit, tukang las, dan lain-lain. Pada sisi ini Paguyuban Sidji sepertinya hendak menepis angapan bahwa seni hanya milik kaum seni saja.

Paguyuban Sidji inilah yang melakukan pameran senirupa di Jogja Gallery, Jl Pekapalan No. 7 Alun-alun Utara, Yogyakarta tanggal 1-10 Agustus 2017. Ada pun tema pameran yang diusungnya adalah “Wangsit.”

Terkepung Plastik, 300 x 80 cm, plastik, aneka tanaman, tanah, 2014-2017, karya Suraji. Foto: A. Sartono
Terkepung Plastik, 300 x 80 cm, plastik, aneka tanaman, tanah, 2014-2017, karya Suraji. Foto: A. Sartono

Wangsit dalam konteks kebudayaan Jawa dimaknai sebagai inspirasi, intuisi, bisikan gaib, atau semacam ilham. Dalam konteks ini pula wangsit dipercaya bisa didapatkan dengan cara laku prihatin atau tirakat. Tirakat umum dilakukan di tempat-tempat sepi, keramat, atau makam-makam para tokoh tertentu yang dihormati, dengan mengunjungi tempat-tempat sakral. Tindakan ini dilakukan, utamanya untuk sarana mendoakan arwah leluhur, mendekatkan diri kepada Sang Khalik sekaligus mencari berkah (dan wangsit).

Mencari Keseimbangan, 180 x 150 cm, 2017, akrilik di atas kanvas, karya Mujiyono. Foto: A. Sartono
Mencari Keseimbangan, 180 x 150 cm, 2017, akrilik di atas kanvas, karya Mujiyono. Foto: A. Sartono

Dengan laku tirakat diharapkan mampu memahami lebih dalam esensi kehidupan, mengambil spirit positif dan ilham dari kisah atau cerita tentang sosok atau para tokoh yang dimakamkan. Selain itu laku tirakat juga sebagai sarana untuk mengasah ketajaman batin dan intuisi agar senantiasa menemukan ketenangan hati dan keteguhan pikiran dalam menjalankan hidup. Pada sisi-sisi itulah kiranya karya rupa dalam pameran Wangsit ini disajikan. (*)

Bertahan dalam Hempasan #1, 135 x 180 cm, akrilik di kanvas, 2017, karya Nurbaito. Foto: A. Sartono
Bertahan dalam Hempasan #1, 135 x 180 cm, akrilik di kanvas, 2017, karya Nurbaito. Foto: A. Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR