Displai Baru Koleksi Museum Tembi Rumah Budaya

0
349

Beberapa waktu lalu, Museum Tembi Rumah Budaya Yogyakarta melakukan displai baru untuk beberapa koleksi museum, di antaranya adalah alat permainan dakon dan alat penerangan tradisional. Displai baru koleksi Museum Tembi tersebut saat ini sudah bisa dinikmati oleh para pengunjung Tembi Rumah Budaya.

koleksi alat permainan dhakon di Museum Tembi. Foto: Suwandi
koleksi alat permainan dhakon di Museum Tembi. Foto: Suwandi

Koleksi alat permainan dakon sekarang ditampilkan lebih bervariasi. Selain bisa membaca deskripsi tentang sejarah permainan dakon, pengunjung juga bisa melihat aneka jenis dakon sesuai dengan perkembangan zaman. Setidaknya, ada beberapa alat koleksi permainan dakon disajikan dari masa ke masa, mulai dari berbahan kayu yang klasik, berbahan kayu sederhana hingga berbahan plastik yang sekarang banyak dijual di tempat-tempat penjualan alat permainan modern.

Alat penerangan tradisional di Museum Tembi. Foto: Suwandi
Alat penerangan tradisional di Museum Tembi. Foto: Suwandi

Bahkan, pengunjung juga bisa memeragakan permainan dakon langsung di dekat tempat displai koleksi alat permainan dakon. Bisa main sepuasnya. Selain itu, pengunjung juga bisa memilih kecik (biji) yang digunakan untuk bermain dhakon. Setidaknya ada delapan jenis kecik yang tersedia di koleksi alat permainan dhakon. Ada beberapa jenis kecik langka, sehingga kadang-kadang pengunjung tidak mengenalinya. Di antara kecik-kecik yang dipamerkan adalah kecik tanjung, srikaya, sirsat, sogok telik, lerak, sawo manila, klungsu, dan kecik dari plastik. Cukup beragam bukan? Koleksi alat permainan dakon berada di ruang Madyosuro.

Aneka kecik dalam permainan dhakon di Museum Tembi. Foto: Suwandi
Aneka kecik dalam permainan dhakon di Museum Tembi. Foto: Suwandi

Sementara itu, di ruang Wonogiri (atau Gandhok Kiwa) sekarang ini juga dipamerkan alat penerangan kuno. Ada tiga koleksi yang kebanyakan anak-anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mengenali alat penerangan kuno tersebut, yaitu teplok, triyom, dan petromaks. Ketiga koleksi tersebut semuanya menggunakan minyak tanah sebagai sumber apinya. Sayang sekarang minyak tanah mahal sehingga alat-alat penerangan seperti itu semakin terdesak oleh keberadaan listrik yang lebih hemat dan praktis. Tetapi setidaknya dari alat-alat penerangan sederhana itu telah melahirkan pahlawan-pahlawan besar bagi bangsa Indonesia di kala itu. (*)

Konten Terkait:  Pada Senin Pekan Ini Jangan Pergi ke Arah Baratdaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here