Rani Kurniawati Berambisi Jadi Mumpuni

1
74
Rani mencoba mendalami karakter tokoh Dursala sebelum dimainkan di kelir. Foto: Herjaka
Rani mencoba mendalami karakter tokoh Dursala sebelum dimainkan di kelir. Foto: Herjaka

Ketika melihat Rani mendalang tentu para pecinta seni Pakeliran Wayang Kulit Purwa tidak perlu kawatir bahwa wayang tidak lagi disukai oleh generasi muda. Buktinya remaja putri yang bernama lengkap Rani Kurniawati mampu ‘mucuki’ pementasan wayang di Dusun Jigudan Pandak Bantul pada 22 Juli 2017 dengan baik. Walaupun sejak kecil putri pesinden Sujatmi ini sudah mengenal wayang, namun baru satu setengah tahun yang lalu dirinya belajar mendalang.

Niat Rani untuk menjadi dalang baru tumbuh saat masuk kuliah pada Januari 2015 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Karawitan. Pasalnya, selama satu semester kuliah, Rani melihat ada beberapa mahasiswa asing yang belajar karawitan, sinden dan mendalang. Dari pengalaman itu, dirinya disadarkan. Selagi orang asing saja jauh-jauh mau datang dan belajar seni pedalangan, mengapa aku tidak? Demikianlah Rani kemudian memutuskan untuk belajar seni pedalangan di sekolah dalang Habiranda (Hanganggit Biwara Rancangan Dalang) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak Januari 2016.

Mengapa tertarik menjadi dalang? “Karena dengan menjadi dalang saya dapat menyampaikan karakter wayang dalam korelasinya dengan manusia. Dan juga dapat menyampaikan pesan dan amanat yang dibungkus dalam sebuah cerita pedalangan,” tutur Rani. Untuk mendukung cita-citanya menjadi dalang yang berkualitas, dibutuhkan keseriusan yang terus-menerus dalam mempelajarinya kesenian tersebut. Satu setengah tahun belajar seni pakeliran-pedalangan belumlah apa-apa. Mengingat bahwa cabang kesenian ini merupakan satu-satunya cabang kesenian yang paling kompleks dan komplit.

Rani Kurniawati. Foto: Herjaka
Rani Kurniawati. Foto: Herjaka

Jika konsisten dengan tekadnya pada 50 tahun ke depan, Gadis yang lahir pada 29 April 1996 di Gedongsari, Wijirejo, Pandak Bantul itu akan berusia 71 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi. Kalau Rani benar-benar menjadi dalang berkualitas, pada usia tersebut dapat dipastikan ia sudah menjadi dalang yang matang dan berilmu. Itu artinya bahwa selama berproses menjadi dalang yang matang dan berilmu, di kanan kirinya tentu ada dalang-dalang sepuh dan dalang-dalang senior yang dijadikan sumber dan acuan. Juga ada dalang-dalang muda sebayanya yang menjadi pemicu semangat dan pesaing positif dalam berkiprah di dunia pakeliran pedalangan.

Salah satu dalang senior yang menginspirasi Rani saat ini adalah Ki Sri Mulyono S Sn yang tinggal di Kasihan Bantul. Dari Ki Sri Mulyono yang adalah guru Habiranda, satu persatu pengetahuan serta tatakrama pedalangan dan tehnis memegang wayang diajarkan. Walaupun masih sangat sedikit dan belum sempurna ilmu pewayangan-pedalangan yang dikuasai, Rani sudah berani tampil mendalang dalam durasi pendek. Hal tersebut dilakukan karena Rani mempunyai prinsip : kalau bukan kita yang melakukan siapa lagi, dan kalau tidak sekarang kapan lagi’.

Ni Rani membawakan lakon Aji Narantaka. Foto: Herjaka
Ni Rani membawakan lakon Aji Narantaka. Foto: Herjaka

Dengan prinsip tersebut, untuk tampil mendalang tidak perlu menunggu sampai diriya lulus sekolah dalang dengan predikat baik. Setiap diberi kesempatan pentas, Rani tidak pernah menyianyiakan kesempatan itu. Toh pecinta wayang akan memberi seribu maaf atas segala kekurangan. Bahkan mereka mendukung agar dirinya terus belajar mematangan diri menjadi dalang sejati yang bernilai luhur. Alumi jurusan Akuntasi SMKN I Sabdodadi Bantul ini hanyalah salah satu remaja di antara ratusan remaja yang di zaman global ini masih mencintai wayang. Bagi merekalah masa depan kesenian pewayangan pedalangan digantungkan. Semoga lestari turun-temurun. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR