Pendadaran Sokalima, Pandawa Murid Berprestasi

0
111
Bintang tamu Ki Warjudi (kanan) dan Titik serta enam pesinden, satu pesinden dari Italia (paling kiri) menjadikan pentas wayang semarak penuh tawa. Foto: Herjaka
Bintang tamu Ki Warjudi (kanan) dan Titik serta enam pesinden, satu pesinden dari Italia (paling kiri) menjadikan pentas wayang semarak penuh tawa. Foto: Herjaka

Ki Aneng Kiswantoro M Sn yang adalah dosen ISI jurusan Pedalangan telah menggelar pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk di dusun Jigudan Pandak Bantul pada 22 Juli 2017. Lakon yang dipilih adalah Pendadaran Soka Lima. Sebelumnya, masyarakat setempat tidak mengenal siapa itu Ki Aneng, wayangannya seperti apa. Namun setelah menyaksikan sendiri kemampuannya dalam membawakan pakeliran pewayangan, baik itu sulukan, antawecana maupun sabet, para penonton pun dibuat kagum.

Tidak hanya penonton dewasa, yang menarik dan membanggakan adalah responnya anak-anak terhadap pentas wayang malam itu. Puluhan anak bertahan hingga pukul 02.00 dini hari. Selain itu, ada yang lebih spesial lagi, yaitu tampilnya pesinden dari Italia, Ilaria Meloni. Ia jauh-jauh dari negeri seberang datang di Jawa untuk belajar wayang di ISI Yogyakarta. Pada waktu adegan limbukan pesinden asing tersebut didaulat oleh Ki Dalang agar membawakan lelagon Aja Lamis, karya Ki Nartosabdo. Penampilan Ki Aneng Malam itu cukup prima, dan bersemangat terdorong oleh perhatian ratusan penonton yang cukup antusias menyaksikan pentas malam itu.

Pengrawit muda yang terdiri dari mahasiswa ISI Yogyakarta jurusan Karawitan dan Pedalangan. Foto: Herjaka
Pengrawit muda yang terdiri dari mahasiswa ISI Yogyakarta jurusan Karawitan dan Pedalangan. Foto: Herjaka

Pendadaran Soka Lima lebih banyak bercerita peri hal kehidupan Durna dalam hubungannya dengan para Kurawa dan Pandawa. Hubungan tersebut bermula ketika para Kurawa dan Pandawa melihat kesaktian Durna sewaktu mengentaskan bola dari dalam sumur, hanya dengan rumput. Kejadian tersebut membuat anak-anak Destarastra dan anak-anak Pandu berdecak kagum dan ingin berguru kepada Durna. Prabu Destarastra merestui dan mengijinkan keseratus anaknya dan kelima keponakannya berguru di Sokalima.

Dalang Ki Aneng Kiswantoro sedang membawakan adegan budalan. Foto: Herjaka
Dalang Ki Aneng Kiswantoro sedang membawakan adegan budalan. Foto: Herjaka

Beberapa tahun kemudian Sang Guru Durna mendadar murid-muridnya. Namun sebelum pendadaran diadakan, ia menguji kesetiaan murid-muridnya untuk menangkap Durpada dan Gandamana, karena kedua orang itu telah mencelakai Durna dengan membuat cacat seumur hidup. Dalam ujian ini Pandawa yang menang. Karena Bima dan Arjuna berhasil mengikat Durpada dan Gandamana serta membawanya ke hadapan Pandita Durna. Demikian pula ketika pendadaran murid-murid Sokalima berlangsung, hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan Pandawa berada di atas kemampuan para Kurawa.

Lakon Pendadaran Soka Lima sesungguhnya ingin mengatakan bahwa, setiap orang yang bertekun dalam belajar, semangat tak kenal lelah serta gigih dalam berusaha akan mencapai hasil yang menggembirakan dan membanggakan. Kegembiraannya akan memancar dan dirasakan oleh orang-orang yang ada di dekatnya. Sedangkan kebanggaannya menjadi milik orang-orang yang telah mengorbankan diri demi pencapaian itu, terutama Sang Guru Durna. Pandawa adalah murid yang membanggakan. Tidak hanya Durna, siapa pun akan bangga mempunyai murid seperti Pandawa, terutama Arjuna dan Bima.

Penonton anak-anak dusun Jigudan bertahan sampai dini hari. Foto: Herjaka
Penonton anak-anak dusun Jigudan bertahan sampai dini hari. Foto: Herjaka

Nilai-nilai itulah yang akan ditanamkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul kepada generasi muda, melalui pegelaran wayang kulit purwa yang diselenggarakan oleh Pepadi Komda Bantul Yogyakarta. Seberapa jauh keberhasilan penanaman nilai-nilai luhur melalui sebuah pentas wayang, tidaklah dapat diukur. Namun paling tidak penampilan dalang yang berkualitas seperti Ki Aneng Kiswantoro mengundang decak kagum para penonton terutama anak-anak dan remaja. Sehingga wayang menjadi salah satu alternatif tontonan yang menarik dan mampu bersaing dengan tontonan-tontonan yang lain. Tidak menutup kemungkinan, mengingat bahwa wayang mempunyai lima unsur daya pesona (seni drama dan tari, seni musik vokal, seni sastra dan rupa), wayang akan kembali menjadi idola remaja seperti ratusan tahun lalu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR