Karikatur Oom Pasikom Berteriak dalam Bisikan

0
227
Kesaksian GM Sudarta (Oom Pasikom) dalam tayang video di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Kesaksian GM Sudarta (Oom Pasikom) dalam tayang video di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Tokoh Oom Pasikom identik dengan GM Sudarta. Mengapa GM Sudarta memilih nama Oom Pasikom untuk tokoh utama karikaturnya? Nama ini ia ketemukan bersama dengan redaktur senior surat kabar Kompas tempat ia bekerja, yakni Adisubrata. Oom Pasikom merupakan pengulangan berkali-kali dari nama surat kabar Kompas. Si Kompas, Si Kompassi Kompassi Kompas … hingga ditemukan penggalan Pasikom. GM Sudarta menambahkan sebutan Oom dengan mengimajinasikan seseorang yang lahir di tahun 1930-an, yang berdiri di atas angin, yang tidak berpihak kepada siapa saja, independen, sudah berumur, dan tidak masuk angkatan 1966, yang sedang bergejolak waktu itu.

Wajah Oom Pasikom sendiri sesungguhnya merupakan penggambaran deformatif atas wajah Pak Adisubrata. Demikian pengakuan GM Sudarta yang dituliskannya dalam katalog dalam Pameran Karikatur 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom. Pameran yang tidak dapat dihadirinya karena sakit ini diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, 23-31 Mei 2017.

Karikatur Kompas 10 Februari 2005, Jakarta Kota Terkorup. Foto: A. Sartono
Karikatur Kompas 10 Februari 2005, Jakarta Kota Terkorup. Foto: A. Sartono

GM Sudarta menyatakan bahwa hidup itu tidak lepas dari kebetulan-kebetulan. Kebetulan telah dua pertiga hidup GM Sudarta dari tahun 1967-2017, selama 50 tahun bergaul dengan Oom Pasikom. Oom Pasikom adalah sahabat karib teman berdiskusi, bertukar pikiran tentang apa saja, pemberi nasihat, pemberi bisikan kalau ada sesuatu yang tidak beres, juga teman bercanda yang mengasyikkan hingga 50 tahun tetap tidak bikin bosan. Apalagi GM Sudarta dan Oom Pasikom merasa bahwa dunia sekeliling ini lucu sekaligus menyedihkan. Tetapi seperti komedi dan tragedi batasnya sangat tipis, meskipun sedih GM Sudarta dan Oom Pasikom masih bisa menertawakannya, setidaknya melalui gambar yang mengundang senyum.

Karikatur Kompas 17 Oktober 1988 mempersoalkan tambang tembaga dan emas Freeport di Papua. Foto: A. Sartono
Karikatur Kompas 17 Oktober 1988 mempersoalkan tambang tembaga dan emas Freeport di Papua. Foto: A. Sartono

Lebih jauh GM Sudarta menyatakan bahwa Dr Bennedict R.O.G. Anderson menyebutkan bahwa ada dua macam karikaturis, yakni karikaturis yang berani menghadapi kekuasaan dan karikaturis yang sebagian besar mengkritik keadaan sosial dan politik secara “umum” saja dan bergaya lucu. Tidak ada kartun (Indonesia) yang menyasar tentara si Anu yang kebal hukum, penguasa si Anu yang serakah, atau birokrat maling seperti si Anu. Anderson menyebut bahwa kritik model Oom Pasikom adalah pengkritik model “umum”. Namun kedua model kritik itu diperlukan. Tidak ada yang buruk dengan hal itu.

Karikatur Kompas 20 September 2008, Antre Zakat Antre Suap. Foto: A. Sartono
Karikatur Kompas 20 September 2008, Antre Zakat Antre Suap. Foto: A. Sartono

Untuk Indonesia, tidak akan mudah membuat model karikatur Nixon sebagai anjing mengendus Watergate atau Tony Blair sebagai anjing kesayangan George W. Bush yang selalu menyandarkan kepala di bahu bosnya. Hal seperti ini di dunia Barat dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Sedangkan orang Indonesia cenderung tidak senang kalau dikritik. GM Sudarta menyadari benar akan hal itu. Oleh karena itu kemudian muncul guyonan di antara teman-teman GM Sudarta bahwa yang diperlukan adalah “kritik Pancasila”, tidak menyangkut SARA, tepa selira, atau ngono ya ngono nanging aja ngono.

Karikatur Kompas 29 April 2015, Kabinet Kerja. Foto: A. Sartono
Karikatur Kompas 29 April 2015, Kabinet Kerja. Foto: A. Sartono

Ada satu kredo dari Jacoeb Oetama yang dipegang oleh GM Sudarta, yakni bahwa dalam menyampaikan kritik melalui karikatur kita tidak ingin mengubah pendapat seseorang atau untuk revolusi. Kita hanya ingin menyampaikan misi perbaikan. Masalah nantinya bisa baik atau tidak bukan tanggung jawab karikaturisnya. Seperti pendapat Corky Trinidad, kartunis dari Honolulu Star yang menyatakan bahwa kartunis harus berdiri di luar pagar, mengawasi mana dan siapa yang tidak beres. Hal senada juga disampaikan Patrick Oliphant yang mengatakan bahwa kartunis itu ibarat anjing penjaga, yang memberi early warning kalau ada kucing mengendap-endap hendak menerkam seekor burung.

Sekalipun demikian, GM Sudarta menyampaikan bahwa pendapat yang paling tepat dengan dunia karikatur muncul dari Prof Yasuo Yoshitomi, guru besar Kyoto Seiko University yang menyatakan bahwa dengan kartun kita berteriak dalam bisikan bahwa ada yang perlu diperbaiki sebelum kita terlambat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR