Pameran Empu: Ihwal Dunia Perempuan

0
126
Chatterbox, Resin, kertas, vaiable dimension, 2017 karya Ade Artie Tjakra. Foto: A. Sartono
Chatterbox, Resin, kertas, vaiable dimension, 2017 karya Ade Artie Tjakra. Foto: A. Sartono

Empu merupakan istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli, menguasai ilmu kasampurnaning urip, pencipta karya agung-adiluhung. Leluhur Nusantara memberikan istilah per-empu-an untuk kaum wanita. Istilah ini bukan hanya penyebutan untuk membedakannya dengan jenis kelamin lain, namun sampai pada esensinya yang lebih manusiawi. Hal itu juga sebagai bentuk apresiasi rasa penghormatan tinggi terhadap kaum wanita. Dengan sebutan empu kaum wanita mendapatkan satu-satunya sebutan yang paling tepat dan hebat di muka bumi.

Hal tersebut di atas juga merupakan perwujudan penghormatan tertinggi kepada kaum perempuan yang pada masa lalu tidak terdapat intimidasi atas dominasi gender, melainkan penghormatan penuh kepada penguasa Eka Pratala yaitu Sang Hyang Batari Pertiwi (Ibu Pertiwi). Dalam konteks kebudayaan Jawa bumi sering diibaratkan sebagai ibu, sedangkan langit sebagai bapa. Bumi tempat awal kehidupan, tempat mengasuh segala kehidupan, tidak membeda-bedakan, semua diterima sepenuh jiwa. Bumi mewakili kerendahan hati dan pengorbanan tanpa batas.

Tema Empu inilah yang kemudian diusung oleh empat orang perupa perempuan yang memamerkan karya mereka di Bentara Budaya Yogyakarta mulai tanggal 2-10 Agustus 2017. Mereka itu adalah Ade Artie Tjakra, Bibiana Lee, Ida Ahmad, dan Indah Arsyad. Mereka adalah perempuan-perempuan yang sudah kenyang dengan pengalaman sebagai ibu. Keempatnya juga sudah lama menjalin pertemanan sehingga mereka sudah seperti saudara sendiri. Sebagai seniman perempuan mereka juga sudah banyak melakukan pameran baik di Indonesia maupaun di mancanegara. Sekalipun demikian, baru kali inilah mereka berpameran bersama di Yogyakarta karena mereka ingin merasakan atmosfir kesenian yang sangat kuat di kota ini.

Another Side # 1, Video (looping), 2017 karya Indah Arsyad. Foto: A. Sartono
Another Side # 1, Video (looping), 2017 karya Indah Arsyad. Foto: A. Sartono

Ade Artie menampilkan enam buah patung dengan judul Chatter Box. Karya ini dimaksudkan sebagai ungkapan dari “tukang ngobrol”. Lewat karyanya itu Ade tidak hanya menampilkan sosok-sosok temannya yang perempuan, namun ia juga sedang memperbincangkan tentang proses komunikasi dan eksperimentasi, yakni dua hal yang selalu lekat dengan diri manusia namun sering dilupakan.

Sementara Bibiana Lee mengangkat tema pelecehan yang dialami perempuan dalam dua karya instalasi interaktif. Pelecehan yang dimaksudkan bukan pelecehan fisik, melainkan pelecehan verbal yang seringkali berlanjut menjadi emotional abuse. Pelecehan semacam ini tidak terlihat karena tidak membekas secara fisik.

Asshole, Digital print on paper & interaktif online video, 280 x 128 cm, 2017 karya Bibiana Lee. Foto: A. Sartono
Asshole, Digital print on paper & interaktif online video, 280 x 128 cm, 2017 karya Bibiana Lee. Foto: A. Sartono

Ida Ahmad memajang seri patung perempuan, yakni perempuan yang sedang hamil dan perempuan yang sedang memegang kalkulator. Keduanya hendak menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk yang kuat, yang hampir selalu dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang ia dapatkan. Kehamilan dan proses melahirkan adalah salah satu contoh bagaimana perempuan mempertaruhkan nyawanya, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap kuat dan tegar demi keberlangsungan keturunannya.

Umi, Resin, vaiable dimension, 2017, karya Ida Ahmad. Foto: A. Sartono
Umi, Resin, vaiable dimension, 2017, karya Ida Ahmad. Foto: A. Sartono

Indah Arsyad memamerkan karya video yang diawali dengan riset tentang perempuan-perempuan di Kampung Bangka, Kemang, Jakarta. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengeksplorasi masalah kelas dan jenis kelamin yang membentuk masyarakat urban, yaitu realita aspek kehidupan sosial. Indah menanyakan mengapa mereka bekerja dan apa harapan mereka. Selain itu, Indah juga meminta teman-temannya dari kalangan menengah atas untuk berbicara dengan kata-kata yang hampir sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh perempuan dari Kampung Bangka. Hal itu dilakukan untuk memberi perbandingan tentang alasan dan harapan pada perempuan-perempuan dengan latar belakang tingkat ekonomi yang berbeda. Demikian antara lain seperti yang diungkapkan Bambang “Toko” Witjaksono selaku kurator dalam pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR