Hagnya dan Hagni Berhenti Menuju Kesempurnaan

0
37

Prabu Basukethi ketika muda gemar bertapa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Museum Tembi Rumah Budaya.

Prabu Hagniyara adalah raja raksasa di Endrapura. Ia sedang susah gelisah memikirkan dua anaknya yaitu Ditya Kala Hagnya dan Raseksi Hagni, yang meninggalkan keraton tanpa pamit. Tidak ada yang tahu, mengapa putra dan putri raja itu pergi dan ke mana tujuannya.

Untuk mengatasi kegelisahannya, Sang Prabu memanggil penasihat raja yaitu Resi Wreka dan Patih Kala Bigswa. Kepada mereka berdua, Sang Prabu berharap agar kedua putranya ditemukan. Sang Resi dan Sang Patih sanggup mencarikan dan berjanji jika sudah ditemukan, akan memboyong kembali kedua putra raja tersebut ke keraton.

Dalam waktu yang cukup lama kedua orang kepercayaan raja tidak dapat dengan serta merta menemukan orang yang dicari. Hal tersebut dikarenakan Kala Hagnya dan Raseksi Hagni sedang bertapa di alas Krendhawahana, tempat yang tidak pernah dirambah manusia. Tapa tersebut sebagai sarana untuk memohon, agar dirinya yang adalah rasaksa dan raseksi dibebaskan dari wujud yang mengerikan dan berubah menjadi manusia. Permohonan mereka dikabulkan, ditandai dengan adanya cahaya gumebyar menyilaukan mengiringi datangnya Batara Narada.

Kepada Batara Narada, keduanya mengungkapkan bahwa tujuan bertapa ini untuk sebuah permohonan, yaitu agar raseksa raseksi tersebut berubah wujud menjadi manusia. Permohonan dikabulkan. Hyang Narada menyabda Kala Hagnya menjadi wanita cantik jelita dan diberi nama Dewi Warani. Demikian juga Raseksi Hagni menjadi Retno Wuryati, seorang putri jelita tetapi tuli. Agar menjadi semakin sempurna sebagai manusia, kedua putri tersebut disuruh mencari seorang petapa muda untuk mengabdi kepadanya.

Dalam perjalanannya, Dewi Warani dan Retno Wuryati selalu selisih pendapat karena Retno Wuryati yang tuli itu salah dengar, sehingga menjadikannya konyol dan lucu. Bagi yang kebetulan berpapasan dan mendengar dialog keduanya, pasti akan tertawa. Bahkan seekor celeng (babi hutan) pun tertawa terbahak-bahak mendengar selisih pendapat mereka. Kedua putri tersebut terkejut, takut, dan lari, ada celeng yang dapat tertawa seperti layaknya manusia. Celeng pun mengejarnya. Dan mereka tambah ketakutan, sehingga tidak terpikir olehnya, ke mana kaki harus melangkah.

Tidak jauh dari tempat kejadian, ada seorang yang sedang khusuk bertapa, Raden Basukethi namanya. Ia adalah anak Prabu Basukiswara, raja Wiratha. Ketika sedang gentur-genturnya bertapa, datanglah Bambang Palasara utusan Prabu Basukiswara, untuk membangunkan tapanya. Mengetahui bahwa yang menbangunkan tapanya adalah Bambang Palasara saudaranya, Basukethi pun kemudian menghentikan tapanya. Keduanya berangkulan saling melepas rindu. Selanjutnya Bambang Palasara menyampaikan bahwa dirinya diutus Prabu Basukiswara untuk mencari, dan setelah menemukan mengajak Raden Basukethi pulang ke Negara Wirata. Prabu Basukethi pun menyanggupinya, tetapi tidak sekarang, karena masih ada yang perlu ditunggu.

Prabu Basukethi ketika muda gemar bertapa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Museum Tembi Rumah Budaya.
Prabu Basukethi ketika muda gemar bertapa, buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Museum Tembi Rumah Budaya.

Rupanya yang ditunggu adalah Dewi Warani dan Retno Wuryati. Keduanya datang berlari-lari dikejar celeng. Dengan napas terengah-engah, mereka mohon pertolongan Raden Basukethi. Tidak lama kemudian celeng pun datang dan menyerang kedua putri cantik tersebut. Karena merasa diminta perlindungannya, Basukethi menarik busur serta melepaskan anak panah. Celeng jadi-jadian pun menjerit tertembus anak panah Basukethi. Perlahan-lahan badan celeng lenyap dan berubah menjadi manusia, Sungkara namanya. Ia menjadi celeng karena dikutuk oleh dewa dan sekarang, setelah terbebas dari kutukan, ia memasrahkan hidupnya kepada Raden Basukethi.

Demikian juga Dewi Warani dan Retno Wuryati, mereka berdua mengikuti jejak Sungkara untuk ‘suwita’ mengabdi kepada Raden Basukethi. Sejak berubah menjadi wanita cantik oleh Batara Narada disarankan untuk suwita kepada ksatria yang menjadi petapa. Tujuannya adalah untuk menyempurnakan diri. Dan rupanya kali ini, secara tak terduga, mereka dituntun celeng untuk sampai ke tempat ini, bertemu dengan petapa muda yang akan dapat menyempurnakan Dewi Warani dan Retno Wuryati.

Namun sayang, proses untuk menuju kesempurnaan terhenti di tengah jalan. Ketika penasihat ayahnya yaitu Resi Wreka dan Patih Endrapura Kala Bigswa menemukan dirinya dan mengajaknya pulang ke Negara Endrapura. Ajakan Resi Wreka tidak digubris oleh Basukethi, maka terjadilah perang tanding. Resi Wreka terdesak dan lari meninggalkan peperangan, diikuti oleh Patih Kala Bigswa.

Melihat hal tersebut, Dewi Warani dan Retno Wuryati, tidak terima dengan kekalahan itu. Mengingat bahwa sebelum menjadi putri cantik, selagi masih bernama Kala Hagnya dan Raseksi Hagni, Resi Wreka adalah pamomong mereka. Maka sudah selayaknya keduanya ingin membalas budi dengan cara membela pamomongnya. Nafsu raksasa dalam dirinya pun kembali menyembul ke permukaan.

Maka diputuskanlah untuk berbalik arah, tidak berguru kepada Basukethi, melainkan mengangkat senjata melawan Basukethi. Melihat gelagat yang tidak baik, Raden Palasara dengan cekatan turun tangan membela Basukethi saudaranya, dengan melepaskan panah pusakanya. Anak panah melesat sangat cepat serta menembus dada keduanya. Dewi Warani dan Retno Wuryati jatuh ke bumi. Kecantikan keduanya sirna. Mereka tidak menjadi semakin sempurna melainkan justru kembali ke wujud semula. Sepasang raksasa itu membujur kaku, matanya terpejam untuk selamanya. Mereka memasuki keabadian dengan sifat aslinya, raksasa. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR