The Secret Code: Kode Melalui Seni dari Heri Dono

0
788

The Secret Code of Heri Dono, demikian tema pameran yang disajikan oleh Heri Dono di studio miliknya, Studio Kalahan, Yogyakarta. Pameran dalam rangka ikut memeriahkan ArtJog 2017 ini dilangsungkan di studionya mulai tanggal 7 Juni-7 Juli 2017.

Fermentation of Brain, multiplex, fiberglass, electronic, light timer, dimension variable, 2015, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono
Fermentation of Brain, multiplex, fiberglass, electronic, light timer, dimension variable, 2015, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono

Melalui pameran ini kita akan mengetahui lebih banyak tentang kode visual karya Dono dan makna di baliknya. Karya-karyanya dekat dengan wayang dan dunia kartun secara visual. Secara konseptual Heri Dono menyampaikan beberapa gagasan dari dunia animistik melalui interaktivitas karya seni instalasinya.

Heri Dono juga menumbuhkan elemen gerak dan suara, sebagai salah satu karakteristik pekerjaan instalasinya, yang mungkin terkait dengan besarnya pengaruh seni pertunjukan di awal proses kreatifnya. Tampaknya Heri Dono memang tertarik dengan hal-hal demikian karena adanya hubungan antara artis dan pendengarnya dalam penampilan karya-karyanya .

Puppets Watching Puppets, mixed media, vaiable dimensions, 2000, karya Heri Dono. Foto: A, Sartono
Puppets Watching Puppets, mixed media, vaiable dimensions, 2000, karya Heri Dono. Foto: A, Sartono

Kesenian tradisional seperti wayang, digunakan sebagai media provokasi untuk mengatasi masalah global tentang isu kemanusiaan, sosial dan politik. Bagi Dono, penjelajahannya terhadap wayang bukan untuk melestarikan wayang agar tetap seperti itu, seperti apa adanya, atau mengurangi bentuk tradisional, tapi juga untuk menciptakan tanda-tanda baru.

Melalui Kode Rahasia Heri Dono, penonton diharapkan dapat memahami bahwa simbol yang berulang, seperti alat kelamin laki-laki dan sayap pada karya Heri Dono, barangkali menumbuhkan banyak interpretasi. Akan tetapi secara subyektif dan pribadi untuk Heri Dono selaku pencipta kode visual akan menjadi ciri khas yang menandai beragam karya yang dihasilkannya.

Raden Saleh Animachines, 2015-2016, Kerete kuda dari Kekeratonan Cirebon, 262 x 363 x 215 cm, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono
Raden Saleh Animachines, 2015-2016, Kerete kuda dari Kekeratonan Cirebon, 262 x 363 x 215 cm, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono

Seni instalasi Heri dono memberikan contoh terbaik tentang upaya kreatif merevitalisasi praktik kesenian tradisional, yang berakar kuat di Indonesia. Hal itu dilakukannya pada banyak seni instalasi dan visualisasi karyanya. Melalui karyanya pula Dono juga mengkritisi munculnya televisi, bioskop dan internet. Ia juga mengkritisi rezim Soeharto yang menerapkan betapa ketatnya penyensoran terhadap karya-karya yang penuh dengan elemen sosio-politik.

Moon Racer, mixed media, 310 x 150 x 140 cm, 2009, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono
Moon Racer, mixed media, 310 x 150 x 140 cm, 2009, karya Heri Dono. Foto: A. Sartono

Sejak awal karier hingga kini Heri Dono telah berkeliling dunia untuk merespon undangan pameran dan workshop di berbagai negara. Heri Dono dikenal melalui seni instalasinya yang dihasilkan dari eksperimennya dengan teater rakyat Jawa yang paling populer, yakni wayang. Melalui jagad wayang versinya ia menampilkan sejumlah elemen artistik, dan ekstra artistik: seni visual, nyanyian, musik, bercerita, promosi mitologi filsafat kehidupan, kritik sosial, dan humor yang menjadi kesatuan yang koheren untuk membuat kinerja genetik yang terdiri dari elemen multimedia yang kompleks. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here