Tangan Mencintai Kain: Kreasi dari Kain dan Warna

0
202

Kain yang merupakan hasil anyaman benang, rajutan yang jalin menjalin yang mewujud dalam lembaran penuh warna dan motif mengusik rasa penasaran Caroline Rika Winata. Setidaknya hal itu telah menjadikannya suntuk bergelut dan berkarya dengan dunia kain sejak 10 tahun yang lalu bersama Wiru, yakni nama yang mewakili karya dan dirinya dalam dunia eksperimen motif dan warna kain.

Bagian lain karya kain dari Caroline yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Bagian lain karya kain dari Caroline yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Caroline memfokuskan diri pada ikat celup dan batik. Wiru adalah salah satu dari perwujudan eksperimen-eksperimen motif dan warna yang selama ini dikerjakan bersama di studionya. Hasil eksperimen tersebut ia terapkan dalam bentuk kain lembaran, selendang, aksesoris, dan pakaian. Ide atau gagasan pengkreasian tekstil diperoleh Caroline dari pengalaman personal yang direfleksikan dalam realitas sosial.

Ketertarikan Caroline pada fashion telah menghinggapi dirinya sejak ia kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia juga mengambil major tekstil pada perguruan tinggi tempat ia menimba ilmu. Dari sanalah Caroline menemukan banyak hal yang saling berkait antara dunia fashion dengan dunia seni rupa. Sejak tahun 1997 Caroline aktif mengikuti pameran dan kompetisi. Ia pernah meraih Juara Harapan I Lomba Batik Internasional pada tahun 1997.

Beberapa kaus hasil workshop di bawah bimbingan Caroline. Foto: A. Sartono
Beberapa kaus hasil workshop di bawah bimbingan Caroline. Foto: A. Sartono
Sebagian karya kain dari Caroline yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Sebagian karya kain dari Caroline yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Eksplorasi kreasi tekstil dengan teknik tie die menjadi hal yang ditekuni Caroline. Tie die atau teknik celup merupakan salah satu teknik yang sangat menarik karena dari ikatan kain yang dicelupkan ke dalam cairan pewarna akan memunculkan suatu motif yang tidak bisa diprediksi sama sekali. Hal ini menjadikan Caroline ingin menyajikan hasil karya atas teknik, eksperimen, dan kreasi daripadanya agar hal itu semakin dikenal oleh masyarakat luas. Pameran dengan tema Tangan Mencintai Kain yang diselenggarakan Caroline di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-11 Juni 2017 merupakan bagian atau cara untuk memperkenalkan hasil karya dan kreasinya kepada masyarakat luas.

Teknik tie die atau teknik pewarnaan celup ikat yang ditekuni dan dikembangkan oleh Caroline merupakan teknik pewarnaan kain primitif. Beberapa ahli menyebutkan bahwa dalam Prasasti Sima yang berangka tahun abad ke-10 disebutkan bahwa di beberapa tempat di Nusantara telah berkembang teknik pembuatan kain yang memiliki pola hias seperti jumputan atau celup ikat.

Suasana pameran Tangan Mencintai Kain oleh Cariline di BBY. Foto: A. Sartono
Suasana pameran Tangan Mencintai Kain oleh Cariline di BBY. Foto: A. Sartono

Secara prinsip teknik pewarnaan celup ikat adalah dengan cara menahan warna masuk ke kain dengan sebuah ikatan. Sekalipun dibuat dengan teknik dan proses yang serupa, corak atau motif yang dihasilkan tidak akan pernah serupa atau sama persis. Bahkan dalam satu lembar kain pun tidak akan demikian. Pada sisi ini kain jumputan menjadi terkesan eksklusif.

Cinta, tangan-tangan yang terampil, kesabaran, ketekunan, kejutan dan rasa akan warna menjadi spirit dalam kain-kain Wiru. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR