Mengenang yang Telah Pergi, Slamet Riyadi Sabrawi

0
141

Satu tahun yang lalu, Slamet Riyadi Sabrawi memberikan 63 puisi karyanya untuk diterbitkan, dan dia minta, kalau bisa, buku sudah terbit sebelum tanggal 12 Juni 2016. Hanya dalam waktu satu bulan buku puisi Slamet Riyadi dipersiapkan untuk terbit, dan pada tanggal 9 Juni 2016, buku tersebut sudah selesai. Tidak menyangka, tidak lama setelah buku puisinya terbit dia meninggalkan kita untuk selamanya..

Maka, ketika buku puisinya dibacakan di Sastra Bulan Purnama bulan Agustus 2016 dia sudah tidak ikut hadir dalam acara itu, padahal Slamet jarang absen di Sastra Bulan Purnama.

Buku Puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi.
Buku Puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi.

Antologi puisi yang diberi judul ‘Garit Terang Di Tubuh Malam’ ini berjumlah 63 puisi, persis seperti jumlah usianya, yang pada tanggal 12 Juni 2016 genap 63 tahun. Tentu, ini bukan antologi puisi yang pertama, sudah ada sejumlah antologi puisi lainnya, termasuk antologi puisi bersama dengan sejumlah penyair lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Antologi puisi ini menunjukkan, bahwa Slamet Riyadi Sabrawi masih terus menulis puisi. Penyair memang, tak bisa lain, harus terus melahirkan puisi meskipun usianya tidak lagi muda. Sebab, kalau berhenti menulis puisi, predikat penyair merupakan ‘kisah masa lalu’, hanya karena dulu pernah menulis puisi, dan sekarang tidak lagi menulis puisi.

Slamet Riyadi Sabrawi sampai usia 63 masih terus menulis puisi, bahkan setiap kali menemukan momentum dia akan mengubahnya menjadi puisi, sehingga momentum itu menjadi sangat puitik. Dalam keseharian, Slamet Riyadi Sabrawi memiliki hobi kuliner. Setiap kali dia berkunjung ke kota mana saja, naluri kulinernya mesti bekerja dan mencari jenis menu yang khas dari kota itu, dan enak. Satu menu, khususnya minuman, yang tak bisa ditinggalkan setiap hari ialah kopi.

Slamet Riyadi Sabrawi ketika membaca puisi di Tembi Rumah Budaya.
Slamet Riyadi Sabrawi ketika membaca puisi di Tembi Rumah Budaya.

Ke mana saja, Slamet Riyadi Sabrawi akan mencari kopi. Sepertinya, kiamat akan segera datang kalau sehari tak minum kopi. Kapan minum kopi, Slamet bisa bercerita jenis kopi yang diminumnya. Jadi, minum kopi bersama Slamet Riyadi Sabrawi, kita bukan hanya menikmati rasa kopi, tetapi mendapat pengetahuan perihal kopi. Untuk memberi tanda pada antologi puisinya sekaligus menunjukkan kegemarannya minum kopi.

Pada Bab I dari antologi puisinya diberi judul ‘Garit Kopi’. Kesan dan pengalaman dia menikmati kopi dia tuangkan ke dalam puisi, sehingga membaca ‘Garit Terang di Tubuh Malam’ puisi pada bab pertama ini kita seperti diberi aroma kopi.

Bab II diberi judul ‘Garit Langit’, tampaknya adalah upaya dia untuk merespon gejala sosial yang dia lihat (dan alami). Gejala sosial itu mengganggu batin dia, atau setidaknya ada ketidakadilan di sana sehingga, sebagai penyair, dia tidak bisa membiarkan gejala sosial itu berlalu begitu saja.

Dalam bab ini, Slamet juga menuliskan puisi suasana, seperti sepi, tepi (an), rindu. Yang menarik, dalam puisi suasana ini Slamet tidak jatuh pada romantisme, melainkan bersentuhan dengan gejala sosial, sehingga puisi suasana yang dia tulis tidak hanya menyangkut perasaan personal, melainkan lebih pada suasana kolektif dan dia ada di dalam suasana itu.

Butet Kertaradjasa, Ons Untoro, Agus Widartono dan Bambang Kusumo Prihandono ketika melayat Slamet Riyadi Sabrawi.
Butet Kertaradjasa, Ons Untoro, Agus Widartono dan Bambang Kusumo Prihandono ketika melayat Slamet Riyadi Sabrawi.

Bab III diberi judul ‘Garit Angka’ dan temanya tidak jauh dari bab sebelumnya, hanya memang diawali dengan puisi berjudul ‘2” dan ditutup dengan puisi berjudul ‘62’. Angka ‘2’ pada dua judul puisi, mungkin untuk menunjukkan jalan hidup yang sekarang dia tempuh.

Dua pertama adalah hidup kesehariannya yang dia jalani bersama istrinya, sebab anak semata wayangnya sudah tidak lagi tinggal bersama. Angka ‘2’ itu juga memberikan kegembiraan atas dua cucunya, yang hampir setiap minggu minta tinggal di rumah eyangnya. Sehingga rasa gembira itu dia curahkan pada dua cucunya.

Angka ‘62’ adalah usia dia saat puisi itu ditulis, dan ketika antologi puisi ini dalam proses diterbitkan, usia Slamet belum genap 63, tapi masih di angka 62. Jadi, angka ‘2’ adalah kegembiraan hidup dari Slamet Riyadi Sabrawi. Memaknai Hari Lahir:

Slamet Riyadi Sabrawi agaknya tidak ingin usianya yang sudah lebih dari 60 tahun lewat begitu saja. Untuk menandainya, dia menerbitkan satu antologi puisi, dan sekaligus sebagai ‘kado ulang tahun’ bagi perjalanan hidupnya. Sebagai penyair yang produktif menulis puisi, Slamet memberi makna pada ulang tahun ke-63 dengan menerbitkan antologi puisi, yang jumlahnya 63 puisi, persis seperti jumlah usianya.

Setiap orang bisa menandai dan atau memaknai hari lahirnya dengan bermacam pilihan acara. Ada yang memperingati hari ulang tahun dengan pesta di tempat-tempat mewah, ada yang melakukan aktivitas sosial dan sejumlah pilihan acara lainnya. Slamet Riyadi Sabrawi memilih menerbitkan antologi puisi, karena pilihan ini memiliki dua sisi yang penting: dokumentasi dan publikasi.

Iman Budhi Santosa, Agus Leylor, Landung Simatupang, Emha Ainun Najib ketika melayat Slamet Riyadi Sabrawi.
Iman Budhi Santosa, Agus Leylor, Landung Simatupang, Emha Ainun Najib ketika melayat Slamet Riyadi Sabrawi.

Pada sisi publikasi, Slamet Riyadi Sabrawi bisa bertemu dengan teman-temannya dan membagikan buku puisinya dan sekaligus dibacakan. Dalam konteks ini rasa gembira bisa dinikmati dan dirasakan bersama. Pada sisi dokumentasi, siapa saja yang menerima buku puisi Slamet Riyadi Sabrawi yang berjudul ‘Garit Terang di Tubuh Malam’ akan segera ingat, bahwa buku itu menunjukkan jumlah usia Slamet Riyadi Sabrawi.

Slamet Riyadi Sabrawi memilih puisi untuk memaknai hari lahirnya, karena dia memang penyair yang tidak berhenti menulis puisi. Akan menjadi aneh, kalau dia memperingati hari lahirnya dengan pesta meriah di hotel mewah, dan tidak bersentuhan dengan puisi atau sastra. Karena puisi memiliki makna, maka peringatan hari lahir Slamet Riyadi Sabrawi 63 tahun, penuh akan makna.

Kini, mas Slamet Riyadi Sabrawi sudah bahagia di surga, dan di tempatnya kini, kiranya puisi masih terus menemani. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR