Drama Melayu Tionghoa di Indonesia untuk Gelar Doktor

0
396

Disertasi berjudul ‘Drama Melayu Tionghoa Di Indonesia Periode Tahun 1912-1937: Sebuah Kajian Pascakolonial’ dipertahankan Cahyaningrum Dewojati dalam ujian terbuka untuk memperoleh Derajat Doktor dalam Bidang ilmu-ilmu Humaniora (Sastra), Senin pagi 19 Juni 2017 di Ruang Multimedia, Gedung RM Margono Djojohadikusumo Lantai II Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Dalam kesimpulan pada ujian terbuka tersebut, Cahyaningrum Dewojati menyampaikan, pada dasarnya, kesusasteraan Melayu Tionghoa memiliki peran penting terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Namun, kebijakan kolonial dan gejala rasisme menyebabkan kesastraan mereka termajinalisasi, padahal karya sastra, khususnya drama peranakan Melayu Tionghoa memuat berbagai macam narasi tentang identitas mereka.

“Drama Melayu Tionghoa yang ditulis oleh pengarang peranakan Tionghoa di Indonesia pada masa kolonial Belanda periode tahun 1912-1937 dikategorikan sebagai karya sastra hybrid atau hibrida. Pola-pola hibrida yang terefleksikan dalam drama mereka tersebut merupakan hasil perjumpaan dan gesekan pada penulisnya dengan berbagai kebudayaan, ras dan kelas sosial,” kata Cahyaningrum Dewojati.

Dijelaskan oleh Ningrum, panggilan dari Cahyaningtum Dewojati, terdapat pola atau ciri-ciri hibriditas yang terdapat dalam drama Melayu Tionghoa pada masa itu. Ciri pertama, karya drama tersebut menunjukkan sikap ambivalensi pengarang terhadap penguasa kolonial Belanda dan masyarakat pribumi. Ciri kdua, terdapat dinamika pergulatan dan negosiasi antarbudaya. Perjumpaan kaum Tionghoa dengan kebudayaan lainnya di Indonesia pada masa kolonial Belanda sering menimbulkan pergumulan identitas diri pada kaum peranakan Tionghoa.

“Ciri ketiga, terdapat keterbelahan pola hibriditas dalam masyarakat Tionghoa karena perbedaan perspektif mengenai structure of feeling yang berkaitan dengan konsep homeland. Dan ciri keempat, pada dasarnya drama-drama Melayu Tionghoa merupakan perwujudan dari fokalisasi kaum peranakan Tionghoa di Indonesia,” ujar Cahyaningrum.

Konten Terkait:  Sihir Dramatari Nyai Dasima Karya Novianti Fachmi

Menurut Ningrum, dalam kaitannya dengan klasifikasi hibriditas, dari drama-drama yang telah dianalisis dapat dilihat bahwa sebagian besar pengarang mengontruksi diri mereka sebagai kaum yang kreolistik. Hal ini disebabkan oleh adanya metissage atau percampuran budaya antara memori kolektif tentang leluhur mereka dan budaya setempat.

“Percampuran ini membentuk structure of feeling yang sebagian besar memihak kepada Hindia Belanda. Akan tetapi, meskipun demikian, masih ditemukan beberapa sikap kontradiktif pengarang. Sikap kontradiktif pengarang yang tercermin dari drama-drama tersebut disebabkan adanya interseksional antara kelas sosial, gender, ras dan nasionalitas yang cukup rumit,” ujar Ningrum.

Para Dewan Penguji
Para Dewan Penguji

Prof Dr Faruk SU selaku promotor ketika diberi kesempatan untuk memberi pesan atau nasihat kepada Dr Cahyaningrum Dewojati setelah resmi lulus dengan predikat sangat memuaskan mengatakan dengan nada guyon dan penuh metafor, Cahyaningrum ini seorang pedagang yang menjual apa aja, ada gender, sastra dan lainnya, laiknya sebagai toko kelontong semua dagangan disediakan.

“Saya kira sekarang, Cahyaningrum sudah harus memulai memiliki toko yang menyediakan barang yang khusus, yang spesifik sudah bukan lagi sebagai toko kelontong,” ujar Faruk sambil bercanda. Hadirin dalam ujian terbuka itu tertawa mendengar nasehat dari Faruk yang penuh canda dan metaforik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here