Amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman yang Relevan dengan Kekinian

0
1434
Patung Jederal Sudirman sedang naik kuda di Museum Jenderal Besar Sudirman Yogyakarta. Foto: Suwandi
Patung Jederal Sudirman sedang naik kuda di Museum Jenderal Besar Sudirman Yogyakarta. Foto: Suwandi

Di halaman depan Museum Jenderal Besar Sudirman Yogyakarta terdapat patung Sudirman naik kuda. Terlihat gagah dan berwibawa sang jenderal besar.

Sudirman pantas menyandang gelar Jenderal Besar karena banyak jasanya kepada Indonesia saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat Belanda hendak menjajah kembali setelah proklamasi 1945, dalam keadaan sakit parah, Jenderal Sudirman terus berjuang, bergerilya pun dijalani. Semangatnya terus menyala-nyala sehingga memberi semangat kepada anak buahnya di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) kala itu.

Amanat Jenderal Sudirman di bawah patungnya di Museum Jenderal Besar Sudirman Yogyakarta. Foto: Suwandi
Amanat Jenderal Sudirman di bawah patungnya di Museum Jenderal Besar Sudirman Yogyakarta. Foto: Suwandi

Walaupun hanya menjabat sebagai Panglima TNI kurang dari 5 tahun (18 Desember 1945—29 Januari 1950), tetapi keteladanannya tentu pantas ditiru oleh anak buahnya dan seluruh rakyat Indonesia. Banyak amanat yang disampaikan oleh Jenderal Besar Sudirman, beberapa di antaranya dituliskan di bawah patung Sudirman di museum tersebut. Satu di antaranya berbunyi, “Anak-Anakku Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan jiwa (dan) harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”

Makna amanat itu sangat mendalam, hingga jiwa raga harus dipertaruhkan untuk kejayaan Indonesia. Jangan sampai Indonesia terkoyak-koyak oleh ulah oknum yang hanya mementingkan individu, kelompok, maupun golongannya sendiri, seperti yang terjadi sekarang ini .

Suasana halaman depan Museum Jenderal Besar Sudirman yang ada patungnya sedang naik kuda. Foto: Suwandi
Suasana halaman depan Museum Jenderal Besar Sudirman yang ada patungnya sedang naik kuda. Foto: Suwandi

Setiap hari, sajian menu saling serang, saling menghujat, saling menjatuhkan, dan menganggap dirinya yang paling benar untuk mencapai kejayaan Indonesia didengungkan. Seharusnya, semua berpaling kembali pada wasiat yang disampaikan Jenderal Sudirman, seperti yang dituliskan di Museum Panglima Besar Sudirman Yogyakarta tersebut. Semoga semua sadar dan belajar kepada sejarah masa lalu (*)

Konten Terkait:  Prawirotaman, Kisah Hilangya Kampung Batik di Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here