Hanyut Terbuai Dendang Melayu

1
283

Rancak iramanya seakan mengajak tubuh bergoyang, tabuh suara gendang penghantar semangat untuk selalu berpijar. Mendengar alunan musik melayu, tak heran jika rasa kebersamaan itu kental. Oud, akordion dan biola selalu menjaga agar tak meninggalkan ciri khas melayu sehingga rasa dan penikmatnya larut terbuai dalam suasana.

Said Fakhrur Ar Rozzie berhasil menyuguhkan karya apiknya dalam rangkaian pertunjukan yang bertajuk “Sirih”. Tak kurang selama 90 menit para penonton dibawa dalam irama musiknya. Pertunjukan tersebut berlangsung pada hari Kamis, 8 Juni 2017 bertempat di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Formasi lengkap Sfara Harmonic World Music Chambers. Foto: Indra
Formasi lengkap Sfara Harmonic World Music Chambers. Foto: Indra

Dalam pertunjukan tersebut Said Fakhrur Ar Rozzie tampil bersama Sfaraq Harmonic World Music Chambers, sebuah grup yang ia bentuk pada awal tahun 2017. Grup ini beranggotakan sembilan pemuda yaitu Wildan Eko Prasetyo (biola), Andika Muhammad (biola), Nofriyan Hidayatulloh (oud), Andra Piktor (mandolin & gitar), Rizky Kumala (bass), Angga Joasadya (toa & tambur), Debrian Evryano (perkusi), Dayni Dwi Cahya (bebano, bongo, tambur) dan Said Fakhrur Ar Rozzie sendiri pada malam itu memainkan instrumen akordion dan oud.

Barisan perkusi berperan penting memberi suasana rancak. Foto: Indra
Barisan perkusi berperan penting memberi suasana rancak. Foto: Indra

Riuh tepuk tangan pun terdengar semarak menyambut para pemain dari belakang panggung. Aksi panggung menawan, tata panggung nan dinamis terpadu dengan garapan musik rancak dan hangat, tak diragukan lagi betapa kaya negeri ini. Gebyar warna lampu silih berganti menerangi dan merubah suasana seketika. Bukan saja menarik, namun juga memberi efek dan mengajak penonton larut dalam penjiwaan suatu karya.

Pertunjukkan diawali dengan permainan akordion Said Fakhrur Ar Rozzie. Foto: Indra
Pertunjukkan diawali dengan permainan akordion Said Fakhrur Ar Rozzie. Foto: Indra

Selama menempuh pendidikian di Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Said Fakhrur Ar Rozzie terbilang cukup produktif dalam berkarya. Terbukti dengan beberapa judul karyanya, seperti ; Merindu Di Rantau, Alok Aik Nyawe (2011), Aku, Kau dan Melayu (2012), Titah Takhta, Sanggang-Inside Of Memory (2013), Blukar Punyo Idop, Laut Bak Ghindu (2015), I’m Fine (2016), Nirok Nanggok, After Dark (2017).

Pria kelahiran Tanjung Pinang, 25 tahun silam ini menyampaikan bahwa selalu ada topik pembahasan dalam satu karya, jangan terbuai dengan zona nyaman dan pada intinya, ia dan Sfaraq Harmonic akan selalu rindu untuk berbagi bunyi bersama.

Sesekali bercanda dengan pembawa acara. Foto: Indra
Sesekali bercanda dengan pembawa acara. Foto: Indra

Malam meriah itu menampilkan beberapa nomor karya yaitu, Sanggang-Inside Of Memory, D.A.D, I’m Run-Welai Weloi, Wiwah. Sebuah ungkapan “Akan tumbuh dengan kerendahan hatinya, dengan hidupnya yang memuliakan, tidak mengusik dan mengganggu serta memberi keteduhan bagi kehidupan lainnya” sepenggal kalimat yang dalam tentang filosofi tema pertunjukan malam itu sekaligus karya karya pamungkas berjudul “Sirih”.(*)

1 KOMENTAR

  1. Syabas…
    Trimekaseh untuk prihal berite nye ncik, kmi dari rekan rekan Sfaraq Harmonic ingin bertrimekaseh…
    Mohon dukungan nye untuk kami agar bise trus berkarya dan berbunyi..

TINGGALKAN KOMENTAR