Membaca Pikiran Soe Hok Gie

0
357

Angkatan 66 adalah salah satu generasi yang menjadi tonggak sejarah Republik Indonesia. Para anak muda yang bergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) mencoba bangkit dan melawan kesewenang-wenangan yang terjadi saat itu. Soe Hok Gie, mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, adalah salah satu tokohnya. Gerakan tersebut berujung pada jatuhnya Orde Lama dan munculnya Orde Baru.

Dalam gerakan tersebut Soe Hok Gie menjadi penghubung antara mahasiswa yang ada di Jakarta dan Bandung. Juga menjadi poros yang mempertemukan beberapa kelompok intelektual muda dengan kelompok militer. Kelompok inilah yang kemudian memegang kekuasaan di masa Orde Baru.

Soe Hok Gie adalah orang yang selalu berusaha untuk bersikap obyektif dalam memandang setiap persoalan. Ia adalah intelektual yang kritis dan selalu gelisah ketika melihat kesenjangan dan ketidakadilan. Sistem atau orang-orang yang pernah didukungnya bisa dikritik secara tajam apabila bersikap sewenang-wenang. Ia tidak protes pada pribadi Sukarno, yang diprotes adalah ketidakadilan dan ketidakjujuran yang merugikan bangsa. Hal ini juga dilakukan saat Orde Baru memegang kekuasaan. Sikap teguh pada idealisme dan jalan lurus selalu dipegangnya dengan konsekuensi “dijauhi” teman-temannya.

Soe Hok Gie juga memandang persoalan dari sisi human, sisi manusianya. Ia adalah seorang humanis universal. Pandangannya luas, penganut paham pluralisme, multikultural dan seorang yang demokratis. Hok Gie bukan saja mengkritisi orang atau kelompok lain, tetapi juga kelompoknya sendiri bahkan dirinya sendiri. Dan semua itu dilakukan dengan konsisten, tanpa peduli nyawa yang menjadi taruhannya.

Soe Hok Gie gemar atau hobi mendaki gunung dan sering mengajak mahasiswa UI untuk naik gunung. Ia katakan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya berada di “menara gading” saja, tetapi perlu melihat keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Dalam perjalanan dan petualangan inilah selain bersenang-senang, juga dapat melihat dan mempelajari keadaan masyarakat. Misalnya ekonomi, sosial budaya maupun pandangan politik masyarakat.

Naik gunung juga membentuk pribadi yang tangguh, kuat, dan rasa solidaritas yang tinggi. Saat di gunung inilah Soe Hok Gie merasa dapat melepaskan diri dari hiruk pikuknya dunia. Dan kecintaannya pada gunung pula yang membuatnya pergi untuk selamanya. Soe Hok Gie meninggal di puncak Mahameru Gunung Semeru tanggal 16 Desember 1969 sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Ia meninggal bersama Idhan Lubis yang berusia 20 tahun.

Soe Hok GieJudul:
Soe Hok Gie… Sekali Lagi
Editor:
Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R
Penerbit:
KPG, 2016, Jakarta
Bahasa:
Indonesia
Jumlah halaman:
xxxi + 512

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here