Nyadran Makam Sewu Perlu Diteruskan Generasi Muda

0
50

Tradisi nyadran Makam Sewu di Pandak, Bantul, DIY merupakan agenda tahunan. Acara tradisi yang diselenggarakan menjelang bulan Ramadhan ini selalu berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung. Untuk tahun 2017 ini Nyadran Makam Sewu dilaksanakan pada hari Senin, 22 Mei 2017 pukul 13.00-16.00 WIB. Nyadran dimeriahkan dengan kirab jodhang dan gunungan dari kantor Kelurahan Wijirejo hingga berakhir di kompleks Makam Sewu.

Nasih gurih lengkap dengan lauknya dalam Kirab Nyadran Makam Sewu siap dibagikan ke pengunjung. Foto: A. Sartono
Nasih gurih lengkap dengan lauknya dalam Kirab Nyadran Makam Sewu siap dibagikan ke pengunjung. Foto: A. Sartono
Gunungan ketan, kolak, apem dalam Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono
Gunungan ketan, kolak, apem dalam Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono

Menurut sumber setempat acara ini telah dilakukan sejak Panembahan Bodo (Syeh Sewu) masih hidup di tempat tersebut. Sekalipun demikian nyadran dengan dilengkapi kirab jodhang dan gunungan baru diadakan sejak tahun 2000. Hal ini merupakan bentuk kreasi baru untuk memeriahkan tradisi nyadran itu sendiri yang sudah berlangsung selama ini. Panembahan Bodo adalah seorang tokoh keturunan Brawijaya V, putra Adipati Pecat Tanda Terung I yang memiliki nama lain, Raden Trenggana yang kemudian bermukin di wilayah Wijirejo Pandak Bantul karena berusaha menghindari konflik-konflik yang terjadi di berbagai kerajaan di Jawa waktu itu. Di tempat ini ia menyiarkan agama Islam dan memiliki ribuan santri.

Sebelum acara puncak berupa kirab jodhang dan gunungan yang dikawal beberapa bregada prajurit tradisional dari dusun-dusun di wilayah Wijirejo, acara didahului dengan seamaan Al Quran, hadroh, dzikir, tahli, doa bersama dan pengajian pada Minggu malam, 21 Mei 2017. Selain itu ada pula dzikir, tahlil, doa dan pengajian pada hari Senin pagi 22 Mei 2017. Untuk lebih memeriahkan acara ini di sekitar kompleks Makam Sewu juga diselenggarakan pasar malam yang berlangsung beberapa hari. Puncak acara dilaksanakan pada hari Senin siang 22 Mei 2017 dengan acara macapatan dan kemudian Kirab atau Arak Jodhang Nyadran Makam Sewu.

Salah satu peserta Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono
Salah satu peserta Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono
Gunungan sayuran dan buah ikut dikirab dalam Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono
Gunungan sayuran dan buah ikut dikirab dalam Kirab Nyadran Makam Sewu. Foto: A. Sartono

Acara puncak dihadiri oleh Muspika setempat, Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Drs H Sunarto SH MM, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, dan Sastra Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Drs Dahroni MM, juga dihadiri oleh Lurah Wijirejo, Murtadho, segenap tokoh masyarakat, tamu undangan, dan masyarakat setempat.

Haryadi selaku ketua panitia dalam acara tersebut menyatakan bahwa acara Nyadran Makam Sewu ini dijadikan wisata religi dan berhasil. Setiap kali acara ini digelar selalu dibanjiri ribuan pengunjung dari Yogyakarta dan sekitarnya. Inti dari acara itu merupakan bentuk bakti kepada leluhur sekaligus mendoakan arwahnya agar diampuni Tuhan dan hidup damai abadi di surga. Selain itu juga merupakan bentuk peringatan bagi yang masih hidup bahwa siapa pun yang hidup juga akan mati. Oleh karena itu hendaknya orang yang hidup selalu berusaha memperbaiki segala perilaku dan tutur katanya agar hidupnya menjadi bersih (suci) sebagai bekal menuju surge jika kelak ia meninggal.

Salah satu bregada prajurit tradisional dari Wijirejo, Pandak, Bantul. Foto: A. Sartono
Salah satu bregada prajurit tradisional dari Wijirejo, Pandak, Bantul. Foto: A. Sartono

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Drs H Sunarto SH MM menyatakan tentang perlunya pemeliharaan kebudayaan dan menularkannya kepada generasi muda. Sebab jika tidak demikian, siapakah yang akan meneruskannya. Di tangan generasi mudalah kehidupan saat ini bisa diteruskan di masa mendatang. Dengan demikian diharapkan para generasi muda tidak kehilangan jati dirinya. Agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR