ART|JOG|10 Dua Perspektif Barat dan Timur 

0
241

Satu dekade ART|JOG mengusung tema Changing Perspective, selain menjadi tajuk kuratorial yang membingkai ART|JOG, tema ini diangkat dengan tujuan ingin mengubah sudut pandang yang telah menjadi lekat pada setiap individu. Selama ini, perspektif biasa didasarkan oleh logika yang bersumber pada rasionalitas otak manusia, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, melalui tema ini menjadi sebuah tantangan dan diharapkan mampu merubah perspektif di luar dari kebiasaan yang biasa dijalani.

Ajang seni tahunan ART|JOG diselenggarakan pada 19 Mei – 19 Juni 2017 bertempat di Jogja National Museum. Tahun ini merupakan kali kedua bagi ART|JOG menempati situs bersejarah yang dahulu merupakan kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Pada tahun ke-10 ini ART|JOG menampilkan ratusan karya dari 73 seniman baik dari Indonesia maupun mancanegara.

'Fashion as A Weapon' karya Hendra 'Blankon' Priyadhani. Foto: Indra
‘Fashion as A Weapon’ karya Hendra ‘Blankon’ Priyadhani. Foto: Indra

Salah satu karya dari seniman Hendra ‘Blankon’ Priyadhani berjudul Fashion as a Weapon. Mode, musik dan gaya hidup merupakan alat pandang terhadap dunia serta segala fenomena yang terjadi. Melaluinya kemudian dapat diinterpretasikan. Seperti busana misalnya, hal ini menjadi pengingat akan banyak hal yang melekat pada seseorang. Banyak tokoh yang populer karena gaya busananya yang kemudian ditiru khalayak luas. Dalam filosofi Jawa terdapat istilah “ajining saliro soko busono, ajining diri soko lathi” yang artinya harga diri seseorang tergantung dari pakaian yang dikenakan dan perkataan yang diucapkan. Dengan demikian pakaian merupakan salah satu media pembawa citra, sehingga mampu menjadi “senjata” bagi pemakainya.

'Life Must Grow' karya RM Soni Irawan. Foto: Indra
‘Life Must Grow’ karya RM Soni Irawan. Foto: Indra

Karya lain yang tak kalah menarik yaitu Life Must Grow garapan seniman RM Soni Irawan. Karya tersebut menggambarkan tentang proses pendewasaan. Baginya hidup seperti bermain gitar. Seorang gitaris yang baik mampu menyeimbangkan antara kemampuan, penjiwaan dan logika. Begitu pula dengan hidup, jika setiap masalah kita selesaikan dengan logika dan feeling yang seimbang, maka kebijakan akan tumbuh.

“Jika di Barat biasa dicari melalui pendekatan ilmu pengetahuan, maka di Timur lebih pada aspek budaya, tradisi dan pengetahuan publik yang kerap dilihat kurang mewakili pengetahuan masyarakat modern secara global. Dua perspektif itulah yang tahun ini coba direspon oleh para seniman ART|JOG, sehingga melalui pendekatan-pendekatan tersebut termasuk kemajuan teknologi, harapannya para seniman memiliki pembaharuan dalam karya mereka melalui berbagai sudut pandang, tidak hanya secara teknis namun juga dalam memaknainya, sehingga diharapkan  bisa melampaui hal-hal yang terjadi sekarang,” ungkap Bambang ‘Toko’ Witjaksono, tim kurator ART|JOG|10. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR