Sihir Dramatari Nyai Dasima Karya Novianti Fachmi

0
125

Panggung dibuka dengan lampu remang-remang dan sedikit fokus pada sebuah bangku panjang dimana di sana dua insan lain jenis bermesraan. Mereka adalah Nyai Dasima dan Samiun yang tengah memadu kasih pada saat malam. Tiba-tiba dari balik gelap malam muncul bayangan hitam berkelebat yang langsung menggorok leher Nyai Dasima. Secepat kilat bayangan hitam lenyap dalam gelap malam. Sementara Samiun kebingungan, sedih, dan marah atas situasi yang dalam sekejap telah mengubah semuanya.

Nyai Dasima (tengah) di antara perempuan lain. Foto: A. Sartono
Nyai Dasima (tengah) di antara perempuan lain. Foto: A. Sartono

Itulah penggal awal dramatari Nyai Dasima yang disuguhkan oleh IKPMB DKI Jakarta Yogyakarta (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Betawi Daerah Khusus Ibukota Jakarta di Yogyakarta), MMTC, dan NNOPS di Gedung Sosietet Militer Taman Budaya Yogyakarta, Senin malam 5 Juni 2017. Pementasan itu untuk menyambut dan memeriahkan HUT DKI Jakarta yang ke-490.

Cinta segitiga Edward William Nyai Dasima dan Samiun. Foto: A. Sartono
Cinta segitiga Edward William Nyai Dasima dan Samiun. Foto: A. Sartono

Drama tari Nyai Dasima diangkat dari kisah yang melegenda tentang Nyai Dasima yang sangat populer di Betawi (Jakarta). Cerita Nyai Dasima ditulis oleh Gijsbert Francis, yang diterbitkan tahun 1896. Kisah Nyai Dasima didasarkan pada kisah nyata seorang gadis simpanan yang bernama Dasima yang berasal dari Desa Kuripan, Bogor. Orang yang memperistrinya secara tidak resmi (gundik) itu adalah seorang pria berkebangsaan Inggris yang bernama Edward William, seorang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles.

Kecantikan dan kemolekan Nyai Dasima menjadi sihir setiap lelaki, termasuk Samiun seorang kusir dokar yang telah beristri, Hayati. Sihir kecantikan Dasima merobohkan iman Samiun yang kemudian menggunakan guna-guna memikat Dasima. Dasima dan Samiun akhirnya hidup serumah dengan Hayati yang membenci Dasima. Akhirnya Dasima minta cerai karena tidak tahan hidup dalam suasana demikian. Samiun setuju dengan syarat harta benda Dasima dari Edward jatuh padanya.

Tari Nandak Ganjen sebagai pertunjukan dramatari Nyai Dasima. Foto: A. Sartono
Tari Nandak Ganjen sebagai pertunjukan dramatari Nyai Dasima. Foto: A. Sartono
Percintaan Nyai Dasima dengan Edward William. Foto: A. Sartono
Percintaan Nyai Dasima dengan Edward William. Foto: A. Sartono

Namun semuanya sia-sia hingga akhirnya Samiun merancang pembunuhan atas diri Dasima dengan menyewa pembunuh bayaran bernama Bang Puase. Demikianlah akhir hidup Dasima tewas di tangan Bang Puase. Pembunuhan dilakukan di atas jembatan bambu Sungai Kwitang. Mayat Nyai Dasima hanyut dan nyangkut di tangga dekat rumah Edward. Pihak gubermen kemudian mengumumkan barang siapa bisa menunjukkan siapa pembunuh Dasima akan diberi hadiah. Kuntum, Munasip, dan Ganip yang diam-diam menyaksikan peristiwa itu melaporkan kesaksiannya. Bang Puase ditangkap dan dihukum gantung. Samiun kabur dan menyembunyikan diri.

Cerita ini di tangan Novianti Fachmi yang seorang koreografer dikreasi menjadi drama tari yang kompak, padat, padu, dan demikian harmonis antarunsurnya. Iringan yang “templek” (menempel-melekat) dan greget pada semua adegan dan bahkan gerak di panggung menjadikan pertunjukan ini sangat nikmat untuk dinikmati. Demikian pun tata gerak, tata lampu yang tampak tergarap dengan baik menyuguhkan pertunjukan yang “kuat”.

Suguhan adegan silat yang identik juga dengan karakter orang Betawi yang menyukai beladiri atau olah raga silat ditunjang kostum, iringan khas Betawinan, dialek MC yang Betawi banget menjadikan “bangunan” suasana kebetawian demikian hidup. Apalagi sebelum penonton memasuki gedung di depan gedung telah ditempatkan dua buah boneka ondel-ondel. Begitu memasuki gedung penonton dimanjakan dengan alunan musik gambang kromong dengan penyanyi almarhum Benyamin S.

Silat Betawi melawan tinju Eropa. Foto: A. Sartono
Silat Betawi melawan tinju Eropa. Foto: A. Sartono

Suguhan di awal pertunjukan berupa Tari Ngarojeng dan Tari Nandak Ganjen mampu menggiring penonton “masuk” ke suasana dan rasa Betawi. Suguhan di pertengahan pertunjukan berupa tampilnya dua pemain yang melucu dengan pantun-pantun khas Betawi dan dialek Betawi yang kental menjadikan penonton sungguh berasa di alam Betawi. Alhasil pertunjukan Nyai Dasima ini boleh dikatakan sebagai pertunjukan yang minim kelemahan dan berhasil baik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR