Masyitoh Ibu Suri Gambaran Kekejaman Firaun

0
535

Masyitoh demikian kukuh akan keyakinannya. Apa pun yang terjadi ia tidak akan bergeming dari keyakinannya itu. Bujukan dan rayuan dari putri asuh yang disayanginya, putri Firaun pun tidak mampu menundukkan ketegaran akan keyakinannya. Masyitoh tidak pula hendak memberontak kepada Firaun, namun ia tidak mau tunduk untuk disamakan atau diseragamkan keyakinannya dengan keyakinan Firaun. Ia juga tidak bisa menerima penindasan yang dilakukan Firaun atas budak-budaknya. Keteguhannya akan keyakinannya pada agama Islam yang tidak mau berubah dan tidak mau menyebut Firaun sebagai raja sekaligus tuhannya menjadikan Firaun murka.

Masyitoh dan suaminya tidak gentar dengan ancaman apa pun untuk mempertahankan keimanannya. Foto: A. Sartono
Masyitoh dan suaminya tidak gentar dengan ancaman apa pun untuk mempertahankan keimanannya. Foto: A. Sartono

Cambuk dan deraan pada tubuh Masyitoh tidak menjadikannya gentar. Sekalipun ia kesakitan luar biasa ia tetap bertahan pada imannya. Kegeraman Firaun kian berkobar. Akhirnya suami Masyitoh pun didera. Masyitoh tetap bertahan pada imannya. Demikian pun suami Masyitoh. Keduanya tetap memegang teguh imannya sekalipun cambukan dan siksaan dari prajurit-prajurit Firaun bertubi-tubi menimpa tubuh mereka.

Penari perut menguatkan suasana dan setting dalam drama Masyitoh Ibu Suri. Foto: A. Sartono
Penari perut menguatkan suasana dan setting dalam drama Masyitoh Ibu Suri. Foto: A. Sartono

Akhirnya Firaun menawarkan separuh dari negerinya untuk Masyitoh asalkan Masyitoh mau mengingkari imannya dan hanya menghormati dan menyembah Firaun sebagai raja dan tuhannya. Masyitoh tidak peduli dengan tawaran itu. Bujukan dari putri Firaun yang merasa bahwa Masyitoh sangat berjasa padanya juga tidak dipedulikannya. Akhirnya habislah kesabaran Firaun dan Masyitoh akan dihukum pancung. Ketika pelaksanaan hukuman pancung akan dilakukan, terjadilah gempa bumi hebat di wilayah kerajaan Firaun (Mesir).

Kehidupan yang penuh kegemilangan dunia dalam istana Firaun. Foto: A. Sartono
Kehidupan yang penuh kegemilangan dunia dalam istana Firaun. Foto: A. Sartono

Lakon Masyitoh Ibu Suri yang berasal dari naskah karya Nur Iswantoro ini merupakan penyajian kedua dari Ujian Penyajian Drama Prodi Sendratasik ISI Yogyakarta yang berdiri tahun 2015 yang dilaksanakan di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta, Kamis malam, 1 Juni 2017.

Lakon dengan setting Mesir zaman pemerintahan Raja Firaun ini mampu menggambarkan setting itu melalui properti yang ditampilkan di panggung. Iringan musik khas Timur Tengah melalui organ tunggal, kostum pemain, dan tarian ala padang pasir sepertinya mampu menarik apresian untuk masuk dalam latar belakang dunia kerajaan Mesir masa lalu. Iringan dari perangkat elektronik yang bisa distel, dimasuki berbagi copas rekaman musik melalu flashdisk mungkin memang memudahkan ganti-bergantinya iringan secara relatif cepat.

Para pemain drama Masyitoh Ibu Suri. Foto: A. Sartono
Para pemain drama Masyitoh Ibu Suri. Foto: A. Sartono

Secara keseluruhan pementasan Ujian Penyajian Drama dengan lakon Masyitoh Ibu Suri ini relatif berjalan lancar dan baik. Tampilnya penari ala Timur Tengah memberikan kesan kuat sekaligus jeda selingan yang sangat kontras dengan isi dan maksud cerita tentang ajaran agama Islam seperti yang disampaikan Masyitoh dan tokoh Malaikat. Kontras antagonis Firaun dan protagonis Masyitoh juga menjadi warna kuat dalam penyajian ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here