Pameran Sirkuit Bagong Kussudiardja: Pak Bagong dalam Karya Rupa

0
1105
Ibu dan Anak (Mother and Child), acrylic on canvas, 148 x 290 cm, 2000, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Ibu dan Anak (Mother and Child), acrylic on canvas, 148 x 290 cm, 2000, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Gereja Agung (The Great Church), acrylic on canvas, 70 x 70 cm, 1999, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Gereja Agung (The Great Church), acrylic on canvas, 70 x 70 cm, 1999, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono

Almarhum Bagong Kussudiardja tidak hanya dikenal dan terkenal sebagai seniman tari, namun ia adalah seniman yang memiliki banyak talenta. Ia memang penari di samping juga perupa sekaligus sastrawan, koreografer, pematung, dan lain-lain. Di samping ia multi talenta, ia juga memiliki energi yang besar yang dapat meledak kapan saja dan ledakan itu mewujud dalam karya-karyanya.

Suwarno Wisetrotomo selaku kurator pameran antara lain menuliskan bahwa pameran yang dibingkai dengan tema Sirkuit Bagong Kussudiardja yang dilaksanakan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogykarta, pada 22 Mei-18 Juni 2017 adalah bagian atau cara menampilkan atau mengingat kembali perihal “jejak sirkuit” Bagong Kussudiardja yang sudah dibangunnya dengan segenap semangat dan gairah (passion).

Title Unknown, acrylic on canvas, 70 x 92 cm, 1998, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Title Unknown, acrylic on canvas, 70 x 92 cm, 1998, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Title Unknown, chinese ink on paper framed, 59 x 46 cm, 1995, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Title Unknown, chinese ink on paper framed, 59 x 46 cm, 1995, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono

Tanpa kecerdasan sosial, tidak terbayangkan seorang Bagong Kussudiardja memiliki kiprah yang begitu luas, menembus batas sekat: agama, birokrasi, dan kekuasaan. Sepanjang 76 tahun kehadirannya di dunia, lebih dari separuh usia Bagong Kussudiardja didedikasikan kepada dunia kesenian dengan seluruh virtousitasnya, dengan kesadaran ulang-alik antara yang profan dan yang religius, yang berujung pada sikap sumeleh sebagai penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.

Semangat, gairah, dinamika, dan modus kreatif Bagong Kussudiardja yang sangat besar membuatnya tidak bisa membendung gairah penciptaan. Setiap pagi setelah berolah raga ia melukis. Pada siang harinya ia mengajar dan latihan tari atau menerima tamu. Pada sore hari terkadang ia masih menyempatkan diri melukis lagi. Ia memang sangat produktif. Produktivitas yang demikian dalam pandangan sinis sering digelincirkan sebagai pelukis yang komersial. Hal ini sering menjadikan sang seniman tidak bisa nyenyak dalam tidurnya.

Tidak mudah untuk tiba pada keberanian seperti itu. Penuh risiko dan tekanan. Oleh karenanya dibutuhkan nyali dan mental baja untuk sampai pada keikhlasan seperti itu. Bagi Pak Baging yang di-stigma sebagai pelukis yang komersial tidak membuatnya mengkeret.

Konten Terkait:  Tiga Anak Rendra Tampil di Sastra Bulan Purnama
Title Unknown, silver ink on paper framed, 40 x 32 cm, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono
Title Unknown, silver ink on paper framed, 40 x 32 cm, karya Bagong Kussudiardja. Foto: A. Sartono

Hal itu justru menggairahkannya karena energi kreativitasnya justru membebaskan dirinya sebagai makhluk bermain. Pak Bagong hanya ingin menjadi makhluk kreatif yang bisa dengan seenaknya ulang-alik menjamah aneka macam ruang kreatif. Demikian pengantar yang disampaikan dalam pameran ini oleh Butet Kertaredjasa selaku Ketua Yayasan Bagong Kussudiardja dan anak kelima dari Bagong Kussudiardja.

Bagong Kussudiardja selain dikenal sebagai penari/koreografer adalah pelukis yang produktif dengan karakter yang kuat. Karyanya penuh spirit dan sarat dinamika gerak. Pameran telah dilakukannya ratusan kali baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ia juga telah banyak menerima penghargaan, salah satunya berupa Medali Emas dari Paus Paulus II untuk lukisannya yang menggambarkan Yesus dalam cita rasa Indonesia dan Medali Emas dari Pemerintah Bangladesh untuk karya lukis abstaraknya yang dipamerkan dalam pameran seniman Asia-Pasifik di Kota Dakka. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here