Pentas Sastra di Ajibarang, Purwokerto

0
182
Teaterisasi puisi
Teaterisasi puisi

Wanto Tirta, penyair dari Ajibarang, Purwokerto, membacakan 3 geguritan, puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa, Sabtu malam, 29 Juli 2017 di Rumah Makan Selera Roso, Ajibarang, Purwokerto, dalam acara ‘Sarasehan dan Pertunjukan Sastra Banyumas’. Selain dibacakan sendiri, geguritannya juga diolah menjadi lagu dan diiringi petikan gitar oleh anak-anak muda. Wanto Tirta sudah beberapa kali membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.

Ada sejumlah pembaca lain yang tampil membaca puisi, dan tidak semua dari Banyumas, tetapi ada yang dari Jakarta seperti Martin Dinamikanto, dan kota lainya, seperti Bekasi. Pendek kata, acara sastra Banyumas ini adalah pertunjukan sastra, dari komunitas sastra yang dikenal dengan bahasa ‘ngapak-ngapak’.

Dalam pertunjukan sastra ini, deklamasi menjadi pilihan utama, khususnya bagi penampil dari Banyumas. Deklamasi dan membaca puisi bukan satu hal yang berbeda, yang membedakan pada deklamasi telah menghapalkan puisi yang dibacakan, sehingga tidak perlu membawa teks. Dalam deklamasi yang dipentaskan dipadu dengan musik dan teater, maka jadilah musikalisasi puisi dan dramatisasi puisi.

Mengawali pembukaan, Camat Ajibarang membacakan puisi, dan dilanjutkan deklamasi oleh Esa Aji, yang sekaligus bertindak sebagai pembawa acara. Anak-anak muda dari Prodi PBSI Universitas Muhamadiyah Purwokerto tampil membaca puisi. Penampil deklamasi yang lain, Edi Pranata, Teater Perisai Musik Puisi, kelompok Ampas Kopi. Lukman Suyatno dari SMA 2 Brebes, dan ditutup penampilan Gethek bersama Resi Destanti.

Sastra ngapak-ngapak, sebut saja begitu, untuk menandai sastra Banyumas(an), sebenarnya bukan hanya terdapat di Banyumas, tetapi bisa ditemukan di kota-kota lain yang menggunakan bahasa sejenis seperti Cilacap, Pekalongan, Tegal. Tetapi, geliat sastra di Banyumas terasa hidup dibandingkan kota-kota lain yang menggunakan bahasa sejenis.

Edi Pranata
Edi Pranata

Para pegiat sastra dan sastrawan di Banyumas, tampaknya tidak ingin bahwa di Banyumas sepi dari kegiatan sastra, maka anak-anak muda pegiat sastra di sana, juga komunitas-komunitas sastra yang lain mencoba ‘menghidupkan’ sastra di area Banyumas dan mengundang dari kota-kota lain.

Pihak Kecamatan Ajibarang, yang lokasi geografisnya digunakan untuk kegiatan sastra merespon dengan memberikan fasilitas, sehingga kegiatan sastra bisa berjalan, dan diupayakan secara rutin akan dilakukan.

Pilihan tempat, di satu Rumah Makan di Ajibarang, yang memiliki ruang kecil digunakan untuk panggung, dan hadirin yang melihat mengambil di tempat ruang Rumah Makan, dengan menata kursi yang biasa digunakan untuk rumah makan. Anggap saja, satu panggung yang sederhana dan bisa ‘hidup’ karena untuk pergelaran sastra.

Dimas Indiana Senja, seorang penyair dari Purwokerto, yang pernah lama tinggal dan berproses di Yogya, sekarang kembali ke Purwokerto membangun komunitas sastra anak-anak muda, mencoba menyelenggarakan kegiatan sastra, setidaknya seperti diselenggarakan di kota-kota lain.

Wanta Tirta
Wanta Tirta

“Saya bersama teman-teman muda di Purwokerto mencoba menghidupkan komunitas sastra dengan berkarya dan menyelenggarakan kegiatan,” kata Dimas Indiana Senja.

Komunitas Sastra di Banyumas seperti komunitas sastra di kota-kota lain yang berbeda bahasa lokalnya, mencoba menghidupkan sastra di daerahnya dengan cara masing-masing, dan Komunitas Sastra Banyumas terlihat lebih dinamik dibandingkan kota di dekatnya, yakni Cilacap. Upaya untuk terus menghidupkan kegiatan sastra, kiranya merupakan kerja kebudayaan yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, lebih-lebih pemerintah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR