Menyapa Yogyakarta dalam Grand Concert Tour 2017

0
471
Menyapa dan sedikit bercerita sekilas tentang karya. Foto: Indra
Menyapa dan sedikit bercerita sekilas tentang karya. Foto: Indra

Tujuh kota dikunjungi, tujuh konser dalam tujuh hari adalah prestasi yang luar biasa untuk skala konser musik berkelas internasional. Ya, Jakarta Simfonia Orkestra (JSO) bersama dengan Jakarta Oratorio Society (JOS) di bawah besutan Stephen Tong telah memberi suguhan musik klasik yang digelar secara gratis di Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Solo, Yogyakarta dan Bandung.

Yogyakarta menjadi salah satu destinasi utama dalam penyelenggaraan konser tersebut, selain sebagai kota pelajar, sebagian besar musisinya berasal dari kota gudeg ini. Tepat pada tanggal 14 Juli 2017 bertempat di Grand Pacific Hall, penikmat musik klasik di Yogyakarta dimanjakan dengan alunan merdu karya-karya komposer legendaris dunia. Dengan penghantar pengetahuan dari konduktor Stephen Tong. Sebelum karya dimainkan sang konduktor bercerita dan menjelaskan alur cerita karya tersebut.

Tak kurang dari 156 orang musisi dan paduan suara menunjukkan penampilan terbaiknya malam itu, setelah malam sebelumnya tampil di hadapan pecinta musik klasik di Solo. Rombongan ini membagikan musik secara “cuma-cuma” dalam bentuk sebuah apresiasi untuk menjangkau berbagai kota yang berada dalam peta per-orkestra-an Indonesia. Nyatanya, memang tidak harus ke luar negeri, Indonesia sendiri pun masih membutuhkan tenaga ekstra untuk memasyarakatkan musik orkestra.

Jakarta Simfonia Orchestra. Foto: Indra
Jakarta Simfonia Orchestra. Foto: Indra

Beberapa nomor karya mulai dari era Barok hingga Romantik tersaji malam itu. Konser malam itu dibuka dengan karya Franz von Suppe, Light Cavalry Overture yang dipentaskan secara perdana pada tahun 1866 di Wina. Disusul dengan The Marriage Of Figaro karya Mozart, sebuah karya opera komedi yang menggambarkan upaya perselingkuhan dan cinta. Emile Waldteaufel dengan karyanya Skaters Wals, ditulis ditahun 1882, karya ini ditulis terinspirasi musim dingin yang buruk di Eropa ditahun 1872.

Konten Terkait:  Representasi # 2 Pameran Realisme Jogja?

Disusul karya Johann Straus, Voices of Spring Op. 410, karya dengan irama waltz ini menggambarkan pemandangan di Wina pada awal musim semi. Egmont Overture Op. 84 karya Ludwig van Beethoven, adalah music pembuka berdasarkan lakon yang bernama Egmont, yang martir bagi orang-orang Belanda saat berjuang melawan tirani dan invasi Spanyol abad ke-16. Karya Jean Sibelius berjudul Finlandia mampu menggambarkan perjuangan orang-orang Finlandia di bawah Kekaisaran Rusia. Kemudian sebuah karya yang sangat akrab dari komposer GF Handel berjudul Hallelujah dan diakhiri dengan Symphony No. 2 Lobgesang (Hymn of Prise) karya Felix Mendelssohn.

Tampil memukau. Foto: Indra
Tampil memukau. Foto: Indra

Akhirnya rangkaian tur Jakarta Simfonia Orchestra bersama Jakarta Oratorio Society ini adalah sebuah pembelajaran bagi seluruh pihak. Musik adalah sebuah anugerah di mana musiklah yang menyatukan dan membuktikan bahwa orkestra adalah salah satu pencapaian dalam kolaborasi bersama berbagai pihak. Bagi dunia musik klasik Indonesia, pencapaian ini adalah sebuah prestasi tersendiri namun visi yang mengutamakan sebuah apresiasi bagi masyarakat luas layak kita hargai. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here